Ini cerita saat aku kuliah dulu, saat tugas akhir di fakultasku namanya bukan skripsi tapi karya tulis ilmiah. Sistemnya tiap mahasiswa berlomba "men-tag" dosen yang dituju untuk dijadikan pembimbing 1 dan 2, kalau dosennya profesor boleh 1 saja tidak butuh pembimbing 2. Semester 4 kami semua 250an mahasiswa ambisius ini mulai mengintai dan mengincar dosen favorit. Kategorinya adalah dosen yang ramah, dosen yang bimbingannya cepat, dosen yang memberikan judul penelitian, dosen yang membantu penelitian dan dosen yang membela saat sidang. Rupanya aku yang naif ini kurang bisa membaca situasi jadi aku terlambat memulai kompetisi itu. Mencari dosen baru kulakukan diakhir semester 4.
Rupanya dosen favorit seperti kriteria di atas sudah menipis jadi kami para pejuang yang terlambat memiliki sedikit opsi. Long short story aku dapat slot seorang profesor, rektor pula. Serunya semua kriteria dimiliki oleh pak Profesor tersebut. Bahagianya aku dan 9 orang teman-temanku yang lain. Kapan lagi dibimbing oleh seorang profesor rektor, bimbingan di ruangan VVIP dengan segala kelebihannya dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Semua iri dengan kami. Mahasiswa terpilih. Uhuy
Ternyata kebahagian kami ini tidak berlangsung lama. Entah angin dari mana, suatu skandal perpolitikan di hierarki teratas kampus terjadi. Kabar burung mulai terdengan oleh kami para mahasiswa, kami yang naif ini berusaha santai, hal tersebut tentu tidak akan berdampak pada kami yang sedang sibuk menyusun KTI ini. Lambat laun rasa gelisah kami terbukti. Pembimbing sekaligus rektor tercinta kami harus turun dari posisinya dan mundur juga dari posisinya sebagai dosen.
Berita ini segera sampai ditelinga kami, pengumuman dari prodi tidak kalah menakutkan. Kami harus menemukan dosen pengganti dalam kurun waktu 1 minggu. Betapa merananya kami bersepuluh waktu itu. Jatuh dari langit ke 10. Pengerjaan KTI ini diberi waktu 6 bulan, pengerjaannya paralel dengan perkuliahan. Dari rentang waktu 6 bulan, waktu itu sudah di bulan ke 3 kami harus melanjutkan perjalanan ini dengan siapa?!
Dosen yang tersisa sudah pasti dosen yang paling tidak favorit dan paling paling tidak favorit. Menegak pil pahit dan pil pahit sekali kami lakukan apapun asal lulus. Apalagi setelah sidang kami akan melakukan ujian akhir yang sesungguhnya. Ujian kompetensi materi dan klinis. Tidak ada pilihan bukan?
Aku dan 3 temanku memberanikan diri untuk meminta bantuan bimbingan dengan salah satu dosen itu. Kalau tau profesor Umbridge di Harry Potter dosenku ya seperti itu. Mantap bukan? Bagaimana dengan dosen pembimbing kedua? Yah so so saja benar-benar standar tidak ada kekurangan atau kelebihan. 3 bulan selanjutnya hari-hari melelahkan berlanjut. Semua berkebalikan dengan profesor dulu, kami bertiga kadang meratapi nasib masing-masing dan menyemangati untuk tetap melanjutkan agar semua tetap sesuai jalur, sesuai rencana.
Kesengsaraan kami selama 3 bulan itu begitu traumatik. Aku juga tidak berencana untuk menuliskannya disini karena tidak mau mengingat lagi rasanya. Sampai pada suatu malam, aku pulang ke rumah dengan wajah merana sampai papaku mengelus kepalaku dan berkata "Capek sekali ya Nya? Kamu pasti bisa." lalu aku menangis hahahaha
Yah dari segala hari sialku yang pernah kualami mungkin ini yang paling membekas karena dari 1 kejadian yang sebetulnya tidak berhubungan langsung denganku berdampak besar pada cerita hidupku dulu. Mengerikannya domino effects.
Nuhun buat tulisannya 😊