"Art has endless stories to share" Itu kalimat yang mampir ke benak saya pagi ini. Iseng saya cari informasi siapa gerangan yang pernah mengatakan kalimat itu. Seperti biasa AI langsung memberikan overview. Ternyata katanya tidak ada catatan orang terkenal yang pernah mengatakan itu walau banyak sekali seniman maupun aktor yang menyampaikan ungkapan-ungkapan yang memiliki ide serupa. Seperti katanya Leonardo da Vinci pernah mengatakan bahwa pelukis memiliki semesta dalam pikiran dan tangannya.
Lalu saya mulai berpikir, apakah hanya seni yang begitu? Ternyata tidak juga. Pengalaman hidup juga sama. Silakan perhatikan, ada berapa banyak auto biografi orang-orang terkenal yang sengaja dibagikan? Banyak sekali! Tapi justru lebih banyak lagi yang tidak tertulis. Setiap orang, setiap peristiwa, setiap menit bahkan detik memiliki banyak cerita yang bisa dibagikan.
Pengalaman beberapa hari terakhir ini ketika teman-teman dan saya kehilangan seorang sahabat, itu juga merupakan kisah pengalaman hidup (dan mati) yang bisa dibagikan. Kisah haru, kisah seru ketika kita semua masih bersama menjadi sebuah kenangan penting yang bisa dibagikan. Perhatikan saja ketika berada di rumah duka, berapa banyak diantara kita berbicang dan berbagi pengalaman tentang sahabat kita itu. Banyak sekali.
"Mbak Nina itu dosen yang galak, loh mas Jo!" Kata sahabat saya ini. Duluuuu sekali, ketika sahabat ini masih kuliah, sekitar 30 tahun yang lalu. Saya ingat Herry cerita bahwa kelas yang diajar Nina memiliki kelas pararel yang diajar oleh dosen lain. Dosen lain ini ternyata kurang menarik ketika memberikan kuliahnya, sehingga banyak sekali mahasiswa di kelas itu, termasuk Herry yang menyelinap masuk ke kelas Nina. Alhasil kelas Nina menjadi membludak sehingga banyak mahasiswa yang tidak kebagian tempat duduk dan akhirnya duduk di lantai. Mengetahui ini, Nina merasa tidak adil bagi mahasiswa yang sesungguhnya mengambil kelas dia, karena kelas menjadi tidak nyaman sebab over crowded. "Siapa yang tidak mengambil kelas saya harap keluar. Jika tidak, saya yang akan keluar." Kata Nina. Akhirnya satu persatu mahasiswa dari kelas sebelah keluar dari kelas. Termasuk Herry. Itu ceritanya.
Saya mengenal almarhum sudah sangat lama karena saya sebetulnya sahabat kakaknya. Istri Herry pun sebetulnya pernah menjadi murid saya ketika saya masih menjadi guru. Ayah dan ibu Herry selalu saya panggil Mamih dan Papih, bahkan tidak jarang sepulang kerja saya mampir ke rumah dan langsung ke dapur ambil makanan. Itu bisa jadi cerita seru tersendiri bagaimana saya "diomeli" Papih almarhum (tentunya ini bergurau) karena sebagai seorang tamu bukannya saya say hello, tapi malah langsung nyelonong ke dapur dan mengambil makanan lalu dengan asik sambil makan seenaknya ikut nonton TV yang sedang disaksikan oleh keluarga Herry. Hahaha.. Itu semua menjadi kenangan yang seru.
Nah, peristiwa-peristiwa ini merupakan cerita-cerita yang bisa dibagikan. Sama seperti ketika kita sedang nonton TV. Yang dibagikan di sana adalah cerita dari berbagai sumber, baik kejadian nyata atau karangan belaka yang salah satunya adalah seni. Sederhana saja, di warung sambil makan ketika menunggu anak-anak pulang sekolah, apa yang kita lakukan? Berbagi cerita bukan? Ya begitulah, seperti saat ini saya juga sedang berbagi cerita!
Foto credit: health.harvard.edu