AES 188 Bukan Pendidik
joefelus
Saturday November 27 2021, 5:14 AM
AES 188 Bukan Pendidik

Saya akhir-akhir ini membaca beberapa essay yang ditulis sebagai bentuk tribute terhadap guru dalam kaitannya dengan hari guru belakangan ini. Beberapa orang juga mengucapkan selamat hari guru kepada saya, mengingat saya pernah jadi guru mereka. Dulu! Dulu sekali!

Beberapa ucapan itu membuat saya merenung dan bertanya-tanya apakah saya memang layak mendapat ucapan itu. Saya bukan guru lagi, dan kalau saya pikir-pikir walaupun seandainya saya masih jadi guru, apakah saya layak menerima ucapan itu?

Guru bukan profesi yang mudah. Kenapa saya mengatakan demikian? karena saya merasa guru, atau saya lebih suka menggunakan istilah pendidik, adalah profesi yang sangat penting sekaligus juga "riskan"! Saya bilang riskan karena pendidik itu erat kaitannya dengan hidup, hidup orang lain dan masa depan orang lain. Jika saya seandainya tukang masak, ketika membuat kesalahan, saya tinggal buang produk gagal saya dan mulai dari awal dengan bahan-bahan baru. Pendidik? Sadar atau tidak, tidak boleh gagal! Sebab jika gagal, yang akan menghadapi konsekuensinya bukan pendidik tapi justru anak didiknya! Hebatnya, walau seandainya gagal, pendidik tidak pernah harus bertanggung jawab!

Mungkin karena tidak pernah dimintai tanggungjawab, banyak pengajar yang tidak terlalu peduli dalam menjalani profesinya. Nah kali ini saya lebih suka menggunakan istilah pengajar daripada pendidik. Mudah-mudahan bukan karena saya ingin mengecilkan pengertian kata guru!

Saya tidak ingin berusaha menggeneralisir dan mengganggap semua guru demikian. Oh sungguh, saya banyak melihat guru yang inspiratif! Seperti tulisannya Mbak Mega dan Bang Ahkam, banyak guru-guru yang menginspirasi mereka. Saya juga demikian walau banyak nama guru yang saya lupa terutama ketika saya di sekolah menengah atas. Ada beberapa orang guru yang justru membuat saya sama sekali tidak tertarik untuk belajar di kelas/sekolah! Kenapa demikian? guru tugasnya membimbing, menunjukkan jalan agar para siswa dapat menentukan langkahnya. Yang saya alami beberapa kali dengan guru-guru tertentu justru merasa memperoleh "insult'!, yang saya peroleh adalah imaji bahwa murid-murid bodoh, tidak dapat mengerti apa yang guru ajarkan dan kami tidak punya masa depan! Jadi masuk akal jika selama di sekolah menengah atas saya lebih banyak di luar sekolah daripada duduk di kelas! Saya lebih banyak bolos daripada di kelas. Tapi, ini yang saya tidak pernah sesali, bahwa saya tetap belajar! Sendiri! Tanpa guru! Buku-buku catatan saya lengkap dan rapih!

Saya juga menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana banyak guru mempunyai dedikasi yang sangat diragukan. Dalam sebuah pelatihan, saya bisa menilai bahwa mereka sendiri tidak mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang cukup akan bidang studi yang mereka ajarkan. Lalu bagaimana bisa mengajar? Ini baru dalam urusan "mengajar", bukan "mendidik"! Dalam pelatihan mereka saling tukar menukar lesson plan! Ini yang akhirnya membuat saya muak! Gurunya saja malas, bagaimana bisa menginspirasi anak didiknya untuk tidak malas? Singkatnya, bagaimana seorang guru melakukan tugasnya jika perencanaan pengajarannya milik orang lain dan bukan dia yang membuat rencana? Sejak saat itu saya mulai kehilangan "api" dalam diri saya untuk menjadi seorang pendidik!

Secara tradisional guru dianggap sebagai "dispenser" informasi dan pengetahuan, disamping sebagai "child care" silahkan mau jujur atau tidak, banyak orang tua meninggalkan anak-anak mereka di sekolah agar orang tua dapat melakukan aktifitasnya. Guru bertugas menjaga anak-anak mereka hingga jam sekolah usai. Orang tua tidak mau tahu dengan apa yang ada di sekolah. Itu urusan sekolah. Orang tua sudah bayar, maka mereka menuntut servis! Ini bisnis jual beli! Yang penting lulus dengan sukses sehingga dapat masuk ke institusi pendidikan yang lebih tinggi dengan kualitas sebaik-baiknya!

Secara tradisional juga guru "diatur", mereka dijadwalkan kapan, di mana, apa dan bagaimana mengajar yang "baik", semua rencana pendidikan diatur formatnya secara seragam. "Tujuan pengajaran harus menggunakan kata kerja yang dapat diukur!" Saya selalu ingat kalimat itu. Jika tidak menggunakan kata kerja yang dapat diukur maka rencana pengajaran itu salah! Akhirnya guru-guru cenderung mencontoh rencana pengajaran yang baku dan sudah "lolos" pengawasan, ujung-ujungnya copy and paste! Jadi jangan salah kalau yang namanya flash disk para guru penuh dengan virus sebab sudah berpindah-pindah komputer di-copy dan meng-copy oleh banyak orang!

Itu baru masalah administrasi, belum di lapangan! Kebetulan saya berkecimpung dalam bidang studi Bahasa Inggris, dari 1 ruangan yang bersama-sama menjalani pelatihan, 99% guru itu tidak bisa berkomunikasi secara verbal dalam bahasa Inggris! Lalu mereka ngajar apa di kelas? It is a joke! Ini sungguh memalukan dan penuh dengan omong kosong. Saya muak dan marah!

Saya pernah menjadi guru di sebuah sekolah yang dianggap ternama. Guru diwajibkan untuk mengajar menggunakan metode yang sudah berlangsung dari jaman ke jaman. Segala bentuk penyimpangan dari praktik-praktik tradisional dilarang, semua harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Ini bisnis, bisnis yang sangat berhasil karena buktinya lulusannya berhasil dan selalu diharapkan menjaga tradisi serta mempertahankan prestasi. Ya saya hanya bekerja, jadi mau tidak mau harus mengikuti aturan hingga saya tidak mampu lagi karena sudah beda prinsip.

Untungnya sekarang sudah mulai berubah, banyak terobosan-terobosan baru. Sekolah dengan konsep baru mulai bermunculan. Pendidik (saya pakai istilah ini lagi ah..) didorong untuk mengadaptasi dan mengadopsi konsep baru yang tidak melulu menekankan pengetahuan kognitif. Mereka lebih mengerti intisari pendidikan yang memusatkan pada anak didik. Pendidik mengerti bahwa peran paling penting adalah mengenal anak didik mereka, mendalami kebutuhan unik mereka, style belajar mereka, latar belakang sosial dan budaya mereka, interes dan juga kemampuan mereka! Tugas pendidik tidak hanya mengajar, justru sekarang lebih sebagai pembimbing sementara mereka tumbuh dan menjadi dewasa, membantu mereka mengintegrasikan pertumbuhan sosial, emosional dan intelektual mereka, sehingga pada saatnya mereka akan mampu mencari, mengerti dan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan mereka dalam membuat keputusan dalam kehidupan personal dan sosial mereka.

Pada praktiknya sekarang, relasi antara pendidik dan anak didik memiliki konsep yang jauh berbeda. Menjauh dari konsep tradisional dan lebih menekankan peran aktif dalam belajar, apapun istilahnya sekarang yang terus menerus berganti. Guru tidak lagi sebagai ratu atau raja di dalam kelas yang tidak dapat dibantah, melainkan sebagai fasilitator, yang membimbing para anak didik untuk mencari, mengerti, dan berpetualang dalam belajar! Nah mudah-mudahan semakin banyak guru-guru seperti ini yang diberi ucapan selamat.***

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
wow tulisan panjang dari Jo tentang pengalaman jadi guru - ditambah curhat juga ya... Terima kasih Jo. Menambah perspektif ya dari teman yang pernah punya pengalaman mendidik juga. πŸ™πŸΌπŸ˜Š
joefelus
@joefelus   5 years ago
Maaf kepanjangan karena curhat itu sulit dibendung hahahahaha.