DI BALIK TOPENG KESEDIAAN UNTUK BERKORBAN
Sedikit berbeda makna dengan judulnya namun satu konsep yaitu sama sama mendahulukan orang lain sebelum diri kita sendiri. Terkadang hal ini baik dilakukan terlebih lagi pada saat antri atau keadaan tertentu ada yang berkebutuhan khusus atau orang yang lebih tua kita akan mengalah, contohnya pada saat ada terdengar sirine ambulance di jalan kita harus minggir untuk memberikan jalur lewat karena ambulance sedang dalam kondisi darurat namun ada juga orang yang tidak mau mengalah dan hanya mementingkan diri sendiri. Hal hal seperti itu terlihat remeh dengan hanya minggir sedikit untuk memberikan jalan pada ambulance namun apa yang terjadi jika pasien pada ambulance tersebut jika tidak sampai pada rumah sakit dengan tepat waktu akan meninggal? Itu akan menjadi luka dan perihal besar.
Ada 1 buku berjudul Awerness yang di tulis oleh Anthony de Mello. Salah satu paragrafnya berisikan "Kesediaan untuk berkorban sebenarnya kepentingan pribadi yang terselubungi di balik topeng altruisme. Anda mengatakan bahwa hal ini sulit untuk diterima, bahwa pada saat-saat tertentu Anda begitu jujur terhadap kebaikan yang ada dalam diri Anda, Anda benar - benar mencoba untuk mengasihi atau benar-benar tulus. Marilah kita coba untuk membicarakan sesederhana mungkin. Marilah kita coba untuk menggambarkannya segamblang-gamblangnya dan seekstrem mungkin, paling tidak untuk awal pembicaraan kita. Ada dua jenis tindakan mementikan diri sendiri. Jenis yang pertama adalah dimana saya memberikan kepada diri saya kesenangan untuk menyenangkan diri sendiri. Hal ini biasa kita sebut sebagai kecenderungan untuk menempatkan diri sebagai pusat perhatian dunia sekeliling. Jenis yang kedua adalah dimana saya memberikan kesenangan kepada diri saya untuk menyenangkan orang lain. Hal ini merupakan tindakan mementingkan diri sendiri yang sudah di perhalus." Dari paragraf tersebut aku tersadarkan bahwa hal ini sering terjadi pada diri ku di keseharian di mana aku lebih melihat kondisi dan mengalah pada orang lain, mungkin terlihat rendahan atau orang bawahan namun konsep mengalah dan mendahulukan orang lain ini bisa memberikan kita banyak pelajaran. Dimana situasi kita pada saat itu berada pada titik terendah dan memikirkan kepentingan orang lain yang seharusnya tidak kita pikirkan. Selain itu paragraf tersebut mengingatkan ku pada cara memegang pisau yang di komentari oleh Kak Leo yaitu "Liat ni Milo dari cara memegang pisaunya". Kak Leo bertanya pada ku, "Kenapa memegang pisau nya seperti itu mil?", Aku menjawab, "Agar tidak melukai orang lain". Sementara gambaran situasi pada saat itu adalah aku sedang mendengarkan Kak Leo berbicara sambil memegang pisau yang sehabis di gunakan setelah memasak, namun aku memegang pisaunya dengan arah mata pisau menuju diri ku sendiri, dan aku menggengam erat pisau tersebut agar tidak melukai orang lain, namun jika terjadi suatu hal maka aku yang akan tersakiti.