Halo teman-teman yang budiman, dalam proses pembuatan novel saya akhir-akhir ini, saya menyadari satu hal yang mungkin terdengar kecil, tapi diam-diam terus mengganggu pikiran saya. Saya merasa cara paling tepat menyampaikan pendapat kadang justru dengan tidak melihat langsung orangnya.
Mungkin terdengar aneh. Tapi saat berbicara langsung, sering kali ada banyak hal yang ikut masuk: ekspresi wajah, rasa canggung, takut salah bicara, takut melukai, atau takut tidak dipahami. Kata-kata yang awalnya terasa utuh di kepala tiba-tiba menjadi pendek, berubah arah, atau bahkan hilang begitu saja.
Sedangkan tulisan berbeda. Tulisan memberi waktu untuk diam sebentar. Memberi kesempatan pada pikiran untuk duduk lebih lama sebelum berbicara. Barangkali itu sebabnya saya lebih senang mengutarakan sesuatu melalui teks—melalui kalimat-kalimat panjang yang terkadang bahkan saya sendiri baru mengerti maknanya setelah selesai ditulis.
Gagasan saya rasanya selalu tertanam terlalu dalam. Saya perlu menggali lama untuk menemukannya lagi. Kadang seperti mencari barang yang saya simpan sendiri lalu lupa meletakkannya di mana.
Sementara itu, teman-teman saya sekarang sedang menjalani penjelajahan. Saya membayangkan mereka mungkin sedang tertawa di perjalanan, berjalan bersama, bercakap-cakap tanpa terlalu memikirkan hal-hal yang rumit. Barangkali mereka sedang menemukan ritmenya sendiri sebagai satu kelompok—satu harmoni.
Dan saya? Entahlah.
Kadang saya merasa seperti seseorang yang gagal menyajikan hidangan utama kelas sebelas. Seolah ada satu bagian dari pengalaman itu yang terlewat begitu saja. Lalu pikiran mulai bekerja dengan cara yang sering kali tidak membantu.
Apakah saya gagal menemukan "bintang" yang selama ini begitu sering dibicarakan?
Ataukah sebenarnya bintang saya ada, hanya saja cahayanya terlalu redup, terlalu muram, atau terlalu jauh dari jalur yang sudah digambar orang lain?
Saya tidak tahu. Tapi semakin lama saya memikirkannya, semakin saya sadar mungkin saya sedang melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar melewatkan sebuah kegiatan sekolah.
Saya sedang mencoba berdebat dengan sistem yang sudah berdiri lama. Sistem yang punya jalurnya sendiri tentang bagaimana seseorang seharusnya belajar, bertumbuh, dan dianggap berhasil. Dan saya sadar, itu bukan pertarungan kecil.
Karena melawan sesuatu yang besar sering kali bukan soal menang atau kalah. Kadang itu hanya soal bertahan agar diri kita tidak ikut hilang di dalamnya. Jadi doakan saya selamat dari pertarungan ini.
Bukan agar saya keluar sebagai pemenang. Tapi agar setelah semuanya selesai, saya masih tetap menjadi diri saya sendiri.