AES115 - Bapak Jeruk Lemon
Ara Djati
Wednesday November 5 2025, 10:40 AM
AES115 - Bapak Jeruk Lemon

Di belokan menanjak ke arah jalan raya ke arah komplek ke arah rumahku, ada sebuah stan sederhana dari bambu dan triplek. Untuk meneduh dari hujan, terpasang sebuah baliho yang dipasak ke tanah kering dengan tali rafia. Lalu, di mukanya, sebuah papan kecil pertuliskan JERUK LEMON.

Bapak Jeruk Lemon duduk di situ sendiri, setengah mengantuk menghisap rokoknya, dengan topi bundarnya dan kumis mengulat di atas bibirnya. Bulat-bulatan hijau-kuning jeruk lemon tertumpuk rapi di hadapannya. Ketika sudah mulai habis, dia merogoh di lemari di kolong meja stannya, menggambil seikat baru jeruk lemon.

Bapak Jeruk Lemon sudah jadi objek amatanku bertahun-tahun. Mengherankan bagiku mengapa dia memilih berjualan di tempat yang begitu aneh. Stannya ada di tikungan tanjakan. Sangat menyulitkan calon pembeli, yang harus mencari tempat parkir di sudut-sudut paling rawan macet dan curam. Namun, entah bagaimana, dia selalu ada di situ bertahun-tahun. Mungkin jeruknya terjual lumayan banyak. Stannya tidak pernah berubah tempat, bentuk, warna, atau apapun. Dia selalu memakai topi yang sama. Ekspresi di wajahnya selalu datar. Ketika dia mengobrol di saung dekat situ, minum kopi dengan bapak-bapak penjual kembang tahu atau tukang parkir, wajahnya tetap datar. Tidak pernah aku melihatnya tertawa. Kegiatannya hanya lima: menjual jeruk lemon, merokok, main HP, makan gorengan, minum kopi.

Kekonsistenannya ini menjadikannya kanvas yang baik untuk berimajinasi. Sepertinya sudah ada lima karya tulis berbeda yang kubuat terinspirasi darinya. Dengan kata-kata, dia bisa menjelma menjadi banyak sekali: seorang yang ceria, seorang yang pemurung, seorang yang melihat filosofi dalam tiap hal, seorang yang melihat hidup sebagai sesuatu yang sederhana saja. Sudah lama aku ingin mendatanginya dan mewawancarainya. Atau bisa juga memberi tahunya, Bapak menginspirasi banyak sekali tulisanku! Tapi kurasa itu akan aneh dan menakutkan dan mengherankan baginya. Kalau ada orang yang bilang begitu padaku, aku akan terharu, bahwa tanpa kuketahui aku punya fungsi tersendiri di dunia. Tapi sepertinya dia hanya akan menganggapku orang aneh.

Suatu hari, stan Jeruk Lemon kosong. Besoknya dia ada lagi. Lalu kosong lagi seminggu penuh, kecuali suatu hari Kamis di mana Bapak Tukang Parkir tidur di atasnya. Lalu dia ada lagi. Lalu, sekarang, dia hilang. Stannya juga hilang. Aku asumsikan ini karena musim jeruk sudah lewat. Ketika jeruk lemon sudah mulai panen berlimpah, Bapak Jeruk Lemon akan kembali dengan kekonsistenannya.

Andy Sutioso
@kak-andy   6 months ago
Terima kasih Ara atas 115 kepingan narasi kehidupan kamu. Yang makin segar atas lemon yang ditambahkan lewat tulisan ini. Semoga tidak berhenti menulis... Boleh terhenti, tapi jangan berhenti. πŸ™πŸΌπŸ€—