Tapi adalah kata yang bersifat pengecualian, perputaran 180 derajat, dan merupakan sedikit kebalikan dari pernyataan sebelumnya. Tapi adalah kata yang sering kita pakai, sebagai alasan, sebagai pengecualian, dan berasal dari sudut pandang berbeda. Misalnya, ada pernyataan seperti ini: Tentara Rusia sudah menembus batasan pertahanan Ukraina, tapi mereka mendapatkan banyak korban jiwa dalamnya. Antara positif-negatif, sebuah kata 'tapi' bisa menghubungkannya.
Makin kesini, berdasarkan pengamatanku, ada banyak orang yang sering beralasan, seringkali dengan kata 'tapi'. Menurutku, sebuah kata 'tapi' hanya menjadi tolak ukur yang meniadakan pernyataan sebelumnya. Tetapi tergantung tingkat toleransi internal/eksternal juga, apakah sebenarnya ada kesalahan atau tidaknya. Misalnya, saya merasa bersalah atas tidak mengerjakan proyek, tapi yang lain juga begitu. Jangan sampai kita memakai kata 'tapi' sebagai alasan, agar kita ditolerir.
Misalnya, ada temanku yang tidak mengerjakan perannya dengan baik. Karena alasan ga enak badan atau lupa juga pun acara keluarga. Hal-hal itu sebenarnya bisa diatur di luar jam sekolah menurutku pribadi. Setidaknya, ada niat untuk melakukannya, bukan sekedar alasan belaka yang hanya menutupi ketoledorannya.
Alasan lain yang bisa terjadi adalah proses. Proses itu butuh maksimal, butuh keinginan, dan butuh waktu. Jika sebuah proses tidak lancar, maka salah satu darinya ada yang kurang. Namun, jika perubahan yang terjadi sedikit, proses tidak bisa dijadikan alasan. Kalau tidak maksimal mengerjakannya, bukan karena prosesnya namun karena diri kita sendiri.