Matahari panas menyilaukan jendela mobil. Yang tampak hanya kepala-kepala orang bermotor dan padat bangunan di jantung kota Bandung. Aku duduk di kursiku di bagian belakang, karena masih terlalu kecil untuk duduk di kursi depan. Pakaianku mungkin masih seragam TK, dengan kainnya yang oranye hangat, sewarna dengan jeruk dalam genggamanku.
Waktu itu, tiap minggu, aku pergi ke rumah bukan-lewat-darah-tapi-setara-dengan-keluargaku untuk kursus piano dengan setara-dengan-pamanku. Mereka keluarga yang sangat murah hati. Tiap kali aku pulang, aku dibekali dengan sebuah jeruk atau majalah Bobo. Tapi selalu ada jeruk.
Aku selalu bosan dapat jeruk. Aku tidak suka jeruk (sekarang suka). Tapi selalu diberikan jeruk, dan mau tidak mau, aku harus menerima, agar sopan. Kalau lain kali aku minta pisang saja, boleh tidak? Kata ayahku, itu tidak sopan. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal, kalau aku minta dibelikan pisang saja, itu akan lebih menguntungkan: murah, mereka bisa menikmati, aku juga bisa menikmati. Tapi aku tidak pernah minta diberi pisang, karena tidak sopan.
Satu-satunya yang kusukai dari jeruk adalah teksturnya. Lembek-lembek dan empuk, tapi kulitnya tebal. Aku menancapkan kukuku ke dalamnya, menatap cekungan kecil yang kuhasilkan, merasakan air jeruk merembes keluar, membawa dengannya aroma samar sitrus. Ayahku selalu memarahiku. Katanya, kelihatannya seperti busuk. Kataku, โkan kenyataannya dia tidak busuk. Katanya kalau orang dewasa lihat itu, dia akan sangka ini busuk.
Jadi aku tidak lagi bisa menancapkan kukuku ke dalamnya. Jeruk itu harus selalu dalam kondisi prima, sebab akan diberikan kepada siapapun orang dewasa yang kita temui setelah dari rumah bukan-lewat-darah-tapi-setara-dengan-keluargaku. Bukan hanya aku yang bosan dengan jeruk. Ayahku juga bosan, tiap minggu makan jeruk. Ibuku juga bosan, tiap minggu makan jeruk yang ayahku tidak mau karena bosan. Siapapun orang dewasa yang kemudian menerima jeruk-tidak-tampak-busuk itu, mungkin juga bosan.
๐