Menyelami proses berkegiatan Rumah Belajar Semi Palar (SMIPA) seperti membuka lembaran masa kecil saya. Bedanya, di SMIPA ini ada program, konsep, tentu saja ada fasilitator, media dan proses tahapan pemahaman materi.
Apakah sekolah masa kecilku seperti SMIPA? Tentu tidak. Aku anak yang diabur. Bermain di sawah, pemandian umum mata air, menyusur perkampungan, pepohonan, membuat layangan sendiri, petasan, dll.
Saat itu aku tidak mengerti kaitan fungsi materi sekolah dengan situasi alam dan sosial. Saat itu banyak pertanyaan hidup yang tidak terjawab.
Berada di dalam gerbang SMIPA, kemudian mengikuti setiap programnya seperti berada dalam miniatur hidup. Anak-anak menjalani proses belajar secara "spiritual", diolah dari mental, pikiran dan fisik. Membuatku mengerti bahwa proses "menjadi" setiap generasi bergantung pada situasi zaman. Ada yang dikelola oleh campur tangan manusia, namun ada yang "dibentuk" oleh alam.
Aku jadi ingat waktu Kang Andy mewawancara pada hari pertama pertemuan. Kurang lebih begini,
"Kehidupan seperti apa yang paling berat selama ini yang kamu hadapi?"
Melalui pertanyaan ini, aku mengerti bahwa di SMIPA ini menjadi proses belajar memecahkan permasalahan. Semacam miniatur kehidupan bagi teman-teman yang belajar di SMIPA. Tidak hanya bagi anak-anak namun fasilitatornya pun sama, melalui berbagai proses berlatih dan mengolah diri secara terus menerus.
Tidak bisa berhenti belajar dan merasa "cukup" dengan ilmu maupun pengalaman yang dimilikinya. Di SMIPA semacam dapur juga bengkel bagi siapapun untuk terus mengenali, membaca, berlatih.
Kembali pada pertanyaan Kak Andy, aku mengerti, bahwa kehidupan yang berat itu bisa tumbuh menjadi akar yang memperkuat pertumbuhan manusia. Dalam menjalaninya melewati berbagai proses penolakan, pencarian, hingga penerimaan.