Seiring pergantian semester pertama ke semester dua tahun pembelajaran sekolah, seiring itu pula estafet kepengurusan OSIS SMP Semi Palar pun beralih. Saat ini kawan-kawan OSIS SMP Semi Palar telah resmi memiliki ketua yang baru dengan struktur kepengurusannya yang baru tentunya. Pada proses sebelumnya, seluruh anggota telah belajar menerapkan prinsip demokrasi yang paling klise. Dari, oleh, dan untuk anggota dalam menyelenggarakan Pemilihan Ketua OSIS dengan gempita. Meski prinsip ini klise didengar namun melalui prinsip ini akan menjamin kebebasan berpendapat dan persamaan hak bagi seluruh anggota OSIS mengajukan dan diajukan sebagai kandidat Ketua OSIS selanjutnya.
OSIS sesuai namanya merupakan organisasi siswa yang berdiri di dalam lingkungan sekolah yang memiliki tujuan mengembangkan potensi, minat, dan bakat siswa, serta melatih kemampuan siswa dalam memimpin dan kesediaan dipimpin. OSIS SMP Semi Palar juga menganut tujuan ini sebagai bagian dari pembentukan bangunan karakter siswa guna memiliki kemandirian belajar yang tangguh. Di sisi yang sama, hal ini bukanlah proses yang sederhana karena pada realitanya siswa dihadapkan pada beragam tantangan yang bersumber dari internal maupun eksternal dirinya. Dengan beragam tantangan inilah para anggota OSIS akan berjibaku mencari dan mengelola solusi yang cocok untuk mereka terapkan selama mereka yakin organisasi ini dapat digunakan dalam mengembangkan potensi, minat, dan bakat serta melatih kemampuannya dalam memimpin dan kesediaan dipimpin.
Antusiasme berkegiatan merupakan pondasi yang perlu dimunculkan bagi setiap anggota OSIS bisa berkegiatan bersama dengan terasa ringan. Ini berarti setiap siswa perlu memunculkan daya dorong internalnya bahkan menjaga konsistensinya dalam pada berbagai bentuk program kerja. Salah satu momen yang saya kagumi pada proses agenda di awal kepengurusan OSIS SMP Semi Palar kali ini adalah suasana atau atmosfer yang penuh gempita. Sorak sorai anggota yang muncul tanpa diberi komando saat mendengar temannya terpilih menjadi salah satu anggota Tim Inti adalah tandanya. Wajah siswa dari nama yang dipanggil dan terpilih pun terlihat sumringah seakan menegaskan kesiapan mereka melanjutkan estafet kepengurusan organisasi. Begitu pula bagi anggota yang bukan terpilih sebagai Tim Inti pun sama bersemangatnya dan terlihat penasaran menantikan giliran memilih Klab OSIS yang hendak dimasukinya.
SItuasi yang menarik dan tak terduga adalah terdapat salah satu Klab OSIS yang sebelumnya kerap memiliki peminat yang tidak sedikit namun kali ini sebaliknya. Saat seluruh anggota bergerak untuk saling mendekat satu sama lain untuk berkumpul sebagai tanda kesesuaian minatnya klab yang hendak dimasuki, nyatanya terlihat hanya dua anggota yang duduk berdekatan di satu area. Berbeda dengan area lainnya yang terlihat lebih dari dua anggota dengan duduk berdekat, bahkan terlihat salah satu klab yang terdapat lima anggota sebagai peminatnya. Saat diamati, dari wajah kedua anggota yang duduk berdekatan itu terkesan panik berpadu rasa bingung, seakan mempertanyakan mengapa mereka saja yang memilih memasuki klab ini. Mereka pun mengungkap pertimbangannya, yakni agar program PORAK (Pekan Olahraga Antar Kelas) OSIS yang legendari itu tetap diselenggarakan. Suatu pertimbangan yang cukup matang selevel murid SMP.
Dengan komposisi anggota yang keduanya berasal dari kelas 7 nampaknya butuh penambahan anggota dari kelas 8. Salah satu pertimbangannya adalah karena kelas 8 yang telah berproses lebih lama perlu melatih kemampuan memimpinnya sebagai koordinator klab. Begitu pula kelas 7 perlu melatih kesediaannya untuk dipimpin sembari mematangkan kesiapannya pada kesempatan berikutnya untuk memimpin. Melalui prinsip sederhana inilah yang dapat memastikan terbangunnnya sikap tanggung jawab juga melatih untuk berkomitmen atas pilihan dan proses yang dilalui. Dari sisi ini dapat ditarik pemahaman bahwa tumbuhnya sikap tanggung jawab dan berkomitmen pada siswa adalah proses yang perlu diupayakan. Prosesnya pun perlu memiliki ruang yang leluasa agar menjamin siswa dapat bereksplorasi atau bereksperimen untuk mendorong kematangan jiwa memimpin dan dipimpin.
Pada dinamika klab OSIS kali ini, di satu sisi muncul kesan yang hendak beromantisme pada klab yang akhirnya perlu berjeda. Di sisi yang sama para anggota memiliki kesempatan untuk mematangkan keterampilan mereka dalam berorganisasi. Sehingga ke depan, mereka akan lebih familiar dalam menghadapi “riak internal dalam pengelolaan organisasi”. Mereka tidak tergopoh-gopoh dalam melihat tantangan yang dihadapi bersama dan semakin lihai merespon situasi yang dianggap tidak biasa bagi organisasi.
#ngacapruk