Selaku anak-paling-senior yaitu Kelas 9, Ekspedisi Kampung Adat, atau kusebut Perjalanan Babakan Lama; baru saja kami laksanakan. Dan... it was fun! Kalian lihat saja blog-blog dari teman-teman aku yang lain, kami masih ingin tinggal saat kami harus pergi. Tentunya disebabkan pengalaman di sana yang sangat berkesan, tempatnya seru, dan kami cepat sekali membangun kebersamaan dengan para warlok2 yang amat ramah. Pokoknya, seru lah.
Nah, karena cerita itu sudah dituturkan- dan untuk mencegah kebosanan karena cerita yang ituu-itu saja, aku ingin meng-cover sisi lain dari perjalanan Babakan Lama; seperti hal-hal luar biasa berfaedah yang kami lakukan selama di sana!
Kenapa, Alfredo? Kenapa harus topik itu yang dipilih? Kenapa dikau melanggar janji yang sudah kita ikrarkan sejak anak-anak?
Karena, eh- (mikir alasan cepet-cepet) -karena sesungguhnya, justru hal-hal tak penting inilah yang membentuk pengalaman EKA (Ekspedisi Kampung Adat. Singkatannya terlalu bagus buat tidak dipakai) bagiku! Setuju, kan? Jadi ini dia kupersembahkan:
(Siap-siap, ambil posisi yang nyaman, ini bakal panjang)
Oke, kita mulai dari yang ringan-ringan dulu. Misalnya, eh… perdagangan hewan ilegal, kurasa? Begini kira-kira ceritanya (sama-sekali-tidak-didramatisir-100%):
Hujan deras. Titik air menusuk bumi Babakan Lama tanpa ampun, terpercik menjadi lumpur. Beberapa hinggap di dedaunan, berkilau jernih bagai kristal, bergelayut jatuh ke tanah saat daunnya terangguk-angguk terkena angin. Baik warga dan petualang Wowei meringkuk di lindungan rumah mereka, bersembunyi dari dingin dan basah.
Sepi. Langkah-langkah bergema di jalanan desa yang becek. Seseorang tertutup jaket berjalan cepat, matanya melirik ke kanan dan kiri sebelum melangkah masuk ke salah satu rumah, ujung pakaiannya berkelebat.
Gelap di dalam, seperti tak ada penghuni. Bagus. Orang itu hati-hati menutup semua tirai, sebelum menengok ke sosok di pojok.
“Bagaimana?”
“Aman. Hujan begini, pada di rumah semua.”
Si orang di pojok mendengus, hati-hati mengintip dari tirai. “Kalau ada yang datang, kubunuh kau.”
“Kau punya janjiku, bos.”
“Kalau begini, kita bisa lanjut.”
Si orang berjaket beringsut antusias sementara orang satunya menggapai kertas dengan malas, menunjukan sebuah poster.
“Ini targetnya, sudah di posisi. Butuh waktu lama buat dapat foto yang bagus, eh. Licin, anak ini. Yakin ingin lanjut berburu?”
“... Bersedia.”
*
Perburuan Ayam.
Unggas lalu-lalang menikmati hidup adalah pemandangan lumrah di kampung manapun, tak terkecuali Babakan Lama. Angsa, bebek, soang, (bedanya apa, sih?) dan tentu saja; ayam kampung! Pejantan berkokok di sana-sini, sedangkan ibu ayam menggiring rombongan anak-anaknya melewati lika-liku jalanan Babakan Lama. Semuanya hidup dalam harmoni bersama warga sekitar. Betapa… menggemaskan.
Nah, sialnya aku orang yang tak bisa hidup dalam damai; mengusik orang lain adalah kewajiban. Dan pedesaan punya siklus hidup yang lamaaaa, aku selalu luntang-lantung bosan saat sore menjejak. Harus ada yang dilampiaskan. Lagi pula, tampaknya memang ada insting alamiah di semua anak saat melihat seekor ayam berkeliaran tanpa khawatir, yang mendorong kaki kami untuk berlari mengejar. Dan aku tak lebih dari seorang anak yang telat dewasa. Karenanya, sejak aku melangkah di desa ini, satu tekad sudah terpatri di benakku:
KEJAR. BURU. TANGKAP.
Aku terlalu percaya diri, rupa-rupanya.
Menangkap ayam terlalu rumit pertama kali. Mereka gesit atau gendut, dua-duanya merepotkan. Dan bahkan yang tambun-tambun jago menyelinap ke tempat yang sulit diraih. Tapi yang paling merepotkan, ada kekhawatiran yang selalu merantai saat mengejar ayam; terutama jika targetnya ayam jantan yang besar-besar; setiap melihat paruh mereka yang lancip. Bukan apa-apa, memang, tapi cukup untuk membuatku melangkah mundur. Ah, intimidasi, klasik. Strategi primitif yang tak kenal waktu. Monyet-monyet kepinteran kayak kita sekalipun tak kebal darinya.
Setelah kegagalan berturut-turut; terlebih sehabis menerima pukulan ke harga diri saat melihat salah satu warga mendemonstrasikan kebolehan mereka menangkap ayam jantan dalam hitungan detik; aku mulai melakukan evaluasi. Mustahil aku bisa mendekati ayam jantan dengan kondisiku yang menyedihkan saat ini. Yang betina juga galak-galak. Anak-anaknya, di sisi lain… (tertawa jahat) Ini bakal seru.
…
Aku terlalu percaya diri, rupa-rupanya. #2
Menyedihkan. Bahkan anak ayampun terlalu lincah bagiku. Mereka kecil, berombongan, ribut- seharusnya gampang ditangkap. Sayangnya, itupun tidak cukup. Aku gagal.
Meski begitu, aku tak menyerah. Walau para bulu-kuning jahanam itu melesat kabur meninggalkan debu, aku tak berhenti mengejar. Berhasil memojokan satu, kabur. Tak apa. Besoknya coba lagi. Dan lagi. Sekali hampir saja, tapi refleks melepaskan saat jariku terlalu dekat dengan paruh. Sial. Tak apa. Terus coba. Dengan tekad dan sedikit keberuntungan, aku berhasil menangkap satu anak ayam yang terpisah dari rombongan. Luar biasa. Setelah puas memamerkannya ke teman-temanku; aku mengembalikannya ke induknya.
Satu keberhasilan, banyak kegagalan. Jauh dari kata puas. Aku masih terus mengasah kemampuanku, mengendap-endap di lorong rumah-rumah. Mengintai dan menyudutkan. Saat hari-hari terakhir, aku bisa menangkap seekor anak ayam di bawah semenit- pisahkan dari teman-temannya, pojokan, tangkap. Temanku cukup menyebutkan nama alias anak ayamnya, aku kembali membawanya dalam sekejap.
Foto si Hitam, korban Farzan yang ke-2. Ditangkap dalam kurun waktu 30 detik. (Tentunya langsung dikembalikan sesudahnya.)
Masih jauh perjalananku untuk menguasai seni menangkap ayam, tapi ini adalah awalan yang bagus. Seandainya kami bisa tinggal di Babakan Lama lebih lama. Aku bisa mengasah kemampuanku lebih baik.
Apa aku seharusnya menghabiskan waktu untuk hal yang lebih berguna? Mungkin. Tapi aku jelas takkan menikmati prosesnya seperti yang ini.
Itu cerita pertama. Lanjut!
Farzan, satu gambar tak muncul. Tolong cek lagi ya. 🙏🏼