Hari ini saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan yang di inisiasi oleh tim DISADA mengenai Olah Rasa dan Olah Gerak bersama Bude Ratna, seorang praktisi di bidang seni tari. Warga SmiPa tentu tidak asing dengan nama tersebut. Dari pagi hingga sore hari, kami mendengarkan cerita dari Bude Ratna tentang perjalanan sejarah kesenian, khususnya seni tari dan perjalanan Bude Ratna menggaungkan creativ dance yang bermula dari kegelisahan.
Usai mengikuti kegiatan, pikiran saya menerawang jauh ke awal saya bergabung dengan SmiPa, satu tahun lalu. Rasanya seperti menemukan kepingan-kepingan baru yang menggenapi pemahaman saya terkait konsep LITERASI DIRI yang SmiPa komitmen jalankan sebagai bagian perjalanan mencari esensi dan jati diri lembaga maupun warganya.
Sejalan dengan tujuan besar pendidikan di Indonesia, membangun pendidikan karakter berdasarkan kearifan lokal. Melalui tiga aspek, Literasi (kemampuan membaca situasi), Numerasi (kemampuan menghitung resiko), serta Karakter (kemampuan dan keberanian membuat keputusan). Masih hangat di ingatan ketika Kak Andy menyampaikan mengenai tiga kesadaran, SADAR DIRI, SADAR LINGKUNGAN, dan SADAR TUJUAN.
Salah satu titik perhatian di Semi Palar adalah LITERASI, yang tidak sesederhana pada kemampuan menulis atau membaca (yang tentunya sudah tidak diragukan, menjadi salah satu keunggulan Kakak, orangtua, maupun siswa SmiPa). Namun, lebih luas lagi pada kemampuan membaca situasi dan peristiwa, membaca alam sekitar, membaca pengalaman hidup, serta membaca perasaan orang lain. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan membaca atau mengenali diri (badan, pikiran, emosi, serta energi). Dimana, jika hal ini dilatih akan menumbuhkan kesadaran, kepekaan, serta moralitas yang akan menghasilkan manusia beradab dan beretika.
Terhubung dengan apa yang disampaikan Kak Andy terkait gelombang otak manusia, bahwa badan, pikiran, emosi, dan energi merupakan hal yang bisa dikelola oleh setiap individu. Disebutkan bahwa heart (jantung), earth (bumi), dan mind (otak) memiliki gelombang yang selaras. Pada kesempatan itu juga saya sok-sok an menyimpulkan sebuah penemuan:
h-e-a-r-t -> hear, e-a-r-t-h -> ear, keduanya kemampuan mendengar. Dalam meditasi, yang kita dengar dan rasakan adalah b-r-e-a-t-h (nafas). Permainan kata dan huruf, dalam kata heart dan earth maupun breath terdapat kata art (seni) yang mewujud dalam kreatifitas, ruang imajinasi, serta olah rasa.
Saya termasuk salah satu yang mengartikan olah rasa sebagai 'seni' dalam arti kesenian, khususnya seni tari yang terkait dengan kemampuan mengenali diri, mengasah kepekaan dan kesadaran diri. Tidak salah! Namun, saya kembali mencari referensi, dan mendapati bahwa olah rasa lebih diartikan sebagai kemampuan mengontrol emosi dan perasaan. Kemampuan mengendalikan dan mengontrol ini menurut saya ada pada tahapan kemampuan yang tinggi, apalagi jika bisa menyelaraskan badan, pikiran, emosi, serta energi dalam diri. Luar biasa!
Ternyata, kegiatan yang saya ikuti hari ini membuktikan teori dan konsep yang Kak Andy sampaikan dalam pembekalan-pembekalan sebelumnya. Melalui seni tari (olah gerak) dengan bekal dan media diri, kegiatan yang dikemas menyenangkan ternyata banyak hal yang dapat melatih diri untuk mengontrol badan, emosi, pikiran, serta energi. Kita dilatih untuk peka dan menyelaraskan diri dengan ruang, energi, serta waktu melalui gerakan. Tidak kalah penting dari melatih diri, kegiatan hari ini juga banyak menginspirasi saya untuk memfasilitasi teman-teman di semester 2 yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Semangat!! Coba aja dulu!! Semua pasti bisa!! (^.^)
*Kepemilikan foto, Tim DISADA, Bude Ratna, Kak Ririe, Bu Sita (pinjam ya dokumentasinya) (^.^)v
Salam,
Terima kasih ka Fifin buat catatannya tentang Olah Rasa. Jadi catatan penting buat kita semua. 🙏😊
Ditambahkan foto yang dari grup aja ka Fifin - biar ada ilustrasinya. 🙏
Iya, Kak Andy... saya sudah meminta ijin Tim DISADA mau menempelkan salah satu foto yang didokumentasikan kemarin, di tulisan ini.