
Pernah merasa malu sampai mati kutu dan terpaku,tidak bisa melakukan apa-apa? Ya, itu baru saja terjadi pada saya!
Pulang kerja saya dijemput istri lalu langsung pergi ke sekolah untuk menjemput Kano. Di mobil saya check in untuk Kano potong rambut, ada aplikasinya! Ya begitulah jaman sekarang, mau potong rambut aja bisa check in di HP lalu diberi tahu berapa menit waktu menunggunya, jadi sangat efisien. Sampai di sana saya pergi ke supermarket dulu karena udara panas sekali dan Kano kehausan. Saya pergi cari minuman dingin 2 botol terus kembali ke tempat cukur rambut.
Kano khan rambutnya panjang, gondrong sampai ke bahu. Dari jauh kelihatan ada seseorang duduk di dekat jendela kaca besar, rambutnya hitam tebal sebahu. Rencananya saya akan kembali ke mobil, jadi saya ketuk kacanya supaya Kano bisa ambil minuman, lalu saya masuk dan menoleh ke samping ke arah Kano duduk. Di sana seorang ibu-ibu melotot bingung memandangi saya yang barusan ngetuk jendela. Kano dan Ibunya tidak ada di sana! Saya bingung, kaget, malu sampai tidak bisa berkata-kata. Saya langsung balik badan karena sangat amat malu dan kabur sambil mengguman minta maaf. Lalu berusaha menelepon Istri.
"Kamu di mana?" Tanya saya.
"Loh, engga terima pesan? khan tadi kirim pesan kita nunggu di mobil karena masih 15 menit lagi!" Jawab istri.
Dalam hati, coba tadi saya baca pesan dulu sebelum sok tau ketuk-ketuk jendela lalu dipetoloti ibu-ibu yang bingung! Hahahaha...
Ya begitulah kalau seenaknya saja membuat sebuah asumsi! Menurut para ahli memang otak manusia diciptakan untuk membuat asumsi. Otak berusaha mencari pola atau yang para ahli kognitif menyebutnya dengan "mental Models" Contohnya kita bisa masuk kedalam mobil dan nyupir ke sekolah tanpa perlu berpikir. Pola mengemudi kita serta rute setiap hari ke sekolah telah direkam oleh otak sehingga seringkali mengemudi sambil memikirkan rencana hari itu, memikirkan pekerjaan, atau hanya sekedar mengikuti lagu yang sedang diputar di mobil tanpa perlu lagi menentukan arah menuju sekolah. Otak kita sudah membuat pola, jalur yang biasa kita lalui tanpa harus secara penuh berkonsentrasi. Otak kita sudah mempunyai GPS otomatis, tanpa perlu mengatur setting di awal, menuliskan alamat lalu mengikuti petunjuk. Tidak! otak kita lebih canggih daripada GPS!
Asumsi yang dibuat oleh otak adalah earned behaviour. Mirip seperti HP yang saya miliki, karena setiap hari saya punya pola rutinitas yang sama, hari Senin, Rabu dan Jumat saya berangkat ke kolam renang pukul 5:30, Selasa dan Kamis saya langsung pergi ke tempat kerja pukul 7:15. Nah pagi-pagi HP saya langsung memberikan notifikasi, kalau Senin dia bilang, "5 minutes to swimming pool, light traffic!" Hari Selasa otomatis pagi-pagi HP bilang,"5 minutes to work, no traffic!" ya semacam itu. Apakah saya men-setting HP itu? tidak! HP itu belajar sendiri dari rutinitas saya setiap hari! Nah ini mengerikan bukan? kita seperti dibayangi oleh teknologi, dan semua peralatan canggih di sekitar kita mempelajari gaya hidup kita sehari-hari. Lalu kita menjadi tergantung pada peralatan itu.
Satu lagi, entah apakah teman-teman familiar dengan cortana. Cortana adalah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Microsoft. Entah bagaimana, saya sama sekali tidak berusaha memahami, tiba-tiba setiap hari saya mendapat pesan yang isinya banyak kutipan-kutipan dari email-email saya yang jumlahnya ratusan berkaitan dengan pekerjaan untuk mengingatkan banyak hal. Ada beberapa tugas yang belum selesai, sesuatu yang saya janjikan pada klien, setiap pagi nongol dan saya diingatkan. Kalau sudah beres saya tinggal tekan kata complete! Saya sangat terbuai dengan apilkasi ini sebab sangat menolong banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan! Nah Cortana ini tidak membuat asumsi, tapi "mencuri" data yang kemudian data ini dipergunakan untuk memberikan notifikasi atau reminder! Hidup seperti disetir, khan? Tapi saya selalu berkilah dengan berkata,"memanfaatkan teknologi!" Apakah betul begitu? Penggunaaan calendar di HP dan komputer juga sangat penting karena memudahkan saya untuk menjadi lebih organized! Email untuk meeting, training dan sebagainya langsung terkoneksi dengan kalender di HP dan komputer, dan diingatkan beberapa saat sebelumnya. Saya tinggal ikut saja. Lalu saya berasumsi bahwa notifikasi ini betul dan akurat!
Nah asumsi itu juga bisa menyesatkan. Data-data yang diproses oleh otak kadang tidak tepat, mangkanya pertitiwa memalukan pada saya it terjadi. Rambut panjang, hitam lalu saya asumsikan itu Kano! Datanya tidak cukup, saya tidak memasukkan warna pakaian, tinggi badan dan sebagainya sehingga akhirnya salah! Mungkin juga asumsi yang saya ambil itu dilakukan dengan tergesa-gesa, sampel datanya tidak cukup sehingga menghasilkan kesimpulan yang salah! Nah persis seperti yang Brett Jordan katakan, Assume makes an ass out of you and me! Mempercayai sesuatu berdasarkan observasi yang tidak teruji! hehehehe*** (pokoknya hutang essay saya lunas, hari ini nulis 2! yihaaaa!!!)
wahhh...hahaha, saya juga ada utang esai beberapa hari Pak Jo. Semoga nanti bisa saya lunasi juga.