"Maybe in another life." Kata saya
Itu komentar saya ketika kami berdua, Nina dan saya, sedang menyaksikan beberapa episode pengalaman hidup sebuah keluarga yang banyak berpetualang di berbagai negara. Ada episode dimana mereka berusaha menyaksikan Nothern Light atau aurora borealis. Nina dan saya hampir dapat menyaksikan itu, sayang sekali ketika kami berniat mencari justru tidak muncul sementara ketika kami sedang kelelahan dan memutuskan tinggal di rumah, penampakan ajaib itu muncul.
Setiap orang punya mimpi bukan? Saya sering ngobrol tentang ini, bahkan beberapa hari yang lalu saya berbincang tentang gunanya mimpi dan cita-cita sebagai semacam batu pijakan agar kita tetap didorong untuk melangkah maju. Cita-cita itu tidak selalu dapat dicapai, tapi setidak-tidaknya kita bersyukur masih memiliki mimpi dan sesuatu yang dapat diharapkan.
Saya hari ini hanya ingin berrefleksi ringan karena pada hari ini tepat setahun yang lalu kami, Nina dan saya, kembali menjejakkan kaki di bumi Pertiwi, tanah air tercinta. Jujur saja, bukan hal yang kami pilih tapi semata-mata memang itu bagian dari perjalanan hidup kami yang tidak dapat dihindari. We are where we actually have to be. Itu yang harus bisa diterima karena pada dasarnya hidup itu menjadi lengkap jika kita benar-benar menyadari, menerima dan merangkul keadaan saat ini. Tidak ada tempat yang paling sempurna kecuali tempat dimana kita berada sekarang. Itu maksudnya.
Keinginan boleh lain. Itu adalah bagian dari kebebasan kita dalam berpendapat, berkeinginan dan berimajinasi. Bebas! Tidak dilarang. Tapi menerima the present adalah sebuah keharusan. Itu adalah hukum semesta. Mereka yang tidak dapat menerima keberadaan mereka saat ini adalah orang yang katanya tidak pernah bahagia. Tidak dilarang juga jika kita berusaha merubah kondisi saat ini menjadi sesuatu yang lebih baik, itu juga sah-sah saja, tapi untuk bisa mengubah kita tentunya harus mengetahui, menyadari serta merangkul yang ada terlebih dahulu baru kemudian kita berusaha membuat saat yang akan datang menjadi lebih baik dari saat ini. Itu yang kami lakukan!
Itu hal-hal pertama yang kami hadapi selama awal-awal kembalinya kami di Bandung. Merangkul kondisi saat itu, dan berusaha menjadikannya lebih baik. Mudah? Tidak! Sama sekali tidak mudah. Apakah mungkin diperbaiki? Jauh lebih dari mungkin, lihat saja sekarang.
Menerima kondisi saat ini merupakan tindakan awal dari self preseverance. Itu yang saya pelajari dari pengalaman setahun terakhir. Kita tidak harus menghindari ketidaksukaan, kesedihan bahkan kemarahan, itu sebuah reaksi yang wajar dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Sebuah reaksi yang wajar jika kita memiliki perasaan negatif. Siapa yang tidak begitu ketika melihat hal yang kurang menyenangkan? Saya jujur saja begitu, tapi hidup harus terus mengalir dan tidak lalu berhenti di sana. We embrace and own it, kita rangkul, dan kita miliki, lalu do something about it!
Itu masa lalu, sudah lewat dan saya bersyukur bahwa pada akhirnya semuanya baik adanya. Seperti beberapa hari yang lalu saya katakan bahwa all is good at the end. Nah itu langkah awal, jika kita memang memiliki tujuan hidup, our purpose of life, maka sangat wajar kita selalu memiliki pertanyaan: what's next? Nah ini jadi misi yang baru yang harus mulai dipersiapkan. Kita bangun lagi mimpi-mimpi, imajinasi bahkan cita-cita. Itu semacam bensin agar mesin kehidupan kita dapat terus bergerak. Tidak harus ngoyo untuk memaksakan diri agar tercapai, tapi bermimpi itu adalh sesuatu yang menyenangkan, jadi kenapa tidak?
Foto credit: space.com