Kalau dipikir-pikir, awal mula saya menulis di AES ini dan menyelesaikan tulisan ke 1-9, saya masih menjalani pekerjaan full time. 8 jam sehari, commute 4 jam PP seminggu dua kali, sisanya bekerja di rumah atau di manapun yang ada koneksi internet. Selain itu, saya masih pumping dan menyiapkan asip untuk Kian. Ditambah kegiatan-kegiatan lain yang kini sudah tidak saya lakukan. Tapi tulisan ke 10 baru saya selesaikan beberapa hari lalu, saat tiba-tiba saja mengingat kapan terakhir kali saya menulis? Hidup memang lucu.
Dulu orang bilang, kalau waktu tidak terasa, atau terasa sangat cepat, artinya kita sedang sangat menikmati hidup. Rasanya saya setuju sampai kemudian kenal dengan yang namanya 'deadline' di bangku kuliah, lalu kerja. Kalau sedang banyak tugas dan ujian, rasanya waktu malah berlalu sangat cepat, hingga harus begadang, atau mengorbankan waktu 'leha-leha' untuk menyelesaikannya. Tiga bulan lalu, saat saya 'terjebak' sebuah proyek yang dikira santai dan leyeh-leyeh namun nyatanya tidak, entah kenapa waktu terasa sangat cepat. Kok sudah jam 11 siang lagi? Kok sudah waktunya daily call lagi? Kok sudah jam 4 lagi? Kok sudah pagi lagi? (ini saya gumamkan ketika terpaksa harus begadang, oh no! not again). Saya jelas tidak menikmati 3 bulan kemarin, atau momen ketika dikejar deadline kampus, tapi waktu nyatanya seperti berlari meninggalkan saya.Β
Lalu ketika saya mengurusi Saka dan Kian dari newborn hingga mereka besar, saya masih ingat rasanya hari terasa sangaaaat panjang. Hal yang dirindukan adalah waktunya Bangkit pulang atau selesai kerja, serta bed time supaya saya bisa 'bernapas' sedikit. Tapi lihat sekarang? Saka tiba-tiba sudah mau masuk SD saja, dan Kian? Baru saja kami daftarkan masuk Playgroup. Mungkin benar orang bilang, dalam membesarkan anak, rasanya hari terasa panjang, tapi tahun terasa singkat. Days are long, and years are short.
Jadi waktu itu apa?Β
https://ririungan.semipalar.sch.id/tags/waktu
Ternyata cukup banyak warga Smipa yang sempat menuliskan sesuatu tentang waktu. Salah satu misteri besar di kesemestaan kita. Tulisan Firda membawa saya ke ingatan waktu anak-anak masih kecil. Ya memang setelah anak-anak sudah dewasa, waktu serasa lebih leluasa. Di sisi lain ada kehilangan besar juga dari kehadiran mereka. Seperti yang Firda tulis di esai sebelumnya. Kehadiran Ayah dan saat-saat kepergian beliau. Orang-orang terdekat memang punya sesuatu yang tidak terjelaskan - tidak terpisahkan. Sepertinya mereka inilah yang disebut dengan jiwa-jiwa terpilih yang melengkapi jiwa kita ya... ππΌπ
Betul Kak Andy, misteri di antara persimpangan apakah kita taking for granted waktu yang diberikan, atau memang 'segitu' jatahnya? Tapi setuju dengan kalimat terakhir itu... sebentar atau lama, kehadiran jiwa-jiwa yang sudah pergi maupun sekarang bersama memang untuk saling melengkapi