Mumpung hari ini ada Hari Belajar untuk Kakak-kakak yang membahas Literasi Diri, dan juga karena ada pengalaman yang membuat saya jadi merefleksikan diri kemarin, jadi ada pemikiran yang mau saya bagikan di sini.
Di pembahasan tentang literasi diri hari ini, ada 4 hal penting yang buat saya menjadi kunci dari literasi diri ini yaitu penemuan diri, pengenalan diri, pengelolaan diri, dan juga kebermanfaatan diri. Seseorang perlu menyadari keberadaan dirinya, lalu mengenal dirinya lebih dalam, dengan tujuan agar bisa mengelola bekal-bekal di dalam dirinya dengan baik agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat untuk sekitarnya. Untuk menjalani semua ini pun ada beberapa metode yang bisa dilakukan, salah satunya adalah meditasi. Dalam meditasi ini kemudian manusia diajak untuk berjarak dari emosi, badan, dan juga pikirannya.
Nah, kemarin ada momen yang cukup berkesan untuk saya. Jadi kemarin saya sedang me time sambil minum teh dan mendengarkan lagu yang sedang suka di kamar. Kemudian tak lama kemudian Mamah saya masuk ke kamar dan memulai percakapan dengan pertanyan, “Zi, Mamah mau nulis, tapi di mana ya?” Lalu saya jawab, “Mau nulis apa? Cerita? Di Wattpad gitu bisa.” (Ini karena Mamah sedang suka webseries My Lecturer My Husband yang awalnya ngetop di Wattpad sebelum akhirnya dibukukan dan dijadikan web series.) “Bukan,” jawabnya.”Yah, yang cerita itu mah lain lagi. Jadi kan gini …” yang kemudian berlanjut menjadi sesi curhat dari Mamah. Inti dari curhat tersebut adalah Mamah sedang kesal dengan temannya yang tidak bisa mendengarkan cerita dari Mamah sampai utuh, dan malah memotongnya dengan memberikan nasihat yang menurut Mamah sangat tidak sesuai dengan kondisi Mamah. Malah Mamah juga menangkap ada nada merendahkan dari temannya saat memberikan nasihat. Sepanjang Mamah bercerita, saya cuma memperhatikan. Tertangkap jelas bahwa Mamah bukan butuh untuk bertanya tentang di mana ia bisa menulis, tapi sedang mencari teman untuk mendengarkan kekesalannya. Saya juga beberapa kali tanpa sadar buka mulut untuk memberikan pendapat saya, tapi saya tutup lagi karena sadar bahwa Mamah cuma sedang butuh didengarkan.
Selama Mamah curhat, saya memperhatikan gerak-geriknya, memperhatikan setiap kalimat yang ia ucapkan, dan saya jadi berpikir, mungkin ini mengapa berjarak dari emosi, pikiran, dan badan kita perlu. Karena kalau saya perhatikan dari rangkaian cerita tersebut, Mamah saya justru sebetulnya sudah mempunyai prinsipnya sendiri, yang jika memang dia sudah merasa aman dan nyaman dengan dirinya, ia tidak perlu merasa terganggu dengan pemikiran teman-temannya tersebut. Karena seperti apa yang Mamah saya katakan sendiri, pengalaman hidup Mamah dan temannya berbeda. Mamah adalah orang yang pernah merasakan bagaimana rasanya kuliah tidak sesuai minat dan akhirnya harus menjalani hidup yang berkelok-kelok. Teman-temannya adalah orang yang - entah memang minat atau tidak minat tapi kemampuan adaptasinya tinggi - bisa menjalani kuliah dan karir yang lurus dan sukses. Otomatis saat Mamah saya bercerita tentang adik saya yang tidak kuliah, akan ada perbedaan sudut pandang antara Mamah dan temannya. Pemikiran Mamah ada benarnya, pemikiran temannya juga sebetulnya ada benarnya, hanya saja masing-masing tidak bisa mengomunikasikannya dengan tepat.
Hal menarik lain yang saya perhatikan, marah ini juga sepertinya tidak berdiri sendiri. Kalau saya perhatikan marah Mamah saya kemarin, dibalik kemarahannya itu ada perasaan malu, rendah diri, bersalah, kecewa, hopeless yang karena ia sedang merasa tersudutkan saat mendengar ucapan temannya, ia membuat benteng pertahanan dengan cara marah.
Dan apa yang Mamah saya lakukan kemarin itu juga pernah saya lakukan. Saya juga memiliki trauma-trauma yang Mamah miliki sehingga reaksi kami pun cenderung mirip. Saya ingat hal yang saya dapat dari beberapa kelas atau bacaan tentang self healing, bahwa betul bahwa kita bukanlah emosi, pikiran atau badan kita. Bahwa sangat mungkin untuk menarik diri kita dari segala emosi, pikiran, atau sakit yang kita rasakan. Terutama untuk masa-masa seperti yang sedang dialami Mamah saya ini. Saat padahal di dalam diri sudah ada petunjuk yang benar, loh. Tapi jadi tidak bisa diekspresikan dengan tepat karena tertutup emosi dan pikiran yang tidak tertata baik. Sehingga ada satu momen dalam proses self healing saya, ada teman yang berkata, “Coba lebih jujur sama diri sendiri. Coba dirasain. Aku sekarang sedang merasakan apa, ya? Coba ngaku sama Tuhan. Yang masih nyisa-nyisa di masa lalu diakui aja, komunikasi ke dalem, dan akui aja.. Oh iya saya memang masih bla bla bla terkait bla bla bla, ngaku sama Tuhan.” Proses ini ternyata panjaaaaaang sekali. Dari sini saya belajar menerima keadaan diri saya saat ini, baik buruknya. Dan pelan-pelan mengenali setiap perasaan yang saya punya. Ibarat pakaian yang mau ditata di lemari, pertama kenali dulu apakah itu baju atau celana atau kaus kaki. Kalau sudah kenal akan lebih mudah untuk kita memasukannya ke laci yang tepat. Dan sewaktu-waktu kita butuh sesuatu mencarinya pun akan lebih mudah.
Salah satu metode yang saya pakai untuk berkomunikasi dengan diri salah satunya dengan menulis. Bahkan tulisannya bukan menulis esai seperti ini tapi betul-betul dalam bentuk percakapan seolah-olah saya sedang dicurhati oleh teman. “Kenapa atuh kamu teh lagi bete? Iya euy aku ketrigger….” yang kalau dibaca lagi setelah beberapa hari membuat saya jadi ketawa-ketawa sendiri tapi juga jadi sadar akan beberapa hal yang membuat saya nyaman dan tidak nyaman. Hal ini juga membantu saya untuk membuat boundaries. Seperti masalah yang Mamah saya alami, kalau saya sudah tahu boundaries saya, saya kenal diri saya yang sejati seperti apa, saya juga akan lebih bisa memfilter apa yang mau saya masukkan ke dalam diri saya.
Saya merasa saya termasuk beruntung karena bisa belajar tentang hal ini. Saya punya keluarga yang memberikan pelajaran luar biasa dari saya kecil hingga dewasa. Baik lewat kebijaksanaan mereka dan bahkan juga dari kesalahan mereka. Saya juga punya kesempatan belajar di Smipa yang sangat concern dengan pengelolaan emosi ini. Namun dulu Mamah saya tidak mendapat referensi yang saya dapat saat ini. Di rumah tidak dapat, di sekolah pun tidak dapat. Maka kalau merujuk ke salah satu pertanyaan yang dilempar di Hari Belajar hari ini, “Apakah sekarang sekolah masih relevan?” (Saya lupa pertanyaan persisnya ini atau bukan, tapi intinya yang saya tangkap kurang lebih begini hahahaha) Untuk saya, yang meyakini bahwa sekolah itu esensinya adalah tempat belajar bersama, dengan pengalaman yang saya tuangkan di tulisan ini, iya sekolah itu masih relevan. Karena kalau yang kita lihat adalah pendidikannya, mungkin sekolah bisa jadi tempat belajar bersama, untuk membantu teman-teman kita mengenali baju, celana, dan kaus kaki mereka itu. Supaya semakin mereka bertambah dewasa, saat baju, celana, dan kaus kaki mereka itu semakin bertambah banyak - dan mungkin akan lebih sedikit waktu yang bisa mereka alokasikan - mereka tetap tahu bagaimana caranya menata itu semua dengan baik dan dapat dengan mudah mengambil apa yang mereka butuhkan.