Halo teman-teman yang budiman, seperti tahun lalu saya kembali menulis tentang ibu saya. Entah kenapa setiap Hari Ibu datang, ada semacam kewajiban tak tertulis di kepala saya: “Kamu harus menulis tentang ibu.” Bukan karena tuntutan siapa-siapa, tapi karena rasanya ada sesuatu yang selalu tertinggal jika hari itu lewat begitu saja.
Ibu saya seperti biasa masih sama, suka meledak-ledak kadang saya membayangkannya seperti reaksi kimia yang tak terduga yang bisa tenang dalam satu menit, lalu mendidih di menit berikutnya. Dulu saya sering kesal, sekarang saya mulai belajar memahami: barangkali itulah cara lelah menemukan jalannya sendiri.
Ibu saya semakin tua dan saya pelan-pelan semakin dewasa. Tahun depan saya tujuh belas, angka itu terdengar kecil tapi tanggung jawab di baliknya terasa besar. Rasanya seperti berdiri di ambang pintu: belum sepenuhnya dewasa, tapi tak lagi bisa berlindung di balik kata anak-anak.
Karena itu, saya tahu saya harus lebih perhatian pada ibu. Apalagi ia bekerja dari pagi sampai siang, di perantauan yang jauh dari rumah. Jauh dari kami, jauh dari hal-hal kecil yang seharusnya bisa ia nikmati tanpa perlu meminta. Kadang saya membayangkan ia makan sendirian di sela jam kerja, atau kerja dengan badan lelah tapi tetap menahan cerita agar kami tak ikut khawatir.
Doa saya untuk ibu sebenarnya sederhana, kesehatan, rezeki yang cukup tidak kurang tidak berlebihan. Doa-doa yang mungkin terdengar biasa, tapi justru karena biasa itulah ia tulus. Saya tidak pandai merangkai doa yang puitis, saya hanya ingin ibu tetap ada itu saja.
Dan soal Hari Ibu, saya selalu berpikir begini: hari ini memang perayaan, tapi bukan kewajiban. Tak ada yang benar-benar salah jika seseorang lupa atau memilih tak merayakannya. Hari Ibu seperti kesepakatan diam-diam seperti kita tahu ada, kita ingat, tapi hidup tetap berjalan.
Berbeda dengan ulang tahun ibu, hari kelahirannya selalu terasa lebih nyata punya rasa lebih personal. Hari di mana saya tahu persis: pada tanggal itulah seorang perempuan lahir, yang kelak menjadi ibu saya, yang kelak marah-marah, tertawa, lelah, dan tetap bangun setiap pagi demi anak-anaknya.
Maka jika hari ini saya menulis tentang ibu, bukan karena tanggal di kalender. Tapi karena saya sedang belajar satu hal penting: mencintai orang tua bukan soal perayaan besar, melainkan soal kesadaran kecil yang tumbuh pelan-pelan bahwa waktu berjalan, dan kita tak boleh terlalu sering lupa.
Selamat Hari Ibu, untuk ibu saya dan untuk semua ibu yang mungkin tak pernah meminta dirayakan tapi diam-diam layak diingat setiap hari.