AES 300 Planes
joefelus
Saturday March 19 2022, 12:11 AM
AES 300 Planes

Makan siang terakhir bersama Len dan Joel kami pilih di sebuah kedai kecil di dekat airport mungil. Percaya atau tidak ini adalah International Airport tapi hanya untuk pesawat-pesawat kecil. Sepertinya kebanyakan pesawat bermesin tunggal dengan 1 atau 2 penumpang.

Restoran yang kami datangi namanya Spruce Goose Cafe. Ini katanya salah satu kedai yang sangat terkenal akan Pies nya. Dan di menu hari ini ada Cherry Pie, Cherry and Apple Crispy pie dan carrot Cake. Saya bahkan melihat ada pelanggan yang datang secara khusus hanya untuk makan pie. Kami ke sini bukan untuk Pie walau Joel terus menerus menggoda kami dengan menanyakan akan memilih pie apa sesudah makan siang. Nina memilih Fish and Chips dan semangkuk kecil chili. Saya memilih chili hamburger, Saya tidak ingat Joel memilih apa, kalau tidak salah BLT dan Len memilih salah satu roti lapis kesukaannya, saya benar-benar lupa namanya. Begitu makanan keluar saya terkejut karena ternyata ini sajian dengan porsi besar. Nina dan saya tidak habis, bahkan kami bawa sisanya hingga ke Seattle. Jangankan makan pie, perut sudah kekenyangan dan tidak mampu menghabiskan makan siang kami. Ini sangat khas kedai makanan di Amerika yaitu porsinya besar. Sesudah makan siang, kami memutuskan ke museum pesawat terbang yang hanya beberapa langkah dari restoran.


Museum mungil yang penuh dengan pesawat terbang bermesin tunggal dari tahun ke tahun. Salah satu sukarelawan menjelaskan bahwa setiap akhir pekan ada banyak anak-anak muda dan remaja yang menjadi sukarela sambil belajar mengenai pesawat. Diantara mereka malah akhirnya mampu mengemudikan pesawat sebelum memiliki SIM untuk mengemudi mobil. Banyak diantara mereka kemudian memiliki karir sebagai pilot. Ada puluhan pesawat di dalam museum itu dengan berbagai cerita dibalik keberadaan pesawat-pesawat itu. Ini merupakan kegiatan menarik sambil memberi kesempatan tubuh untuk mencerna makanan yang barusan kami santap. Museum ini mengingatkan saya pada museum dirgantara di Jogya, hanya saja di sini seluruhnya adalah pesawat kecil dan terawat dengan baik, bersih bahkan tidak ada debu sama sekali.


Keluar dari musium kami berhenti menyaksikan beberapa pesawat kecil yang take off dan landing. Runway pesawat-pesawat ini memang ada di belakang restoran tempat kami makan siang barusan. Sambil berdiri menyaksikan pesawat turun dan naik, saya lihat ada 2 orang laki-laki, mungkin anak dan ayahnya, keluar dari restoran dan berjalan menuju sebuah pesawat kecil sambil membawa 2 kotak makanan. Saya bergurau dan berkata, "I think they arrive in a plane, get lunch to go and go home in the same plane." Nina dan Len tertawa mendengar gurauan saya. Lalu kami benar-benar bengong ketika mereka berdua memang membuka compartment di lambung pesawat untuk menaruh makanan yang mereka bawa dari restoran, lalu membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Lampu di ekor pesawat mulai berkelap kelip berwarna merah dan merek siap-siap untuk berangkat. Ternyata gurauan saya itu sangat tepat. Mereka berdua datang dengan pesawat memesan makan siang lalu kembali masuk ke pesawat dan pergi. Joel yang bergabung kemudian karena dia sempat ngobrol dulu dengan salah satu sukarelawan yang ternyata juga pecinta kapal layar berkomentar,"That's a thousand dollar hamburger!" Maksudnya bukan hamburger itu mahal, tidak sama sekali, paling harganya belasan dollar tapi untuk pulang pergi menggunakan pesawat terbang memakan biaya tidak murah! Itu sebabnya dia berkata hamburger itu harganya seribu dollar. Saya menggeleng-gelengkan kepala. Ya namanya juga Amerika, segala sesuatu itu mungkin. Tahu aktor yang bernama John Travolta? dia disamping sebagai aktor film, juga punya pesawat terbang dan jago mengemudikan pesawat, katanya dia memiliki ijin mengemudikan pesawat komersial dan juga diketahui sebagai penerbang kehormatan untuk maskapai penerbangan Australia, Quantas! Katanya juga rumahnya berada di dekat airport dan dia parkir pesawat pribadinya di halaman rumahnya! Ada-ada saja ya? Saya sih orangnya takut ketinggian, jadi pesawat bukan hal yang menjadi kegemaran. Saya cukup bahagia dengan pisau dan bumbu-bumbu dan merasa jauh lebih aman di dapur daripada di angkasa! Hahahaha***