Halo teman-teman yang budiman.
Tiga minggu lalu saya menuliskan kisah ketika adik saya terbaring lemah karena cacar air. Saya merawatnya dengan hati-hati, berharap penyakit itu berhenti sampai di tubuhnya. Tapi ternyata virus itu punya jalan pikirannya sendiri: ia mampir juga ke tubuh saya. Kini giliran saya yang harus berdiam diri.
Hari ini tanggal 21 September 2025, saya masuk hari ketiga isolasi mandiri. Rasanya aneh, kalau biasanya waktu luang adalah kemewahan yang sulit dicari sekarang saya seperti diceburkan ke dalamnya tanpa bisa menolak. Saya menghabiskan hari-hari dengan menonton anime dan membaca komik, hal yang biasanya harus dicuri-curi di sela kesibukan. Ada nikmat kecil di situ.
Tapi tentu tidak semua terasa indah. Menelan terasa perih, seakan ada duri di kerongkongan. Bercak di selangkangan membuat langkah jadi kikuk. Berjalan pun harus penuh perhitungan, seolah-olah setiap gesekan adalah musuh yang menunggu untuk melukai.
Dan di tengah rasa sakit itu, saya seperti mendengar bisikan:
"Tubuh ini yang kemarin begitu gagah melangkah, kini ditundukkan oleh bintik-bintik kecil. Jalan terasa asing, menelan pun seperti hukuman. Dan aku belajar, betapa manusia sering lupa: sebesar apa pun ambisinya, ia tetap hanya tahan sebatas daya tubuhnya sendiri."
Kadang saya tertawa sendiri, inilah tubuh yang setiap hari saya pakai untuk berlari, bergerak, bercanda. Kini tubuh yang sama bisa menjatuhkan saya hanya karena luka-luka kecil.
"Orang-orang mungkin melihat cacar hanya penyakit kecil. Tetapi ia mengajarkan: rapuhnya manusia bukan pada luka besar, melainkan pada hal-hal sepele yang mampu membuat langkah jadi pincang."
Maka tiga hari isolasi ini bukan hanya tentang bosan atau sakit, ia juga tentang jeda. Tentang waktu yang dipaksa berhenti, tentang kesempatan yang tiba-tiba diberikan untuk menonton, membaca, dan merenung.
"Tiga hari terkurung bukanlah hukuman penjara, melainkan pengingat. Bahwa di luar sana dunia boleh sibuk berputar, tapi aku di sini dipaksa berdiam. Barangkali inilah satu-satunya saat di mana aku benar-benar punya waktu untuk diriku sendiri."
Begitulah cerita singkat saya di hari ketiga, entah apa yang akan saya temui di hari keempat atau kelima. Tapi satu hal yang pasti: bahkan di balik rasa perih cacar air, hidup tetap menyelipkan kisah yang layak dituliskan.