AES12 - Upacara Bendera ala Smipa
Asep Ramdan
Tuesday October 17 2023, 6:37 AM
AES12 - Upacara Bendera ala Smipa

Terkadang, sesuatu yang sering dilakukan berulang-ulang, hanya akan jadi seremonial belaka jika luput untuk dimaknai dan dihayati. Itu juga yang saya rasakan saat bersekolah di bangku SD, SMP dan SMA, setiap senin pagi rutin upacara, saking seringnya, setiap minggu, rasa-rasanya 'spirit' upacaranya terasa hilang. Lama-lama muncul kejenuhan, bahkan akhirnya suka ada celotehan diantara teman-teman, saat jenuh mengikuti upacara, sudah saja pura-pura sakit, enak digotong dan disuguhi teh manis, ada juga yang jadi termotivasi ikut Palang Merah Remaja (PMR), supaya bebas tugas saat upacara. Kalau saya mungkin cukup termotivasi, karena biasanya Ketua Murid (KM) dapat jatah jadi pemimpin pasukan atau pas upacara, selalu menyediakan diri untuk terlibat. Tapi jujur, upacara di sekolah itu, kadang terlalu lama, bisa sampai 60-90 menit, tidak salah, tapi mungkin saja menimbulkan kejenuhan jika tidak diolah lebih lanjut.

Nah kalau di Smipa lain lagi, upacara dibuat satu bulan sekali setiap tanggal 17, saat saya mengobrol dengan kak Andy, memang ide upacara satu bulan sekali agar spirit dan pemaknaannya bisa terus terasa, selain itu upacara berlangsung tanpa amanat dan adanya pembina upacara. Tujuannya tidak lain untuk menghayati dan memaknai pengibaran bendera dan unsur-unsurnya, Jadi memang hidangan utamanya ya pengibaran bendera. Kadang sakolebat saya jadi bisa membayangkan para pahlawan yang sudah membela bangsa, dan saya harus berbuat apa untuk mengisi kemerdekaan ini?

Upacara sebagai ruang kolaborasi

Di Smipa, petugas upacara, bukan hanya diembankan pada satu kelas saja, tapi berkolaborasi dengan kelas lain sehingga otomatis menjadi kegiatan 'lintas jenjang', misalnya kelas 6 dengan kelas 3, menurut saya hal ini merupakan hal yang baik, karena kita belajar untuk saling berempati, membagi tugas dengan berimbang dan proporsional, serta bisa juga menjadi ruang berproses anak, misalnya ketika ada anak yang masih belum perlalu percaya diri, Kami beri ruang agar dia bisa tampil dan merasa berdaya. Selain kolaborasi anak, kolaborasi kakak juga mutlak diperlukan, kami perlu belajar berkomunikasi dan berkompromi dan peka membaca situasi supaya prosesnya bisa berjalan baik.

Baju nusantara

Upacara juga semakin semarak dengan dresscode baju bertema nusantara, terlihat beberapa anak ada yang memakai baju batik, pangsi, khas bali maupun papua. Jika memaknai lebih jauh, Smipa mengajarkan kepada kita semua bahwa perbedaan, kemajemukan adalah hal yang indah, seakan-akan berbicara bahwa jangan takut memunculkan keunikanmu. Bahkan, ada juga beberapa orangtua yang sengaja, sewa kostum agar bisa tampil optimal saat upacara. Salah satu kebiasaan saya di kelas selepas upacara adalah mengajak teman-teman bercerita tentang baju yang ia pakai. Beberapa ada yang bercerita, memiliki kain yang diturunkan dari turun temurun, atau menjelaskan jenis dan asal daerah mana baju tersebut. Beberapa yang tidak punya 'sejarah' langsung, kami ajak untuk bercerita darimana dapatnya, kapan belinya atau cerita lain, pelan-pelan ingin merembeskan rasa memiliki tentang budaya dan unsur kedaerahan.

Hari ini, giliran kelas 6 dan KPB yang sedang berupacara, saya melihat sekilas proses mereka latihan, keren dan serius sekali, semoga mereka mampu mengemban tugas dengan lancar dan memberikan kekhidmatan di pagi yang cerah ini. Aamiiin 

  

You May Also Like