AES164 Hujan (Definisi Malas)
carloslos
Tuesday August 19 2025, 9:52 PM

Halo teman-teman yang budiman. Pagi tadi, langit menumpahkan segala keruhnya. Hujan jatuh seperti utusan yang membawa alasan paling sahih bagi siapa pun yang tak ingin bergerak. Saya datang ke sekolah dengan baju lebih rapi dari biasanya. Saking rapihnya, sampai-sampai kancing baju terasa seperti penjaga kehormatan kecil di dada saya. Hari ini kelas saya kebagian tugas, dan saya hanya menjadi penyumbang suara di paduan suara. Bukan tugas besar, tapi tetap saja menuntut persiapan.

Namun apa gunanya persiapan bila akhirnya dibatalkan oleh sesuatu yang begitu sederhana bernama hujan? Upacara batal. Semua latihan suara, semua kerah yang disetrika, semua sepatu yang disikat, runtuh hanya karena air jatuh dari langit.

Lucunya saya sendiri sebenarnya sejak subuh merasa lebih akrab dengan selimut dibanding dengan gagasan tentang bendera. Menarik selimut itu, entah bagaimana lebih mulia daripada menarik tali bendera. Lebih jujur, lebih manusiawi maka ketika hujan benar-benar datang, saya nyaris ingin berterima kasih. Inilah dalih resmi bagi kemalasan saya, yang pagi itu menyaru dalam bentuk air deras.

Tapi bukankah begitu wajah negeri ini? Sedikit saja hujan, semua bisa batal. Upacara, kerja, bahkan mimpi. Hujan selalu dijadikan kambing hitam paling sahih, padahal di banyak tempat hujan adalah berkah dan alasan untuk bekerja lebih giat, bukannya bersembunyi. Tapi di sini, hujan jadi definisi baru dari malas.

Saya jadi berpikir, kalau sebuah bangsa bisa dikalahkan hanya dengan rinai dari langit, bagaimana dengan badai yang jauh lebih besar? Bila sebuah upacara kecil di halaman sekolah saja tunduk pada hujan, apa kabar upacara besar bernama pembangunan, bernama cita-cita?

Hujan teman-teman yang budiman, hanyalah air. Tapi ia sering dijadikan alasan dan bangsa yang terlalu sering berlindung di balik alasan, lama-lama akan terbiasa hidup dalam pembatalan.

You May Also Like