Sekitar seminggu sebelum pementasan saya dan suami mendapatkan undangan untuk menyaksikan pertunjukan anak kami di kelas Karinding. Ketika ditanya bisa hadir atau tidak, kami menjawab Insyaallah hadir. Semakin mendekati waktu pentas, pertanyaan bisa hadir atau tidak dari berubah menjadi kalimat pertanyaan yang penuh dengan tekanan: “Bisa datang kan?”. Saya dapat merasakan, betapa anak kami sangat ingin kedua orangtuanya hadir menyaksikan pementasan wayang. Setiap hari hingga sehari sebelum pementasan wayang, saya terus ditanya “Bisa datang lengkap kan Mamah-Papah?”
Hari pementasan pun tiba. Sesaat sebelum pementasan wayang dimulai, kami orangtua, para undangan dipersilakan untuk memasuki Bengkel SMIPA yang disulap menjadi ruang teater pertunjukan. Acara dibuka oleh Kawan Karinding yang bertugas menjadi MC pada sesi pembukaan. Tepuk tangan dari penonton menjadi penanda bagi para pementas wayang untuk mulai.
Satu per satu kelompok pementas wayang bergantian memainkan wayang-nya. Sepanjang pementasan wayang, terdengar riuh gelak tawa dan tepuk tangan dari para penonton semua. Setiap selesai satu pertunjukan wayang dari satu kelompok, Kawan Karinding berdiri ke depan dan memperkenalkan diri dan tokoh yang ia mainkan dalam wayang tadi. Suara lantang, raut wajah ceria dan percaya diri begitu kuat terpancar dari mereka. Setelah semua pertunjukan wayang dipentaskan, para orangtua pun diminta memberikan kesan-nya. Penonton lain yang berasal dari jenjang SD dan SMP pun turut memberikan pendapatnya terkait pementasan wayang oleh Kawan Karinding. Selain mementaskan wayang, Kawan Karinding juga berkesempatan untuk belajar menerima apresiasi dari hasil karya mereka.
Pengalaman menonton pementasan ini mendorong saya berefleksi, begitu banyak hal yang melintas dalam pikiran, mencetus beragam emosi dalam diri. Melihat Kawan Karinding begitu semangat dan percaya diri, rasa takjub, syukur, dan bangga meliputi hati saya sebagai orangtua. Mengenang kembali pengalaman belajar saya ketika seusia Kawan Karinding, rasanya tidak ada yang isitimewa. Pelajaran Bahasa Indonesia pada masa itu saya habiskan dengan membaca buku paket, menjawab pertanyaan dari bacaan yang disajikan di dalamnya, menyusun kalimat dengan pola subjek-predikat-objek-keterangan (S-P-O-K), dan yang paling menyebalkan adalah menuliskan kalimat-kalimat yang didiktekan oleh guru seraya duduk dari mejanya. Terdengar familiar?
Apa yang Kawan Karinding capai dari pengalaman pementasan wayang tersebut? Saya mencoba cocoklogi dengan Capaian Pembelajaran (CP) Fase A yang bisa diakses di website Kemendikdasmen. Dalam Pelajaran Bahasa Indonesia, terdapat empat elemen keterampilan yang tidak terpisahkan sebagai kompetensi yang ditargetkan dalam kurikulum nasional. Elemen tersebut adalah (1) menyimak, (2) membaca dan memirsa, (3) berbicara dan mempresentasikan dan (4) menulis. Capaian pembelajaran dari keempat elemen tersebut telah disusun rapi sebagai standar.
Pertama, elemen menyimak. Pada saat pementasan wayang, Kawan Karinding telah mampu bersikap menjadi pendengar yang penuh perhatian. Untuk dapat memastikan pertunjukan berjalan dengan lancar, setiap anggota tim perlu menyimak dengan baik sehingga tahu kapan giliran dialog dirinya. Kedua, elemen membaca dan memirsa. Kawan Karinding membacakan dialog dengan fasih. Hal ini saya rasa bukan semata hasil latihan membaca yang berulang mereka lakukan sebelum pementasan. Akan tetapi hal ini juga menggambarkan mereka telah memahami dan mampu memaknai kosakata yang ada dalam dialognya sehingga tidak terasa datar. Ketiga, elemen berbicara dan mempresentasikan. Baik sebagai pementas wayang, maupun sebagai MC, Kawan karinding telah mampu berbicara dengan volume dan intonasi yang tepat secara konteks. Dalam proses pembuatan jalan cerita wayang dalam setiap kelompok, saya membayangkan mereka saling menyampaikan gagasan, tanggapan, dan perasaan hingga menghasilkan sebuah jalan cerita yang mereka sepakati bersama. Keempat, elemen menulis. Dari obrolan sepintas dengan Kakak, pada mulanya Kawan Karinding menuliskan ide ceritanya dengan tulisan tangan. Pada fase ini, anak diharapkan mampu menulis teks tentang diri, keluarga atau lingkungan sekitar melalui kalimat sederhana. Namun melalui proses pementasan wayang ini, Kawan Karinding menunjukan kemampuan menuliskan imajinasinya dalam bentuk kalimat dialog.
Senang sekali rasanya dapat menyaksikan pementasan wayang emosi dari Kawan Karinding. Saya berharap Kakak-Kakak dan seluruh unsur di SMIPA akan terus menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak. Terimakasih Kakak-Kakak & Kawan Karinding.
Halo @ginayasa. Saya baru sempat mengomentari tulisan ini. Terima kasih banyak atas postingan pertamanya di Ririungan. Sudah pecah telor jadinya. Semoga berlanjut ke tulisan-tulisan berikutnya. Ditunggu terus interaksinya di Ririungan. Oh iya ulasannya tentang pertunjukkan wayang emosi teman-temannya Raya juga bagus banget. Terima kasih banyak. Salam. 🙏🏼😊🌿
Halo Kak @kak-andy. Terimakasih juga atas ruang ekspresi yang disediakan yaa. Semoga jadi tuman yang baik, aamiin.