Setelah mengobrol tentang beberapa penulis dan pencerita yang dapat menjadi nara sumber untuk festival literasi mendatang, ka Wit meminjamkan buku Kitab Cerita, Esai² Anak dan Pustaka, karya Setyaningsih. Wah punya bacaan untuk mengisi akhir pekan nih. Sudah cukup lama tidak membaca tentang pustaka Indonesia. Merasa gersang memang 😁
Buku mungil ini ternyata menyegarkan. Esai demi esai terasa seperti tamasya ke masa lalu. Kujumpai banyak ulasan mengenai bacaan anak dan penulisnya sejak saat aku kecil, bahkan bertahun sebelum aku lahir. Ia seolah menarikku kembali ke masa SD, saat Agus Setiadi menghadirkan Enid Blyton ke Indonesia dan mengisahkan petualangan Lima Sekawan, Sapta Siaga, Si Kembar, st Clare, Malory Towers, dll. Pastinya aku termasuk Anak-anak Enid Blyton yang ia maksudkan dalam esainya tersebut. Saat itu bacaan import seperti serial Tintin, Asterix, Donald Bebek, dll., termasuk Lima Sekawan dan jajarannya memang mendominasi bacaan anak Indonesia. Konon para penulis seperti 'mengalami kegersangan ide karena ide cerita hanya berkisar tentang kedurhakaan, gembala, atau dramatisasi kemiskinan'. Memang tak terlalu banyak buku lokal yang aku baca dan ingat ketika SD. Baru di jenjang SMP, SMA aku bertemu buku-buku karangan Kembang Manggis, Arswendo, Hilman, dan majalah-majalah remaja seperti Kawanku, Hai, lalu melompat ke novel-novel dewasa muda dari Marga T, Mira W, dll.
Pada esai Suara di Aksara ia menjelaskan dengan apik keindahan bahasa Kate DiCamillo pada the Tale of Despereaux, terkait pentingnya mendongeng untuk anak. Sepakat betul, karena aku juga sangat suka cara Kate DiCamillo berkisah; indah! terlebih untuk dilisankan pada anak. Diistilahkan Setyaningsih sebagai kelisanan atau waktu untuk bercerita yang harus berjalan berbarengan dengan keaksaraan, karena menurutnya, 'sastra anak adalah sastra yang dibunyikan, lalu dibaca.'
Ada banyak lagi esai yang menarik untukku seperti Soesilo Toer, Bocah Tertawalah!, Piknik di Perpustakaan, dll. Nama penulisnya baru aku dengar. Lengkap ka Wit menginfokan pula akun instagramnya, @langitabjad. Wah masih sangat belia tampaknya. Tapi wawasan dan pengetahuan luas serta pemahamannya yang mendalam mengenai sastra dan pustaka terjabar baik dalam esai²nya, dengan diksi dan gaya bertutur yang juga terasa sungguh klasik. Buku yang keren ini.. 