Lelah itu relatif, katanya si begitu.
Entah kata siapa namun aku pernah dengar hal itu, lelah itu relatif. Mungkin bagi aku melakukan olahraga ini selama sejam melelahkan, tapi bagi orang lain belum tentu melelahkan, jadi lelah itu relatif.
Akhir-akhir ini aku cukup lelah dengan jadwal kegiatanku yang cukup padat, terutama dua hari kebelakang. Rasanya pekerjaanku banyak sekali dan gak beres-beres, ya kalau dilihat dari AES sih aku bolos selama dua hari. Cukup kesal karena tidak bisa menulis AES kemarin, sebenarnya aku sudah berencana untuk menuliskan AES pada malam hari namun aku ketiduran di sofa depan TV setelah pulang di sekitar pukul 20.30-an. Aku lelah selama dua hari kemarin, sebuah fenomena yang tidak terlalu sering aku alami akhir-akhir ini.
Banyak faktor-faktor yang membuat diriku lelah, salah satu faktor utama adalah karena tidak tidur siang. Setelah masuk KPB aku menjadi lebih sering tidur siang setelah pulang sekolah, walaupun artinya menunda perkerjaan namun tidur siang membuat aku lebih semangat dan produktif. Hari ini aku cukup lega dan leluasa karena sekolah sudah selesai dan tidak ada agenda-agenda melelahkan yang harus aku lakukan, jadi hari ini aku banyak istirahat. Kalau diperhatikan kembali aku sulit sekali untuk me manage waktu istirahatku, mungkin lebih tepatnya kerjaanku. Karena seringkali aku kesulitan untuk memetakan perkerjaan-perkerjaan yang harus aku lakukan, dan kadang ditunda.
Menyebalkan menjadi seseorang yang selalu saja lelah, dan memerlukan tidur siang. Karena seringkali banyak rencana hari tersebut yang gagal akibat kelelahan. Namun apa yang bisa kita perbuat selain istirahat, kadang aku juga berpikir bahwa tubuhku perlu istirahat dan mestinya aku sadar untuk memberikannya istirahat. Lama-kelamaan kesadaran tersebut juga tertanam sih, semakin mengenali kebutuhan diri dan memetakannya merupakan proses yang panjang karena selalu berganti seiring waktu berjalan. Tantangan yang unik, nampaknya aku masih harus terus merenung memetakan kebutuhan diri.