"The world needs more and more compassionate creativity to solve difficult problems confronting us. Creative people do not have answers, but they habitually question the status quo and think about alternatives and improvements. They discover and invent possible answers. They habitually ask better questions. They have optimism. When combined with empathy and compassion, creativity is bound to be a force for good." ~ Marvin Bartel
Salah 1 aspek yg mendapat porsi cukup besar di Smipa adalah Kreativitas. Bekal penting untuk anak mengarungi ruang masa depan yang akan ia huni. Cukup banyak karakteristik yang diidentifikasi dari orang yang disebut kreatif.
Energetic, Focused, Imaginative, Curious, Reflecting, Smart, Playful, Disciplined, Perseverance, Realistic Dreamer, Confident, Rebellious, Passionate, Objective, Sensitive, Open to Experience, Happy, Joyful, Solve Problems, Question Status Quo, Think Alternatives & Improvement, Discover & Invent Possible Answer, Optimist, Out of The Box, etc.
Yang kemudian jadi pertanyaan, apakah kreativitas ini diturunkan atau dibangun? Ada orang-orang yang punya bawaan / dorongan kreatif yang kuat dalam dirinya. Namun terbukti juga bahwa kreativitas dapat dibangun, seperti otot, lewat pengondisian dan latihan di keseharian.
"Parents can also influence their children’s creativity through providing encouragement and the right environment."
Kegiatan paling dasar sekaligus esensial untuk membangun hal ini adalah menggambar, yang merupakan salah satu kemampuan alami anak. Menurut tahapannya, awalnya anak membuat goresan acak (tahap scribbling), yang seiring kemampuan motoriknya berkembang menjadi goresan terarah (tahap pre-schematic). Lalu mulai memunculkan simbol sebagai hasil eksplorasi dirinya terhadap lingkungan sekitar (tahap schematic). Sehingga mulai memiliki skema atau cara khas yang kerap muncul saat menggambar orang, objek atau lingkungan. Biasanya di usia 5 tahun anak sudah bisa sangat nyaman dan PD dalam menggambar. Ketika mulai menyadari detil, fitur nyata pada objek, anak juga memunculkan ini pada gambarnya (tahap realistic). Di masa yang sama, mereka mulai menyadari dan memperhatikan kemampuan teman-teman dalam menggambar sesuai asli dan detil. Di sini, bisa muncul periode dimana anak merasa tidak cukup kompeten. Jadi idealnya kemampuan menggambar dibangun dengan memanfaatkan jendela waktu tsb.
Satu hal penting terkait kreativitas adalah Imajinasi. Kadang orang dewasa lupa memberi ruang luas pada anak untuk memunculkan idenya sendiri. Kalo versi orangtua ‘anaknya suka ga mau denger’. Padahal anak maunya ‘menurut aku, bukan menurut Mama.. ‘ Beberapa anak mungkin memunculkan kecenderungan menolak, tidak suka menggambar. Bisa jadi memang tidak ‘into art or drawing’. Tapi bisa juga karena mereka membandingkan gambar mereka dengan teman, saudara, orang dewasa, atau bahkan ekpektasi diri. Rasa tidak mampu itu yang membuat mereka mengatakan tidak bisa, dan menghindar. Baik bila orangtua dapat menunjukkan dulu pada anak untuk bersikap PD aja, berdamai dengan kemampuan diri. Doodling, sambil menikmati proses, terus menggerakkan spidol. Yang penting, jangan terucap ‘ga bisa’ di depan anak. Dengan berproses bersama tentunya orangtua tidak akan menaruh ekspektasi tinggi untuk anak.
Bantu dengan berorientasi pada proses yang menyenangkan, bukan pada hasil. Pancing dengan cerita atau obrolan yang membangkitkan imajinasi. Biarkan anak menuangkan imajinasi yang terbentuk dalam benaknya lewat goresan ke dalam gambar. Macam gambar abstrak tak masalah. Tidak pernah ada yang salah dalam gambar imajinatif. Ayo membuat binatang ajaib yang punya 7 kehebatan dan hidup di dasar laut 9 warna misalnya. Ajak anak berpetualang ke laut 9 warna, lalu bertemu dengan si binatang ajaib yang baik hati dan punya 7 kekuatan hebat. Ini dapat membangun imajinasi dan keberanian dalam menuang ide, sekaligus sangat menyenangkan untuk anak hingga tahap shematic.
Memasuki tahap realistic, (setelah 7 tahun) menggambar bisa menjadi media untuk membangun berbagai kemampuan lain. Misalnya, menjadi ilmuwan, menanam lalu mengamati dan mendokumentasi lewat gambarnya pertumbuhan tanamannya waktu demi waktu, atau mengamati hewan; memperhatikan detil, ciri khusus dan menggambarkan seakurat mungkin. Simak satu contoh bagaimana Austin, seorang anak kelas 1 perlahan mendorong kemampuan dirinya dalam membuat gambar scientific kupu-kupu Tiger Swallotail. Lewat arahan yang jelas dari gurunya, dan masukan teman-teman. WOW..
Sepertinya ini esai Kak Ine yang ke-35, bukan 34. 😊
Haduh iya salah ngitung pak @ahkam 😁 tp sdh diperbaiki di esai terakhir ✌🏼