AES 1383 KTP Sebesar A4
joefelus
Wednesday April 16 2025, 9:50 AM
AES 1383 KTP Sebesar A4

" Selamat Malam, Nanya dong. Tema makanan buat live cooking apa? Tradisional atau internasional?" Tanya saya kemarin malam.

Kemarin saya sudah berjanji akan membantu acara bazar yang akan diselenggarakan oleh Coop Smipa tapi tidak dapat hadir ke pertemuan karena saya harus keluar kota untuk mengurus paspor yang hampir kadaluarsa. Ini pengalaman pertama saya mengurus surat di kota kecil ini, yang jaraknya sekitar 70 km dari tempat tinggal saya. Perjalanannya sendiri harus 1/2 melalui Tol dan 1/2 jalur lalu lintas biasa melewati jalan berliku-liku dan harus menghadapi lalu lintas padat dengan kendaraan roda dua dan truk bermuatan batu kapur maupun truk barang. Ini seru selama tidak ada kecelakaan yang kemudian mengakibatkan macet sejauh 30 km seperti yang saya alami minggu lalu. Kemarin hanya menjemput paspor yang sudah selesai.

Ini pengalaman yang lumayan menyenangkan, belum pernah saya mengurus surat-surat semudah ini, bahkan ketika saya mengurus hal yang sama di Los Angeles, saya rasa di Cianjur jauh lebih simpel, cepat, tanpa antrian dan tidak neko-neko. Hanya satu hal keluhan saya, mereka sepertinya ngerjain saya sedikit, sepertinya itu merupakan usaha mereka untuk menghidupkan coop yang mereka miliki.

Jadi begini, sebelum membuat perjanjian, saya harus mengunggah semua dokumen yang dibutuhkan melalui aplikasi yang mereka miliki. Semua sudah saya lakukan, hanya untuk memberikan bukti otentik ketika saya tiba di kantor itu, saya membawa aslinya. Nah, begitu saya tiba, saya ditanya tentang kelengkapan dokumen dan diminta menyediakan fotocopynya. Saya sungguh tidak mengerti. Kenapa saya harus membuat fotocopy-nya jika dokumen semua sudah diunggah?

"Bapak bisa membuat fotocopy di koperasi, di sebelah." Katanya

Pernah melihat hasil fotocopy KTP sebesar A4? Hahahaha.. itu yang saya peroleh dari koperasi itu! Saya diminta membuat screenshot di HP lalu dikirim melalui WA ke koperasi dan mereka akan mencetak. Such a joke! Pikir saya, kalau mau ngerjai, ya sidikit profesional sedikit, gitu loh! Petugas koperasi yang terlihat seperti anak SMP lalu mencetak KTP dan lembar konfirmasi bahwa saya sudah membayar melalui screenshot yang saya kirim ke mereka tadi.

Saya hanya tertawa masam sambil berlalu, menunjukkan KTP terbesar sedunia yang saya miliki dan diberi kartu antri yang sebetulnya tidak berguna sebab begitu masuk saya langsung dilayani. Tidak lebih dari 30 menit, bahkan mungkin hanya 15 menit saya sudah keluar kantor itu dan mencari makan siang!

Pelayanannya sangat efisien, semua ditangani oleh anak-anak muda yang ramah dan tangkas. Tidak seperti pengalaman pertama saya mengurus paspor puluhan tahun lalu dimana saya harus menyuap kesana kemari, melalui formalitas wawancara demi melegalkan uang suap sebesar 50 ribu Rupiah.

"Pak kalau ditanya, bapak melalui travel agent." Kata petugas yang jadi perantara alias calo. Itu dulu, sekarang semua terlihat sangat profesional kecuali permainan mereka untuk menghidupkan koperasi hahaha.

Eniwei, kembali ke Smipa. Beberapa waktu yang lalu saya diajak rekan orang tua untuk membantu dalam acara coop yang segera saya sanggupi saat itu. Apapun akan saya lakukan untuk semacam pay back atas "hutang" saya pada Smipa yang telah banyak berperan dalam keberhasilan anak saya Kano.

"Tema mengusung makanan Nusantara, Bang Jo.. Jadi mungkin live cookingnya kalau tradisional food, apakah berkenan?"

Waduh! Dalam hati. Ini bukan tantangan yang sederhana. Kalau saya membuat makanan yang orang lain tidak pernah tahu, saya bisa dengan santai berkreasi. Kalaupun saya membuat 1000 kesalahan tidak akan pernah ada yang tahu. Tapi makanan tradisional adalah makanan yang hampir semua teman-teman di Smipa tahu. Saya harus bisa kreatif "mengelabui" hahaha.. Tapi saya mempunyai prinsip bahwa memasak adalah seni, jadi tidak ada yang benar atau salah. Ya sudah lihat saja nanti bagaimana, yang jelas saya punya beberapa waktu tersisa untuk berpikir dan merencanakan.