Hari ini, kakak-kakak berkumpul dan belajar bersama dalam forum Lingkar Belajar Kakak Smipa jenjang SDB. Kegiatan ini merupakan proses "mengisi" bagi kakak-kakak dalam mendampingi teman-teman di kelas. Mengisi ini bisa bervariasi topiknya. Seperti diskusi tentang numerasi, literasi diri, berkarya, olah rasa, tahap perkembangan anak, dan lain-lain. Kami biasanya diberikan pemantik oleh Kakak Lingkung terkait topik yang dibahas dalam bentuk pertanyaan penggali, atau pun berbagi pengalaman. Lingkar Belajar kali ini membahas tentang tahap perkembangan di 7 tahun kedua.
Tahap 7 tahun kedua ini merupakan tahap pencarian identitas. Di mana anak-anak usia 7-14 sedang mencari jati diri sebagai individu yang mempunyai kuasa atas dirinya dan lingkungannya. Dengan demikian, anak-anak di usia ini punya kuasa akan dirinya untuk melihat orang di luar dirinya harus seperti yang dia pikirkan. Biasanya situasi ini terjadi di kelas. Terkadang mereka memunculkan sikap sesuai persepsinya tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Semua muncul sesuai persepsinya. Seperti menyampaikan bahwa : "Aku pikir kamu begini... begini... begini...", "Aku rasa Kakak tidak mendengarkan pendapatku," dan masih banyak contoh lainnya.
Semua terasa seperti menyudutkan dirinya. Padahal hal tersebut hanyalah dari sudut pandangnya. Kami, sebagai fasilitator biasanya melakukan beberapa pendekatan untuk mengenal anak dalam memahami dirinya sesuai situasi yang terjadi. Hal yang biasa dilakukan :
1. Menanyakan perasaannya (bentuk validasi yang dirasakan anak)
2. Mendengarkan cerita versinya (posisikan kita sebagai ruang aman dan nyaman untuk berbagi)
3. Konfirmasi terhadap situasi yang terjadi (misalnya terjadi salah paham dengan teman lain, kemudian diajak untuk mendengarkan versi temannya)
4. Stay cool dan posisikan netral/ tetap objektif (tidak menyudutkan salah satu pihak)
Kurang lebih begitu menurut pengalaman saya yang bisa dilakukan dalam mengenal emosi anak usia 7 tahun kedua. Jika kita bisa memposisikan diri sesuai situasi yang terjadi, biasanya anak-anak usia ini akan merasa didengar, dan dia akan melihat, merasakan bahwa eksistensi dirinya diakui. Sudahkah kita mendengarkan mereka? Saya sebagai Kakak maupun ibu dari dua anak pun masih banyak belajar dari teman-teman usia 7 tahun kedua ini. Mereka bukan hanya belajar dari saya, tapi saya banyak belajar dari mereka. Tak tanggung-tanggung pelajaran yang mereka berikan melebihi dari apa yang saya berikan kepada mereka. Saya jadi semakin mengenal diri saya sendiri, perlahan tapi pasti semakin bisa mengelola emosi, mengenal dan memahami karakter anak.
Hayu semangat babarengan, Mamu 🤗