AES 157 Food Is Life
joefelus
Wednesday October 27 2021, 12:51 AM
AES 157 Food Is Life

Hari ini saya tidak masuk kerja, ijin sakit karena sejak tadi malam perut saya bermasalah sampai sulit untuk bergerak. Gara-garanya sih sederhana, kebanyakan makan kesemek! hahahaha! Baru tahu bahwa kesemek itu berbahaya, di internet dikatakan bila seekor kuda makan kesemek terlalu banyak, perutnya bisa rupture

Ngomong-ngomong soal makanan, saya mau cerita yang bermula dari obrolan dengan Den Bagus Kano:

"Dad, let's say, hypothetically, if you had a lot of money, where would you take me to eat?" tanya Kano sambil menyuapkan potongan kentang dengan bacon, daging turkey dan ham yang dilumuri hollandaise sauce, Saat itu kami sedang sarapan di sebuah kedai kecil yang menyajikan menu sarapan yang kano gemari.

"Let me see," Jawab saya sambil berpikir. "I would take you to the best steak house in Japan! or somewhere in French where you can eat the best fine dining courses in the World " Lanjut saya.

"Yes, I would love to try the best wagyu steak!" kata Kano yang memang sangat menyukai daging merah. "But why French?" Tanya Kano.

"Well, food is about culture! If you want to try the best fine dining courses, you have to go to the place where culture makes fine dining possible. For example, do not eat nasi padang at the fine dining restaurant because you won't be able to lick your fingers! You won't enjoy nasi padang if you do not use your hands!" Jelas saya.

"That makes sense!" jawab Kano

Kami terus ngobrol soal makanan sambil menikmati sarapan. Buat saya makanan sama seperti musik, selalu berkaitan dengan pengalaman hidup. Kadang saya begitu "aneh" dalam memilih makanan. Seperti saat itu saya sengaja memilih sebuah pancake degan maple syrup, sepotong bacon, telur setengah matang dan sebuah link sausage karena hanya semata-mata ingin pengulang masa nostalgia di Chicago ketika sedang berlibur. Saat itu baru tahu bahwa istri saya sedang mengandung, baru 6 minggu.

Menurut Jennifer 8. Lee (TED Talk: Jennifer 8. Lee looks for General Tso), “what you want to cook and eat is an accumulation, a function of your experiences — the people you’ve dated, what you’ve learned, where you’ve gone. There may be inbound elements from other cultures, but you’ll always eat things that mean something to you.”

Nah ini menjawab mengapa selama ini saya sering sekali memilih untuk masak atau mengkonsumsi makanan berdasarkan preferensi dari pengalaman pribadi. Contohnya pancake di atas, atau ketika saya menggebu-gebu mencari rendang jengkol yang hanya 200 gram seharga 18 dollar, lalu memaksakan diri memasak gulai gajeboh atau kikil menggunakan tendon dan kaki sapi yang bahannya harus saya beli setelah mengemudi lebih dari 150km ke luar kota. Semua itu hanya semata-mata mengobati rasa rindu. Rindu pada kampung halaman, keluarga, sehabat atau hanya sebuah warung yang menyajikan makanan itu. Semua itu adalah pengalaman yang ingin saya ulang.

Kalau kita jujur pada diri sendiri dalam memilih makanan, disamping memikirkan nutrisi dan mempertimbangkan faktor kesehatan, kita tidak dapat mengabaikan pentingnya faktor emosional. Makanan identik dengan pengalaman dalam hidup, dengan kerabat, teman, keluarga bahkan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan hidup kita. Orang-orang sering membandingan makanan yang dinikmati saat ini dengan masa lalu. Tidak heran banyak orang berkata, "Mirip dengan yang dulu selalu ibu sajikan, tapi masakan ibu jauh lebih enak!"

Berkumpul bersama orang-orang yang kita cintai, menikmati makanan bersama dalam berbagai peristiwa, semuanya sangat lekat dengan kehidupan. Makanan hanya bagian dari link yang mengkoneksikan manusia dengan kehidupan melalui peristiwa-peristiwa yang paling sederhana sekalipun. Duduk bersama-sama menonton pertandingan sepak bola di televisi sambil membakar sate atau jagung menjadikan sebuah peristiwa yang mungkin tidak akan terlupakan. Sate dan jagung hanya pengikat! Suatu waktu nanti kita akan kangen dengan jagung dan sate karena semata-mata hanya ingin mengingat teman,saudara atau hanya sekedar peristiwa yang kita treasured dalam hidup ini! Jadi mengingat saya dapat menulis saat ini juga karena sakit gara-gara kesemek, suatu waktu nanti saya akan ingat peristiwa hidup saya ini. Pada saat ini saya belajar bahwa makan kesemek tidak boleh terlalu banyak, perut bisa bemasalah. 

Yang jelas, bagi saya, makanan menciptakan sejarah! Yang sekarang kita makan akan kita kenang dalam masa yang akan datang. Makanan adalah perekat kehidupan!

You May Also Like