AES009 Menerima Kebaikan
firdabilqis
Wednesday December 3 2025, 10:12 AM
AES009 Menerima Kebaikan

Saya terpantik oleh sebuah konten beberapa waktu lalu yang kurang lebih berkata, "Mungkin sudah seharusnya kita re-learn bahwa tangan di bawah itu tidak selalu lebih buruk dibanding tangan di atas, bahkan menerima kebaikan itu tidak lagi relevan dengan istilah tangan di bawah."

Dulu sekali, rasanya sangat berat bagi saya menerima kebaikan dari orang. Bukan hanya pemberian, bantuan bahkan pujian pun bingung bagaimana menanggapinya. Seringnya secara refleks akan ditimpali dengan,

"Ah engga, makasih", "Gausah repot-repot" jika ada pemberian atau tawaran pertolongan,

dan  "Aduh engga ah biasa aja" kalau ada yang memuji. Padahal kan bisa saja berucap Alhamdulillah ya, mengembalikan semua pujian hanya kepada Allah yang menciptakan dan memiliki.

Saya ingat ketika kecil, dalam rangka diajarkan mandiri, Ayah saya sering mengajarkan bahwa saya harus bisa apa-apa sendiri, biar nanti kalau beliau berpulang, saya tidak bingung dan kelimpungan. Beberapa kali juga Ayah dan Ibu mengingatkan tidak boleh minta-minta, baru menerima pemberian kalau 'dipaksa'. Seperti pada saat lebaran dan anak-anak disuruh antre oleh orang tuanya saat pembagian THR, saya biasanya dibawa keluar ruangan lalu diajak jajan atau makan.

Namun seiring berjalan waktu kita bertambah dewasa bahkan punya anak sendiri sekarang, ingatan itu masih cukup kuat melekat. Saya tetap kaku menerima pujian, bahkan seringnya saya malah menjawab dengan kalimat yang cukup awkward. Contohnya ketika rekan di kantor memuji ASIP saya ada banyak, sementara ia hanya bisa memerah 2-3 botol saja per hari, saya menimpali dengan, “Ah engga Teh, dikit segini mah” (menunjuk pada 6 botol asip yang sedang saya pindahkan ke kulkas). Sungguh obrolan yang canggung.

Di momen early motherhood memang ada banyak pembahasan yang mendorong para ibu untuk tidak sungkan dan bersedia menerima bantuan. Entah itu kado, hadiah, kiriman makanan, bahkan tawaran untuk gantian menjaga bayi. Awal-awal menjadi ibu memang cukup challenging, dan sebenarnya sangat tidak apa-apa kan ya menerima tawaran yang menyenangkan tersebut?

Kemudian bacaan mengenai stoic di buku Filosofi Teras juga pernah membahas bahwa kalau kita menolak kebaikan, kita sedang ‘melawan aliran natural’ yang sebenarnya malah membuat lelah dan ‘merusak siklus’. Kalau diresapi ya benar juga. Kalau semua orang ingin memberi tapi tidak ada yang menerima, maka kebaikan itu tidak akan terjadi, energinya tertahan bukannya teralirkan. Rasanya hal-hal itulah yang membuat saya akhirnya berlatih menerima kebaikan.

Sejak saat itu, yang saya rasakan setelah menerima semua kebaikan yang datang, ialah energi sangat besar yang membuat saya ingin berbuat baik juga. Seperti ada kelegaan ketika sudah menjadi ‘penerima kebaikan’. Tidak berhenti di situ, aliran energinya berubah menjadi doa dari saya untuk si pemberi, yang membuat hati semakin lebih hangat. Menjadi kenangan manis, mood booster, tidak jarang juga menginspirasi saya untuk berbuat kebaikan. Mungkin jika energi tersebut bisa dilihat, alirannya seperti air sungai yang tenang, tidak memaksa, tapi bergerak terus menghidupi alam sekitarnya.

Kini saya jauh lebih bisa memaknai kebaikan itu sebagai kepanjangan tangan Tuhan. Yang dengan menerimanya tidak lantas membuat saya lemah atau lebih rendah dari pemberi, melainkan menjadi penyambung tongkat estafet untuk mengalirkan kebaikan tadi pada siapapun yang memungkinkan. Saya bahkan tidak lagi canggung menerima pujian, akan saya balas dengan ucapan terimakasih, syukur pada Allah, dan balasan pujian untuk lawan bicara untuk mengapresiasi 'kehadirannya'.