AES 22 Puisi: Pergi Lagi
Asa
Monday April 21 2025, 9:29 PM

Puisi ini ditulis saat perjalanan dari Surabaya Ke Bandung |18 April 2025 | 12.51 

Pergi Lagi

Kukira, perjalanan kali ini seperti biasa saja

Langkah ringan, tas di pundak, hati tanpa curiga

Namun ternyata, rasanya berbeda  

Ada gemuruh sunyi yang diam-diam bertahta

Tiga tas tergeletak, tak kunjung rapi kutata 

Seolah isinya bukan barang, melainkan rasa

Jadi anak rantau lagi menjadi judul lama yang kembali kubaca 

Setelah cukup lama bersandar di peluk rumah dan seisi cinta

Kali ini bukan sekadar singgah sementara  

Tapi tinggal, berakar, mengukir jejak di kota yang belum akrab suara 

Padahal dulu, aku pernah pergi lebih jauh,  

Sering menyapa kota demi kota yang berlalu

Namun, kali ini lain rasanya  

Seperti ingin menangis di pelukan ibu saat berpamitan di teras rumah

Merangkul adikku erat, seakan dunia hendak berubah  

Mengucapkan “jaga diri,” namun di hati terselip gundah 

Di ruang tunggu Stasiun Pasar Turi

Aku duduk, seperti biasa—mengamati lalu-lalang yang tak henti  

Berharap tak merasa sendiri, meski tak seorang pun mengenali  

Entah menunggu sapa ramah menyapa lebih dulu  

Atau aku yang mulai duluan dengan kalimat pembuka khas penumpang:  

"Tujuan mana?"  

Kali ini, orang lain lebih dahulu menyapa  

Beliau banyak bercerita dan aku senang mendengarnya  

Kisahnya menjelma seperti lagu yang tenang  

Menemani waktu yang perlahan melayang  

Inilah sebab mengapa aku mencintai kereta

Bukan hanya karena rel yang panjang dan suara roda yang merdu,  

Tapi karena orang-orang yang kutemui di antara jeda  

Cerita-cerita baru yang berjejal di tiap sudut ruang tunggu 

Hari itu, dua orang menghiasi perjalananku  

Yang pertama, pria kepala tiga yang ramah

Ia berkisah tentang hidup di lautan luas

Menjadi anak buah kapal, menantang samudra dengan segala cemas 

Sebelas hari dari Indonesia ke China,  

Mengapung di antara ombak, menggenggam asa  

Aku terdiam membandingkan:  

pernah 23 jam Sorong ke Ambon, lanjut 21 jam ke Banda Neira  

Kupikir sudah cukup lama  

Namun laut tak pernah bisa ditakar dengan jam belaka 

Kedua, seorang bapak paruh baya yang duduk bersama anaknya
Beliau bercerita tentang Kota Bandung dan sejuta kenangannya

Seru ya, mendengar kisah orang lain meramu impian

Ada pelajaran, ada kekaguman, ada harapan dalam setiap perbincangan 

Dan aku maknai:  

Semoga perjalanan ini tak hanya baik bagiku sendiri  

Tapi juga bagi mereka yang kusebut dalam doa setiap hari 

Keluarga, sahabat, dan semua yang kelak kutemui 

Biar kutitipkan perasaan yang tak tahu bagaimana kuterjemahkan  

Pada Tuhan yang Maha Paham dan Maha Lembut dalam perencanaan  

Berkahi langkah ini, Asa dengan sejuta asanya  

Lindungi hatinya, jangan biarkan patah dalam gelombang dunia

Hiasi harinya dengan warna-warna ceria  

Senyum yang tulus, tawa yang apa adanya  

Dan bila lelah menyapa

Semoga selalu ada pelukan yang menenangkan jiwa

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
Kak Asa, setelah obrolan sore tadi, semoga dua paragraf penutup di puisi ini menemukan pemaknaannya yang baru. Terima kasih banyak. 🙏🏼😇