AES186 Suatu Hari...
carloslos
Thursday May 28 2026, 8:30 AM
AES186 Suatu Hari...

Halo teman-teman yang budiman,

“Suatu Hari.”

Itulah salah satu penggalan judul novel saya. Kalau dipikir-pikir, dua kata itu sebenarnya sederhana sekali. Pendek. Ringan. Hampir terdengar biasa. Tapi semakin lama saya menulis, semakin saya merasa bahwa “Suatu Hari” adalah kalimat yang dipenuhi harapan manusia.

Karena “suatu hari” berarti seseorang masih percaya masa depan ada. Ia adalah cara manusia berbicara dengan waktu. Saat seseorang berkata suatu hari nanti, sebenarnya ia sedang menitipkan keinginannya pada sesuatu yang belum terjadi. Sesuatu yang bahkan belum tentu datang, tapi tetap ingin dipercaya keberadaannya.

Dan saya rasa, saya tidak jauh berbeda dari karakter-karakter dalam novel saya. Saya juga punya banyak “suatu hari nanti.”

Suatu hari nanti, saya ingin pergi ke luar negeri. Melihat tempat yang selama ini cuma saya lihat dari layar dan foto. Merasakan menjadi orang asing di negeri orang, berjalan di jalan yang tidak mengenal nama saya.

Suatu hari nanti, saya ingin menonton konser idol di Jepang. Ya, maafkan saya, saya memang seorang wota. Tapi bukankah setiap orang berhak punya kebahagiaan kecil yang mungkin terdengar konyol bagi orang lain?

Dan yang paling sulit—Suatu hari nanti, saya ingin berdamai dengan diri sendiri.

Kalimat terakhir itu mungkin terdengar lebih sunyi daripada dua mimpi sebelumnya. Karena bepergian mungkin bisa dicapai dengan uang dan waktu. Menonton konser mungkin bisa dicapai dengan usaha dan kesempatan.

Tapi berdamai dengan diri sendiri… rasanya jauh lebih rumit. Kadang manusia bisa memaafkan orang lain lebih cepat daripada memaafkan dirinya sendiri. Kita terus mengingat kegagalan lama, rasa malu lama, ketakutan lama, lalu menyimpannya seperti barang yang tidak pernah benar-benar dibuang.

Dan mungkin itulah alasan mengapa manusia membutuhkan harapan. Karena tanpa “suatu hari nanti,” hidup hanya akan menjadi hari ini yang berulang terus-menerus.

Para pembaca yang budiman, saya rasa kalian pun punya versi “suatu hari” kalian sendiri. Mungkin sederhana. Mungkin besar. Mungkin bahkan terasa mustahil. Tapi tidak apa-apa.

Karena selama seseorang masih bisa berkata suatu hari nanti, itu berarti ada bagian dalam dirinya yang belum selesai berharap. Dan mungkin, hidup memang berjalan dari satu harapan kecil menuju harapan kecil lainnya.