Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
βTapi,
yang fana adalah waktu, bukan?β
tanyamu. Kita abadi.
β Yang Fana Adalah Waktu, Sapardi Djoko Damono, 1978
Aku berdiri di atas bebatuan yang kasar, air laut pasang-surut membelai kakiku, bercampur dengan sedikit darahku hasil baretan batu tajam. Semua air yang ada di bumi itu sudah ada sejak pertama bumi terbentuk. Indah membayangkan setetes diriku berbaur dengan itu, meninggalkan jejak. Dari dulu aku selalu ingin meninggalkan jejak. Diingat. Abadi.
Tapi apa itu keabadian? Bukankah sesungguhnya, suatu hari, akan ada akhir dari semuanya? Ketika seluruh atom dalam semesta terpecah (katanya namanya The Big Rip), ketika konsep waktu dan tempat sebagaimana kita ketahui rubuh, ketika jantung dunia berhenti berdetak. Apakah energi benar-benar kekal? Apakah waktu benar-benar kekal? Apakah ada yang benar-benar kekal? Atau apakah semesta hanya satu keseluruhan, yang selalu berubah bentuk, selalu kekal? Memang apa pengaruhnya pada keabadian? Apa pengaruhnya pada kita?
Waktu itu, di tengah pasang-surut air laut, aku berpikir tentang kefanaan. Bahwa aku begitu kecil di semesta, begitu tak berjejak. Tapi juga bahwa, di saat yang sama, aku sangat berjejak. Jejakku kecil, karena aku juga kecil, dan memang aku tak perlu ribut menuntut jejak yang besar. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono banyak sekali yang membahas tentang keabadian, atau lebih tepatnya, persepsi manusia akan keabadian.
Manusia bisa hidup selamanya dalam kenangan, dalam kisah. Kita bisa melihat titik-titik hidup kita dan mengabadikannya sendiri. Bisa lewat seni, lewat inovasi. Tapi tidak perlu hebat-hebat. Kita hanya perlu mengingat terus: debur ombak, tawa di bawah bulan purnama, tetesan embun yang menyisa hingga larut siang. Dan dengan begitu, bagi kita, semua hal itu bisa abadi. Setelah ombak surut, setelah tawa memudar, setelah embun menguap, semuanya masih ada. Yang fana adalah waktu. Kita abadi.
Waaah keren amat ini... terima kasih banyak Ara... ππΌπΌ
terima kasih sudah membaca Kakk
indah sekali penuturannya. Mengajak merenung selembut belai pasir. π
wah terima kasih Kak!