AES 1393 Can We?
joefelus
Wednesday April 30 2025, 9:23 AM
AES 1393 Can We?

Terus terang akhir-akhir ini, berpuncak dengan terpilihnya pemimpin yang baru baik di tanah air maupun di tempat yang baru saja saya tinggalkan, kondisi menimbulkan banyak keprihatinan. Langkah-langkah dan kebijakan yang mereka ambil banyak membuat dahi saya mengerenyit dan menimbulkan kekhawatiran. Dua-duanya terlihat mendekati cara pemerintahan yang autoritarian, sementara yang satu lebih banyak menempatkan diri sebagai komando, sedangkan yang satu lagi menurut saya menganut sistem fasisme. Mudah-mudahan saya salah, tapi jika menilik yang terjadi di masyarakat, entah apapun namanya cara pemimpin ini mengendalikan kepemerintahannya, dua-duanya membuat saya khawatir akan hari-hari mendatang.

Dengan situasi politik sekarang dan cara pemimpin memerintah, ditambah dengan kondisi masyarakat sekarang, saya sangat prihatin sebab kalau demikian kondisi masyarakat akan sangat sulit berkembang ke arah yang lebih baik. Saya tidak mau membahas masalah politik, tapi lebih ingin menunjukkan mengapa saya khawatir. Saya lebih akan mengungkapkan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Contoh pertama, saya ambil dari obrolan di seberang sana, bukan tanah air. "@pink I stopped listening to your music when I found out u were a lebanese... God wanted man with woman." Saya yang masih setengah tidur menunggu jam weker berbunyi untuk memulai hari, langsung terbuka lebar-lebar matanya. "Sorry... What???" Dalam hati sejak kapan Pink itu orang Lebanon? Setahu saya, kalau tidak salah ya, Pink itu penyanyi wanita yang memang memiliki tubuh tinggi besar bernama Alecia Beth Moore-Hart, yang lahir di Pennsylvania. Lalu saya mulai berusaha mengkaitkan antara Lebanon dengan Tuhan yang menginginkan Pria bersama Wanita. Tidak nyambung. Karena bingung, walaupun saya akhir-akhir ini berusaha menghindari komen karena ujung-ujungnya pasti jadi debat kusir kacau balau saling menghina, saya buka ruang diskusinya.

Saya mulai tertawa kecut, dan I got it! Saya mulai mengerti ketika komentar lucu mulai bermunculan seperti ini: "That's not good. The whole music business is run by homosapiens." Lalu tidak kalah kocaknya:"Heard few of her songs back in the day. Didn't know she was a librarian." Bahkan ada yang komen begini:"Stop being a homophone!" Mudah-mudahan setelah ada lebih dari 800 komentar orang yang memulai "diskusi" ini mengerti bahwa dia itu pertama, salah informasi, kedua dia kurang pandai menggunakan istilah.

Baiklah itu satu contoh lucu, teman-teman pasti mengerti obrolan di atas itu mengenai apa, pendek kata tentang konteks biner laki-laki atau perempuan. Nah kita lanjutkan dengan contoh-contoh lain. Pernah menonton cuplikan-cuplikan di sosial media dimana seorang muda mewawancarai anak muda lain tentang misalnya berapa jumlah propinsi di Indonesia, Coba tolong sebutkan 3 nama negara di Eropa, atau sebutkan 3 nama benua. Lalu banyak sekali yang salah menjawab. Ada yang menjawab nama benua: Belanda, Jerman dan Paris. Belanda nama negara di Eropa, demikian juga Jerman sementara Paris adalah nama kota di Perancis.

Contoh lain, banyak diantara teman-teman kita yang sering meneruskan pemberitaan yang kurang akurat. Sering menggunakan kalimat begini: Dari grup tetangga, kalau-kalau ada yang membutuhkan. Isinya informasi yang menyesatkan. Dulu saya pernah menulis tentang telur palsu hahaha.. Ya semacam itu. Banyak yang ada di luar akal sehat dan dipercaya begitu saja, dan lebih parah lagi mereka mengikutinya. Contoh nyata yang saya ungkapkan dalam tulisan itu adalah seorang teman saya yang tinggal di Belanda dan terkena Covid waktu itu. Bukannya dia pergi ke dokter tapi justru ikut menerapkan informasi yang tersebar di sosial media dengan minum minyak kayu putih. Untungnya dia sadar bahwa itu tidak membantu karena dia semakin parah dan akhirnya ke dokter dan nyawanya terselamatkan.

Kondisi masyarakat sekarang ini sangat memprihatinkan. Kemampuan literasi masyarakat sangat rendah. Masyarakat dengan mudah dibodohi karen sudah mah kemampuannya rendah, masih ditambah dengan kemalasan untuk membaca yang dapat menambah kemampuan dan pengetahuan mereka. Di negara seberang malah dana pendidikan dipangkas, lebih parah lagi ketika universitas-universitas ternama seperti Harvard subsidinya sebesar sekian trilyun dicabut karena mereka tidak menuruti keinginan pemimpin. Ya begitulah, autoritarian saya bilang. Nah kalau sudah begitu, bagaimana masa depan dunia?

Okelah, rendahnya kemampuan literasi generasi sekarang sebagian merupakan kesalahan generasi sebelumnya, mungkin generasi saya termasuk yang kurang bekerja keras untuk "mendidik" dan membekali mereka. Tapi pemimpin sekarang juga adalah generasi saya atau sebelum saya, nah jelas bukan kesalahan sebagian ada dipihak mana? Lalu apakah bisa dengan leluasa kita melepaskan pengendalian dunia ini ke generasi berikutnya? Mengkhawatirkan bukan?

Menurut saya saat ini istilah "cukup" saja tidak cukup. Jika kita mengamati keadaan sekarang, jika hanya dengan kata cukup maka masa depan akan semakin terpuruk. Pengertian cukup itu jika disepadankan dengan kondisi sekarang, dan kondisi sekarang itu tidak baik. Jika hanya cukup saja, maka tidak akan ada perubahan signifikan. Kita butuh yang lebih dan karena masih ada waktu tersisa yang kita miliki mungkin kita perlu bergerak lebih baik agar setidak-tidaknya bisa lebih dari hanya sekedar cukup dalam mempersiapkan generasi selanjutnya. Mulai dari yang kecil seperti membantu meningkatkan kemampuan literasi mereka karena kemampuan literasi dan kemampuan berpikir kritisĀ  itu sangat berkaitan.

Foto credit: iteracymn.org

You May Also Like