Seperti selalu terjadi, libur banyak maunya. Banyak hal yang ingin diselesaikan di waktu yang rasanya lebih leluasa ini. Kadang terlarut dan jadi keterusan, sementara daftar masih panjang. Jadilah membuat ceklis untuk diselesaikan setiap hari. Sedikit tapi sesuai kemampuan. Tak lupa memberi porsi waktu untuk rileks dan menikmati jeda 😊
Salah satunya adalah menghidupkan kembali keranjang takakura yang beberapa bulan ini terabaikan, tidak diberi makan. Biasanya senang sekali ketika membuka keranjang, mengaduk isinya dan menemukan semua sudah terurai. Meski jarang sekali aku keluarkan dan gunakan sebagai kompos, karena tujuannya adalah untuk mengelola sisa organik, bukan untuk mendapat pupuk. Awalnya hanya ingin agar sampah dapur tidak membusuk dan mengeluarkan lindi yang bikin bau tempat pembuangan sampah. Ternyata untukku mengurai sisa konsumsi organik dengan takakura itu mudah dan praktis. Selama keseimbangannya terjaga, ia bekerja dengan cepat. Dalam 1-2 hari sampah yang dimasukkan sudah terurai. Kadang kalau sampah yang dimasukkan terlalu banyak, memang butuh waktu lebih lama. Namun selama suhunya masih hangat, berarti ia tetap bekerja baik. Sejauh ini tidak mengalami masalah seperti yang pernah diceritakan orang, ada aroma tidak sedap atau didatangi serangga atau binatang lain. Pernah muncul larva lalat atau belatung. Tampaknya karena sampah tidak langsung dimasukkan ke dalam keranjang, sehingga dihinggapi lalat dan dijadikan tempat bertelur. Setelah cari tahu, ternyata tidak sulit diatasi. Sekadar diaduk dan dijemur matahari, lalu diberi glukosa (buah matang atau air gula) agar suhu lebih panas, dan belatungnya cepat mati.
Ketika kubuka hari ini, semua sudah mengering, sudah mulai kembali menjadi tanah. Yang aku lakukan hanyalah mengganti karton dalam keranjang, menambah sekam, daun dan serutan kayu kering, memberi air gula hingga cukup lembab. Bantalan sekam masih bisa digunakan kembali. Jadi aku hanya mencampur tanah yang ada, tambahan sekam dan serutan kayu, dengan air gula. Idealnya sih membuat MOL (Mikro Organisme Lokal) dari gula, air dan bioaktivator (air tapai / kedelai/air cucian beras/air kelapa yang sudah didiamkan/ difermentasi beberapa hari). Tapi hari ini aku coba dengan air gula merah saja. Sampah sayuran dan kulit buah yang sudah aku cacah juga langsung aku aduk rata. Mudah-mudahan dapat segera bekerja kembali, mengurai semua sisa² makanan dan sampah dapur yang dimasukkan.Â
pic: illustrasi buku Mengompos di Rumah itu Mudah, DK Wardhani