Sering tidak ya, kita berpikir mengenai asal usul dari hal-hal di kehidupan ini? Aku sendiri sih, agak jarang. Misalnya, berpikir mengenai asal usul dari mobil. Atau tidak, asal usul dari kopi, minuman pagi sehari-hari yang rutin sekali berperan dalam kesegaran tubuh sebelum berkegiatan. Kita ambil saja contohnya kopi. Kopi sendiri, kalau belum tahu, ditemukan di Ethiopia pada abad ke-16. Seorang fakir pada daerah tersebut, menemukan potensi dari biji kopi. Dari sana, ia mengembangkan kopi tersebut dan sesaat kemudian, penemuan kopi bisa terkenali di seluruh Ethiopia. Ketika bangsa penjajah (kolonialisasi) datang, mereka menemukan kopi tersebut, dan membawa rempah-rempah beserta kopi ke tanah Eropa. Dan mulai dari sana, kopi populer. Cerita yang receh seperti contohnya inilah, yang sebenarnya sangat bisa dimaknai. Dengan sebuah cerita terdapatlah proses. Dengan proses kita bisa belajar. Dengan belajar kita bisa berkembang. Adanya perkembangan, membuat kita maju. Kalo Kak Leo membaca kalimat tadi, kayanya sih sebagai ideologis beliau setuju.
Tadi siang, jam 10-12 aku dan seluruh teman-teman KPB mengikuti kelas semesta mengenai design thinking. Apakah design thinking? Design thinking adalah cara kita mencapai sesuatu, yang dimulai dengan membedah akar-akar permasalahannya. Design thinking ini juga bisa dibilang, merupakan metode untuk seseorang berinovasi. Kelas semesta design thinking ini, narasumbernya adalah Kak Mita. Aku kurang tahu beliau siapa, tetapi yang penting beliau merupakan salah satu rekan Smipa yang berasal dari luar Smipa. Buktinya adalah, beliau di-follow kpb smipa, Semipalar, beberapa murid, dan di follow back pula di instagram. Nah, pada awal presentasinya, beliau menceritakan mengenai revolusi industri. Revolusi industri sendiri adalah suatu temuan, yang membawa perubahan besar pada masyarakat, pada setiap zamannya. Misalnya; mesin uap, telepon, komputer, dan A.I. Nah, revolusi industri tersebut adalah inovasi baru pada zaman-zamannya, sehingga membawa masyarakat ke jangkauan lebih tinggi. Penemuan-penemuan tersebut juga memecahkan banyak masalah, kendala, dan hal sebagainya pada zamannya. Pada masa kini, pertumbuhan itu sudah eksponensial, artinya meningkat tajam berkali kali lipat. Dengan pertumbuhan yang eksponensial, hal yang dulunya membutuhkan 100 tahun untuk dikembangkan, sekarang bisa jadi hanya membutuhkan 1 tahun.
Di masa kini, sudah mulai banyak alat-alat yang bena-benar inovatif, meskipun nyaris dari semuanya itu merupakan inovasi yang berasal dari masalah-masalah sekunder cabang. Misalnya, penepuk lalat dijadikan gagang kartu toll, troli, dan masih banyak lainnya yang mungkin belum diketahui. Dalam semua inovasi tersebut pasti ada alasan membuatnya. Misalnya gagang kartu toll, kenapa dibuat? Karena mesin pencet kejauhan untuk dicapai orang-orang. Kenapa kejauhan? Karena gardu toll nya sudah elektronik, beda dengan zaman masih serba-tunai. Masih banyak lagi akarnya, intinya itulah cara kerja sistem design thinking.
Lalu ada slide yang menjelaskan mengenai perbedaan critical thinking, design thinking, dan hollistic thinking. Critical thinking dibutuhkan untuk menyelesaikan satu masalah yang membutuhkan analisis satu arah ataupun satu penyebab. System thinking dibutuhkan kalau ada masalah yang kompleks, dari berbagai sisi. Terakhir, untuk design thinking ini, tujuannya adalah untuk mengubah, menggantikan. Hasil akhirnya adalah inovasi produk yang lebih 'advanced' daripada versi yang saat ini. Terdapat terobosan baru di hasil akhirnya. Mau sesepele apapun pasti akan berguna. Yang kutangkap secara tidak langsung adalah; orang lebih baik dan lebih ingin membeli prototipe terobosan baru yang bisa mengubah kehidupan mereka sehari-hari meskipun belum/tidak sempurna, daripada membeli produk yang sudah sempurna, tetapi tidak menggantikan apa-apa di kehidupan. Misalnya, perbandingannya adalah prototipe mesin cuci piring otomatis, dengan rak piring lengkap. Kualitasnya itu beda, akan lebih menarik sesuatu yang benar-benar 'baru' bagi mereka.
Sekian saja dariku, terimakasih telah membaca.