Saya memilih bahan obrolan yang agak berat hari ini, semata-mata karena kegalauan yang sudah mulai memuncak melihat berbagai fenomena dan kecenderungan di berbagai lapisan masyarakat. Nah sampai di sini jika teman-teman tidak tertarik untuk ikut berdiskusi tentang perbedaan, tentang polarisasi mungkin saya bisiki bocoran sedikit, jadi sudah diwanti-wanti dan boleh berhenti hahaha.
Yang saya saksikan tidak hanya di tanah air, tapi juga di negara dimana Kano sekarang bermukim karena saya terus terang cukup concern dengan kesejahteraannya. Polarisasi yang terbentuk karena perbedaan pandangan menjadi sebuah fenomena yang menghiasi kehidupan kita sehari-hari. Di Amerika misalnya sejak 1 dekade terakhir ketika president Trump mulai kampanye untuk pemilihan yang pertama menciptakan jurang yang besar antara 2 kubu. Gelombang protes dan ketidak setujuan bermunculan ketika dia menjabat untuk pertama kalinya. Dan fenomena yang serupa terjadi lagi saat ini.
Saya beruntung dilahirkan sebagai anggota kelompok minoritas, bahkan kalau dirinci lebih dalam, saya termasuknya kelompok double minority. Saya mengerti dan dapat menghayati arti dari perbedaan karena saya hidup di dalamnya dan mengalami hingga yang paling detil. Saya mengenal ketidak adilan, pengucilan dan sebagainya. Tidak mudah jadi kelompok minoritas. Sekali-kalinya saya merasa lebih bebas adalah 10 tahun di Hawaii, dimana, walaupun termasuk salah satu states di Amerika, mayoritas penduduk di Hawaii adalah Asia. Saya merasa untuk pertama kalinya bukan anggota kelompok minoritas bahkan merasa sebagai kelompok mayoritas.
Saya tidak ingin terjebak dalam debat antara perbedaan pandangan politik, agama atau masalah suku. Buat saya perdebatan seacam itu tidak akan pernah ada akhirnya selama perbedaan dinilai sebagai satu hal yang negatif. Jika perbedaan dilihat sebagai sebuah kekayaan, sebagai sumber untuk belajar, sebagai sebuah keindahan, baru saya akan ikut rembuk. Nah justru yang terjadi sekarang adalah perbedaan yang menciptakan polarisasi, saling mempertahankan "kebenaran" satu dari yang lain, walau sebenarnya mereka membicarakan sesuatu pikiran yang sangat berbeda, maka tidak akan pernah ada titik temu.
Contoh misalnya perbedaan antara kelompok liberal dan konservatif atau demokrat dengan republikan dalam hal apa yang mereka pikirkan, isi dari keyakinan dan tindakan mereka. Nah, walau kita sebetulnya memiliki pemikiran demi kesejahteraan masing-masing, kita semua memiliki banyak perbedaan. Perbedaan geografis, perbedaan dunia sosial, perbedaan kondisi dan situasi, perbedaan pemikiran dan lain sebagainya. Untuk membuat semuanya itu make sense sama sekali tidak mudah.
Sekarang begini. Kasus di Garut misalnya. Ada kelompok yang mencari nafkah, butuh penghasilan dan pemasukan sehingga menjalankan bisnis makanan. Itu situasi mereka. Sementara pihak lain ingin menciptakan suasana yang nyaman untuk menjalankan ibadah puasa. Lalu pihak yang satu mungkin memaksakan kehendak agar menciptaan kenyamanan terhadap pihak lain yang memiliki kebutuhan. Tidak akan pernah mendapat titik temu sebab mereka membicarakan dua hal yang sangat jauh berbeda. Memaksakan pendapat tidak pernah akan menciptakan situasi yang baik untuk kedua belah pihak sebab dua-duanya jauh berbeda, They are not on the same page! Beda konteks! yang satu membicarakan jeruk dan yang lain membahas apel. Walau dua duanya buah, tapi tetap tidak sama. Jembatan antar keduanya terletak pada sejauh mana mereka mau berkompromi menciptakan situasi dimana keduanya memperoleh kodisi terbaik.
Masalah-masalah perbedaan dan bagaimana menjembataninya memang sangat kompleks. Latar belakang masyarakat juga sangat mempengaruhi. Saya pernah membaca pengalaman seseorang dimana dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang 100% homogen. Perjuangan dia untuk bisa menerima diversity butuh waktu yang sangat panjang. Kedewasaan pribadi juga sangat menentukan disamping tingkat pendidikan, pengetahuan, idiologi, keyakinan lokal dan lain sebagainya. Jika kita hidup di lingkungan yang menolak pakem tertentu, jangan harap kita dengan mudah dapat menjadi terbuka pada hal tersebut. Rasa tidak suka kolektif juga sangat mempengaruhi pandangan seseorang. Banyak sekali dan sangat ruwet, karena itu semua menentukan identitas seseorang. Kalau sudah sampai kepada identitas, ini akan menjadi situasi yang luar biasa rumit.
Kasus semacam ini banyak terjadi di Amerika, terutama di masyarakat yang terpencil. Bukan hal yang aneh di sana banyak kota kecil yang jumlah penduduknya hanya ratusan, homogen dan agak terisolir dari lingkungan sekitar. Itu biasa. Kelompok seperti ini sulit berubah karena misalnya afiliasi politik sudah mendarah daging dan turun temurun. Seperti orang yang terbiasa makan nasi, diberi roti sekarung pun belum bisa dikatakan makan jika belum ketemu nasi. Begitu analoginya. Mereka tidak akan berusaha mencari tahu "kebenaran" alternatif jika bukan merupakan bagian dari keyakinan turun temurun mereka. Nah itu yang sedang terjadi sekarang. Banyak orang konservatif menutup kemungkinan sekecil apapun pendapat yang lain jika bukan merupakan kebijakan kelompok konservatif. Ya begitu itu. Seandainya kita berusaha membuka pikiran mereka, kita seolah-olah berbicara pada tembok. Menggemaskan sekaligus juga membuat galau, sebab seringkali kita yang netral bisa melihat dengan lebih gamblang dibandingkan mereka yang begitu terlibat di dalamnya.
Saya berusaha memahami kondisi yang unik ini. Sangat sulit dapat memahami dan try to make sense karena untuk itu kita harus benar-benar mendalami banyak hal. Terus terang ujung-ujungnya saya pusing sendiri.
Foto credit: soundcloud.com