Bersedih merupakan bagian dari kehidupan yang kadang berada di atas kadang di bawah. Ini adalah sebuah perasaan atau juga pikiran yang negatif yang merupakan sebuah reaksi terhadap suatu kejadian yang tidak di harapkan. Sebuah hal yang wajar, normal selama kita mampu menghadapinya.
Kesedihan akan hilang. Ketidak-nyamanan akan berangsur-angur berkurang kemudian menghilang. Itu merupakan kejadian alami yang dihadapi oleh semua orang. Yang pasti dengan mengenali dan mengerti kesedihan yang hadir, itu baik adanya. It's okay to be sad, sedih itu wajar. Tapi daripada bersedih saya memilih mengenang masa-masa yang menyenangkan. Saya ingin smile because it happened bukan cry because it is over.
Ya, saat ini yang bisa saya lakukan adalah mengembalikan perasaan dan pikiran positif. Saya ingin mengembalikan kenangan-kenangan yang membahagiakan sejak jaman masih bujangan dengan Anthon, sahabat saya ini. Dulu ketika menjadi guru kami berusaha mencari dana dengan berbagai macam cara agar dapat memiliki sebuah komputer untuk OSIS. Kami team pembina ber-4. Anthon, saya, ibu Fanie yang sekarang menjadi kepala sekolah di Bandung dan Ibu Lena yang sekarang menjadi seorang biarawati Karmelit. Kami berempat dengan para siswa akhirnya berhasil memiliki sebuah komputer! Kami bersama-sama mengecat ruang OSIS. Yang tadinya tidak ada apa-apa, menjadi sebuah pusat kegiatan yang luar biasa, hingga para siswa enggan pulang. Mereka betah di sekolah, bahkan ada orang tua yang bersedia menyediakan seperangkat telepon agar setiap waktu bisa mengetahui apakah anaknya ada di sekolah! Sayangnya ditolak oleh pihak sekolah.
Kami hobby makan! Para siswa hobbynya morotin guru-guru muda ini yang sebagian gajinya habis ludes untuk ntraktir es campur dan siomay di belakang sekolah. Sekali-kali kalau kami baru gajian, ramai-ramai kami ke PT Rasa untuk makan es krim, Peach melba atau minum Sherly Temple yang padahal itu cuma sprite diberi grenadine atau syrup merah, tapi karena namanya keren dan anak-anak suka rasanya, maka menjadi menu favorit! Atau kadang kami ke Wendy's yang pada saat itu sangat populer karena baru dibuka. Anak-anak suka makan Bake Potato dengan brokoli dan keju! Jadi sungguhan kami jadi guru bukan cari uang atau meniti karir, semata-mata karena cinta pada peran sebagai pembina dan guru serta keterlibatan dan kelekatan kami dengan para siswa. Nah oleh sebab itu kami rela tengah bulan dompet sudah kosong dan bangkrut! Tanya saja pada beberapa orang tua di Smipa yang pernah jadi siswa Anthon dan Saya. Berapa kali mereka morotin gurunya! hahahaha
Sebagai anak muda kadang kami suntuk! Kadang pusing skripsi tidak selesai-selesai, masalah dengan pacar (hihihihi) atau memikirkan masa depan. Itu sering kami "diskusi"-kan sambil makan pisang bakar di jalan Burangrang! Kadang makan Internet (Indomie Telor Kornet) sambil saling curhat atau berbagi pikiran. Kami sering mengucapkan Carpe Diem yang kemudian ditiru siswa-siswa kami. Kami berusaha pantang putus asa, sering bilang If there is a will, there is a way! Kami dan para siswa sama-sama menggemari lagu The greatest Love Of All yang dinyanyikan oleh George Benson atau What A Wonderful World-nya Louis Amstrong. Bersama para siswa kami juga bertangis-tangisan dalam rekoleksi atau retreat. Juga bersama sama bermain lumpur di hotel ketika kami berwisata ke Jogya. Hampir setiap tahun seperti itu yang menggoreskan kenangan yang tidak pernah lenyap. Masa-masa yang Indah!
Masih sebagai anak muda tapi sudah berpasangan, kami begadang di stasiun bus di Boston dalam perjalanan naik Greyhound menuju New York. Tengah malam kami berangkat tiba di New York subuh dan terperangkap di dalam stasiun bus yang penuh dengan homeless people yang bermalam di sana karena di luar sangat dingin di pertengahan winter. Terpaksa kami duduk di lantai bersama gelandangan hingga gerbang dibuka. Lalu menghadapi suhu dingin dan kelaparan mencari sarapan, saat itu toko-toko belum buka hingga kami menemukan sebuah diner kecil yang dilayani oleh orang dari Asia Selatan (Pakistan, India?) yang sulit berkomunikasi dengan kami yang kepingin makan telur setengah matang dan pancake. Lucu dan tidak terlupakan. Kemudian kami mencari hotel murah yang dikelola oleh Youth Hostel (YMCA?) yang orangnya sangat tidak informatif hingga kami menyerah, dan memutuskan langsung ke Liberty Statue. Demi menciptakan sejarah dalam hidup kami ber-4, kami rela merogoh dollar dari dompet yang tipis (hehehe) beberapa lembar 20 Dollaran untuk beli tiket ferry yang menurut kami mahal. Sambil menunggu dalam cuaca yang sangat amat dingin kami masuk ke sebuah toko hanya sekedar menghangatkan tubuh. Naik Ferry ke Liberty Statue. Veda dan Anthon menyemangati saya yang takut ketinggian untuk terus naik hingga ke puncak mahkota patung itu. Berhasil! Lalu naik ferry lagi ke Ellis Island. Di sana dianjurkan untuk nonton film mengenai para imigran yang datang dari Eropa. Saya dan Anthon ngorok karena di dalam sangat hangat dan nyaman, serta karena kelelahan semalam hampir tidak tidur serta banyak jalan kaki di pagi hari. Ya film itu hanya kami ingat pembukanya dan tahu-tahu film sudah selesai ketika kami dibangunkan! Saya juga ingat makan makanan alaTurkey di pinggir jalan di dekat Rockefeller Center melihat pohon Natal raksasa dan mereka yang bermain ice skating, seperti yang di film-film!
Itu baru beberapa pengalaman dan petualangan kami bersama yang bagi saya merupakan kenangan yang sulit dilupakan. Masih banyak lagi yang kami lakukan bersama seperti misalnya nonton konser jazz atau kegemaran kami akan Star Trek dan berusaha meracuni beberapa siswa agar ikut menyukainya. Kami juga merintis dan mendorong para siswa untuk biasa menulis! Yaaaaaa... sungguhan! Kami membuat diary bersama di ruang OSIS dan siapa saja boleh menulis dan membacanya. Ada beberapa buah buku yang sudah kami hasilkan dengan coretan-coreatan yang seru! Seingat saya saat ini semua buku itu ada pada Anthon. Itu adalah sejarah yang sangat berharga!
Masih banyak lagi dari puluhan tahun kami saling mengenal dan berteman, bersahabat hingga menjadi keluarga. Semoga masih ada banyak lagi kelanjutannya karena masih banyak yang belum kami lakukan dari sederetan bucket list yang kami miliki. Ayo Thon, kita masih belum selesai!