"Bagaimana seseorang bisa berkembang?"
Pertanyaan ini lumayan mengusik saya belakangan ini. Awalnya ini beranjak dari hobi saya yaitu riichi mahjong. Saya sungguh secara tulus dari hati mencintai riichi mahjong. Semua thrill yang ia bawa, semua titik zenit dan nadir yang akan muncul dari permainan tersebut, aspek matematis dari bagaimana menyusun tangan agar dapat meraih kemenangan dengan cepat atau dalam jumlah yang besar, interaksi sosial dengan tiga pemain lain. Saya cinta semuanya
Saya pun mengikuti sebanyak mungkin kompetisi riichi mahjong se kemampuan saya. Baik itu turnamen luring maupun daring. Tentunya, saya ingin mencapai hasil terbaik di dalam turnamen. Dalam rangka mencapai hasil terbaik tersebut, saya mengumpulkan semua sumber pembelajaran riichi mahjong yang bisa saya baca (sialnya, banyak yang masih bahasa Jepang. Wayae sinau kanji iki wkwkwkwk). Saya pun akhirnya menyempatkan diri untuk berlatih di simulasi pertandingan sesering mungkin sambil mencatat hasilnya.
Namun, saya tidak bisa memungkiri bahwa ketika saya melihat hasil yang lebih buruk dibanding sebelumnya, saya merasa kecewa. Kecewa karena merasa gagal memenuhi target, kecewa karena merasa tidak mampu. Kadang bahkan merasa marah karena merasa waktu yang dihabiskan untuk belajar dan berlatih itu sia-sia
Pada saat yang bersamaan, saya sadar bahwa perbandingan itu SYARAT UTAMA dari perkembangan. Tidak bisa dipungkiri, perkembangan itu hanya akan muncul dari membandingkan paling tidak capaian kita hari ini (tidak perlu kita membahas perbandingan dengan orang lain dulu, itu kaleng cacing baru lagi) dengan target yang kita inginkan. Semua perbedaan antara capaian dan target kemudian jadi bahan refleksi, baik itu surplus maupun defisit.
Sebenernya saya juga menulis ini sebagiannya untuk curhat, namun sebagiannya lagi karena saya mengamati bahwa hasrat membandingkan ini nyata adanya di masyarakat. Utamanya, korelasi yang saya temukan adalah semakin kuat hasrat ingin meningkatkan kemampuan diri, maka ia akan semakin sering membandingkan. Terkadang dengan capaian orang lain, namun yang juga tidak terlalu jarang adalah membandingkan dengan target yang sudah diri sendiri tetapkan.
Kontradiksi ini belum bisa saya jawab. Saya menuliskan ini dalam rangka menuangkan pikiran saya. Mungkin di antara para pembaca ada yang mau mengusulkan synthesis dari dua hal yang kontradiktif ini. Mungkin di masa depan saya akan menemukannya. Sekarang saya tutup saja pemikiran saya di “saya tidak tahu jawabannya”