AES187 Mata Ashita Novel
carloslos
Tuesday June 2 2026, 9:42 AM
AES187 Mata Ashita Novel

Halo teman-teman yang budiman, seperti beberapa tulisan terakhir yang saya buat, saya banyak menjelaskan proses refleksi selama pengerjaan novel ini. Dari hari-hari yang terasa kosong, dari pikiran yang terlalu ramai, dari pertanyaan tentang sakit, kehilangan, kesepian, sampai harapan yang entah kapan akan datang. Dan sekarang, setelah semua itu lewat, novel ini akhirnya selesai.

Meski harus saya akui, sampai tulisan ini dibuat, saya masih harap-harap cemas. Bukan karena naskahnya belum selesai, melainkan karena ia masih tersangkut di percetakan. Rasanya aneh sekali. Sesuatu yang dulu hanya berupa gagasan di kepala, lalu berubah menjadi kalimat, lalu menjadi halaman, sekarang sedang menunggu menjadi benda sungguhan. Buku yang bisa dipegang. Buku yang bisa dibuka. Buku yang mungkin suatu hari akan dibaca oleh seseorang selain saya sendiri.

Judul tulisan ini saya ambil dari bahasa Jepang: Mata Ashita atau また明日, yang artinya “sampai bertemu besok.” Saya suka sekali dengan kalimat itu. Ia bukan perpisahan yang benar-benar selesai. Bukan selamat tinggal yang menutup pintu rapat-rapat. Di dalamnya masih ada janji kecil bahwa kita akan bertemu lagi. Bahwa sesuatu belum sepenuhnya berakhir. Dan mungkin itu juga yang saya rasakan terhadap dunia kepenulisan.

Novel ini boleh selesai, tapi saya tidak ingin meninggalkan menulis. Saya tidak ingin menjadikannya hanya sebagai proyek sekolah, lalu setelah dinilai dan dicetak, selesai begitu saja. Menulis sudah terlalu banyak menampung isi kepala saya. Ia menjadi semacam ruang aman, tempat saya bisa berbicara tanpa harus selalu menjelaskan ekspresi wajah saya.

Sebagai pencapaian pertama saya sejauh ini, saya bersyukur. Bukan hanya karena novel ini selesai, tapi karena saya tahu ada banyak jerih payah yang ikut tertanam di dalamnya. Ada hari-hari ketika saya ragu, ada pagi yang tidak jernih, ada malam yang terlalu panjang, dan ada kalimat-kalimat yang harus digali dari tempat yang bahkan saya sendiri tidak tahu namanya. Saya memang tidak ikut teman-teman saya menjelajahi Temanggung.

Barangkali ada bagian dari pengalaman kelas sebelas yang tidak saya jalani seperti mereka. Tapi lewat novel ini, saya rasa saya tetap melakukan perjalanan. Hanya saja jalannya berbeda. Mereka berjalan melewati tempat-tempat jauh, sementara saya berjalan masuk ke dalam diri sendiri. Dan perjalanan itu, ternyata, tidak kalah melelahkan. Di akhir proses ini, saya ingin bersurat kepada diri saya sepuluh tahun ke depan. Untuk diriku di masa depan, semoga kamu sehat. Semoga kamu masih menulis, atau setidaknya masih punya keberanian untuk membaca apa yang pernah kamu tulis. Semoga sifatmu sudah berubah ke arah yang lebih baik, tapi jangan sampai kamu benar-benar lupa siapa dirimu hari ini.

Suatu hari nanti, ketika kamu membuka novel pertama ini dengan mata telanjang, saya harap kamu tidak malu. Kalaupun kamu tertawa melihat kalimat-kalimatnya, tertawalah dengan lembut. Ingatlah bahwa buku itu dibuat oleh dirimu yang masih belajar, masih takut, masih sering ragu, tapi tetap mencoba menyelesaikan sesuatu sampai akhir. Karena novel pertama mungkin tidak pernah sempurna. Tapi ia selalu menjadi bukti bahwa pernah ada satu masa ketika seseorang berani memulai.

Maka untuk novel ini, untuk perjalanan ini, dan untuk semua tulisan yang belum lahir:

Mata ashita.

Sampai bertemu besok.

Andy Sutioso
@kak-andy   yesterday
Terima kasih Carlos atas catatan proses dan refleksinya. Perjalanan kita masing-masing memang berbeda. Bahkan saat teman-teman sama-sama menjelajah di Temanggung di tempat yang sama. Kak Andy yakin pemaknaannya pasti berbeda. Selamat atas tuntasnya novel kamu. Apapun itu, ini bukan pencapaian kecil. Tak sabar meliterasi Mata Ashita 🙏🏼😊🌿❤️