AES045: Taruhan Part 2
haegenquinston
Tuesday September 28 2021, 1:09 PM

Dalam atomic essay yang kubuat mengenai 'taruhan' part 1, sudah cukup jelas apa yang kujelaskan mengenai apa yang kita pertaruhkan sehari-hari, resiko maupun tidak. Dalam mengerjakan sesuatu, pastinya ada resiko, mau positif maupun negatif (konsekuensi). Sehingga, hal tersebut bisa jadi merupakan sesuatu yang kita pertaruhkan untuk berada dalam keadaan tersebut. Misalnya, mempertaruhkan uang 50 juta untuk judi (tidak baik). Kenapa dipertaruhkan, karena kita yakin ada sesuatu di sana yang lebih besar, misalnya hadiah uang 100 juta rupiah kalau menang. Meskipun begitu, terkadang hal yang kita pertaruhkan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita mau, sehingga kita pun putus asa, kehilangan hal yang kita pertaruhkan.

Introduksinya itu sih, mengenai taruhan kita dalam sehari-hari. Karena itu, kita pun perlu benar-benar mengetahui, batas-batas dalam mempertaruhkan sesuatu. Contohnya, kalau kita mempertaruhkan nilai ujian akhir sekolah, dengan bermain game terus-terusan. Saat waktunya untuk belajar ujian, malah dipakai untuk kesenangan sendiri. Padahal, prioritas dan hal yang lebih penting jelas-jelas adalah waktu untuk belajar materi ujian. tipe hal-hal seperti itulah, yang tidak pantas untuk dipertaruhkan karena posisinya kebalik, jangankan yang menjadi prioritas utama dipertaruhkan untuk sesuatu yang lebih 'mini'. Tidak pantas, untuk mempertaruhkan sesuatu yang kita butuhkan, hanya untuk sesuatu yang kita hanya inginkan.

Selain itu, bisa juga taruhan adalah hal yang memang memiliki resiko saat dilakukan, tetapi tetap dilakukan. Dalam hal seperti ini, muncullah simulasi. Misalnya, ada pembangunan gedung baru. Gedung baru tersebut, kita tidak tahu apakah akan runtuh atau tidak. Untuk mengetahuinya, kita melakukan simulasi menggunakan orang puppet (mannequin) yang palsu, jadi apabila runtuh, tidak ada resiko dan nyawa manusia yang perlu dipertaruhkan. Samanya ketika ada pengetesan keamanan suatu mobil, pastinya ada simulasi menggunakan orang palsu, bukan orang beneran.

Tetapi ada hal yang tegang kita lakukan ketika taruhannya tinggi. Misalnya, main bola dalam situasi di ambang kekalahan, dan jika tidak. dalam situasi ambang kekalahan, untuk menendang bola ke gol pun gugup karena resiko dan taruhannya, adalah outcome dari pertandingan, bahkan kejuaraan. Kita takut apabila gagal, dan menyalahkan sendiri. Di sisi lain, kalau kita main bola bukan di situasi tersebut, pasti mainnya lebih santai dan lebih kalem, karena tidak ada yang dipertaruhkan gimana. Cenderung kita tidak lebih serius jika tidak ada yang dipertaruhkan.

lebih sulit mana melempar-tangkap bola atau piring? Coba jawab. Jawaban sebenarnya adalah sama saja, karena keduanya sama mudahnya. Yang membuatnya berbeda, adalah impresi kita, bahwa kalau piring jatuh pasti pecah. Sementara kalau bola jatuh, tidak apa-apa. Sehingga, kalau melempar bola pasti tenang dan tidak serius-serius amat, pasti ditangkap. Tetapi saat melempar piring, yang hanya bisa 1 try or die, kita malah gugup dan menunggu dulu. Karena sekalinya gagal, pasti akan sangat mengecewakan. Karena taruhannya tinggi, kita suka cenderung tidak 'deliver' dalam situasi-situasi itu, sehingga akhirnya terasa lebih sulit.