AES150: Maksimal harus Repot
haegenquinston
Thursday March 31 2022, 11:09 AM

Untuk maksimal, kita perlu repot. Aku sendiri merasakannya akhir-akhir ini, dimana aku membuat proyek yang kurang maksimal. Mengapa kurang maksimal? Karena aku merasa sudah cukup baik, ribet dan lama lagi apabila masih disunting. Karena itu, aku mempertimbangkan bahwa waktu yang diperlukan untuk maksimal, tidak/kurang worth it. Karena itu, hasil pekerjaanku lebih mementingkan waktu, bukan hasil akhir.

Terkadang, aku sendiri merasa perlu ada pengorbanan dari diri, untuk mengerjakan yang maksimal bagi orang lain, bagi kebutuhan, dan bagi kebaikan bersama. Contoh paling nyata yang aku alami adalah pengorbanan main game. Apabila aku sedang ingin main game namun harinya sedang sibuk (les, pekerjaan yang belum selesai), terpaksa aku tinggalkan demi hal yang lebih penting.

Secara pribadi, aku kurang suka apabila waktu personal yang kumiliki terambil oleh hal lain. Terutama soal hal-hal yang kurang penting (menurutku sendiri kurang penting). Tetapi, kenyataan hidup, ialah semuanya saling nyambung, semuanya memiliki masalahnya sendiri. Tidak ada kesempurnaan yang bisa terjadi selamanya, terutama di kehidupan pribadiku.

Disinilah daya juang menjadi pivot/titik yang penting. Karena itulah hal satu-satunya yang memisahkan kita, apakah ingin repot atau tidak. Berjuang dalam ketidaknyamanan adalah suatu hal yang tidak mudah dikerjakan begitu saja. Ada berbagai tipe orang yang putus asa dan mudah menyerah, sementara ada yang berjuang mati-matian.

AKu sendiri merupakan tipe person yang pertama di dalam hati, namun kedua dalam bentuk fisik. Kadang, aku merasa sudah waktunya untuk berhenti, menyerah. Namun fisikku masih mendorongku untuk menyelesaikan sesuatu yang tidak nyaman bagi diriku sendiri. Sehingga, dalam kasus keputusan, aku cenderung menjadi orang yang berjuang meskipun tidak nyaman, malas, dan mengganggu.