Saya duduk menghadap landasan pesawat terbang yang persis bersebelahan dengan samudra Indonesia. Bandara ini mulai dipenuhi para penumpang walau jika diperhatikan benar-benar, bandara ini tidak seramai tempat-tempat lain yang pernah saya kunjungi. Proses memasuki terminal ini juga sangat sederhana, ringkas, efisien dan tidak banyak memakan waktu seperti jika terbang dari bandara-bandara lain. Saya sungguh menyukai kemudahanannya.
Sudah lebih dari 10 hari saya tidak menulis. Perjalanan ini bagi saya adalah perjalanan yang paling melelahkan sehingga yang biasanya ketika saat-saat rehat dapat menulis, kali ini saya hanya menuliskan beberapa ide yang mudah-mudahan suatu waktu nanti akan dapat saya kembangkan menjadi sebuah cerita atau tulisan menarik.
Petualangan bertujuh kelompok kami sudah menjelang masa-masa akhir. Tinggal 1 tempat lagi di pulau dewata dan hanya beberapa malam yang tersisa sebelum akhirnya kami masing-masing berpencar dan mulai melakukan kegiatan rutin kami masing-masing. Banyak pengalaman seru, tidak sedikit kami juga mengalami beberapa benturan dan masalah. Biasa memang begitu, perjalanan berkelompok pasti ada banyak keseruan dan kesulitan, bahkan perjalanan sendirian atau berdua pun sama. Pada saat dilanda kelelahan, filter kita agak terbengkalai sehingga menimbulkan beberapa peristiwa yang pada saat itu mungkin tidak menyenangkan tapi pada akhirnya akan membuahkan sebuah cerita menarik. Sama halnya dengan dinamika sebuah kelompok yang tentunya tidak pernah membosankan.
Jadwal kegiatan kami memang sangat padat. Ada beberapa acara yang akhirnya kami sisihkan karena kami butuh rehat, bahkan ada saat makan yang kami batalkan karena terlalu dekat satu sama lain tertunda karena beberapa kegiatan.
Saat ini kelompok kami terbagi dua. 4 orang sudah duduk di dalam pesawat menuju Jakarta lalu pindah pesawat dan akan melanjutkan ke Bali, sementara kami bertiga, Kano, Nina dan saya masih harus menunggu sekitar 20 menit lagi jika penerbangan tidak ditunda untuk naik ke pesawat dan langsung terbang ke Bali. Dinamika kami agak lucu juga, pertama kemana-mana bertujuh hingga beberapa hari terakhir mulai berpencar karena punya prioritas masing-masing. Ada yang ingin belanja oleh-oleh untuk keluarga, sementara yang lain hanya ingin minum kopi atau duduk-duduk di ruangan yang sejuk. Komunikasi selalu lancar karena menggunakan aplikasi yang sama. Kalau beda pesawat karena semata-mata kami tidak bisa memesan tiket secara bersamaan, bukan karena "fellowship of the ring is broken" hahahaha
Satu hal yang menarik. Ada sebuah pengumuman agar semua penumpang menghentikan kegiatannya, berdiri dengan sikap sempurna dan kemudian lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema. Hampir semua orang berdiri dengan sikap sempurna dan tidak sedikit yang ikut menyanyi, hanya beberapa yang tengah melakukan berbagai kesibukan penting yang tetap melanjutkan kegiatan mereka. Ini bagi saya baru pertama kali mengalami ini. Saya masih belum tahu bagaimana bereaksi, tapi kalau ingin jujur, terasa gak hambar. Jangan dihakimi dulu, saya mengalami ini juga ketika mendengar lonceng Angelus. Mungkin semuanya tergantung situasi dan kondisi. Sebentar lagi saya harus boarding. Saya akan coba menuliskan pengalaman-pengalaman menarik perjalanan ini ketika kondisi mengijinkan