"Bu, badan sakit-sakit. Hari ini saya tidak sekolah ya!" Kata saya. Entah mengapa tubuh ini serasa begitu lelah dan sakit-sakit..
"Kamu kuat dan sehat, masa gitu aja nyerah. Coba mandi sana, nanti akan segar dan bisa ke sekolah" Kata ibu saya.
Percaya tidak jika "hiburan" atau pemberian semangat yang dilontarkan oleh ibu saya ini sama sekali tidak membantu? Maksudnya memang sangat baik, memberi semangat agar saya tidak menyerah. Tapi justru seringkali hal-hal semacam itu secara tidak langsung mengatakan,"You are on your own!" atau "You need to deal with it!" Atau bahkan kadang-kadang serasa ditegur: "Get yourself together, there is no point crying about it!" Pernah merasakan demikian?
Di atas itu cuma sekadar contoh bahwa kadang-kadang kita mendengar seseorang yang berusaha melampiaskan kesulitannya, berusaha curhat bahwa dia bermasalah, atau sedang menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Kita mendengar tapi tidak mendengarkan. Pada saat seperti itu kecenderungan kita adalah memberi semangat, menasihati tapi sama sekali tidak berempati. We hear but we do not listen!
Kalau dipikir-pikir pengalaman saya sebagai orang tua menghadapi anak remaja juga sering terlibat dalam kondisi seperti ini. Kita mengasumsikan telah berusaha mendengarkan jika anak remaja kita berusaha menyampaikan sesuatu, tapi apakah benar demikian? Sekali lagi, kita hanya berasumsi sebab sesungguhnya pada saat yang bersamaan kita juga sedang memikirkan banyak hal-hal lain dan tidak memberikan perhatian sepenuhnya terhadap permasalahan yang sedang dilontarkan oleh anak ini. Saya ingin jujur bahwa memang begitu, kadang bahkan sebelum dia selesai mengemukakan semuanya kita sudah cenderung memotong dan memberi nasihat padahal anak ini sama sekali tidak membutuhkan nasihat, yang dia butuhkan adalah didengar. We do hear what he is trying to say but we do not really listen!
Mendengarkan butuh latihan. Kita selalu cenderung merasa lebih tahu, sudah berpengalaman dan seringkali menganggap remeh permasalahan yang sedang dihadapi oleh para remaja. Penah menjadi remaja bukan berarti kita sudah piawai, bukan berarti kita sudah menjadi ahli dalam permasalahan remaja. Tidak sama sekali, bahkan kemungkinan kita tidak pernah menyelesaikan permasalahan yang dulu kita hadapi semasa menjadi remaja.
Sampai sekarang saya masih belajar, mungkin tidak akan pernah cukup. Pikiran kita begitu sibuk dengan berbagai hal, itu yang menjadi semacam distraksi yang sangat menghambat komunikasi antara orang tua dan anak. Latihan yang sedang saya lakukan secara terus menerus adalah mengesampingkan semua yang sedang saya hadapi, menyingkirkan semua distraksi dan memberikan perhatian 100% pada apa yang akan disampaikan oleh anak kita. Ini sama sekali tidak mudah, apalagi ditambah jika kita berasumsi. Kita berasumsi anak ini punya masalah A, sebelum dia selesai mengutarakan masalahnya sudah kita potong ditengah-tengah lalu memberondong dengan sebuah litani nasihat yang panjang. Akhirnya anak ini akan malas berbicara sebab dia akan tahu bahwa ujung-ujungnya dia tetap harus menghadapi masalahnya sendiri karena tidak didukung oleh orang tua dan bahkan ditambah dengan ribuan nasihat yang sama sekali dia tidak butuhkan. Betul begitu? Hahaha... terus terang ini penyakit kronis sejak jaman nenek moyang kita. Orang tua saya juga dahulu begitu, lalu menurun pada saya! Saya ingin memutuskan rantai "dosa turun-menurun" ini agar mudah-mudahan anak saya tidak melakukan ini lagi. Mudah-mudahan masih sempat, sebab seringkali kita sudah "terlanjur" melakukannya karena secara otomatis setelah bertahun-tahun dihadapkan dengan situasi serupa ketika kita dulu masih remaja. Betul juga khan? hahaha..
Ini yang sedang saya usahakan. Ketika si gondrong duduk di samping saya, saya akan menaruh HP jauh-jauh, mematikan TV jika saya sedang nonton atau minimal saya pause dulu dan memberikan perhatian saya 1000 persen. Menyadari kehadirannya dan memberikan perhatian sepenuhnya. Ini saya praktikan dan efeknya luar biasa. Dia "menyadari" bahwa saya memberikan perhatian sepenuhnya pada dia. Ini gesture yang sangat ajaib untuk memulai sebuah komunikasi.
Berikutnya yang ingin saya latih juga, menghilangkan "kegatalan" mulut saya untuk mengucapkan sesuatu, menimpali, memberi komentar, dan lain-lain. Saya ingin 1000 persen menggunakan telinga dan menunggu hingga dia meminta respon. Ini latihan kedua dan saya ingin katakan, ini sama sekali tidak mudah! Seringkali gagal! Yang saya usahakan adalah meningkatkan awareness bahwa saat ini saya harus menggunakan telinga dan mulut saya harus di-"muted"! Seandainya saja saya lahir dengan sebuah remote control sehingga cuma tekan tombol dan mulut ini terkunci dan lubang telinga saya buka selebar-lebarnya, maka akan lebih mudah dan komunikasi saya dengan remaja akan jauh lebih mudah hahaha... Yang jelas, saya sedang berusaha belajar dan melatih diri untuk mendengar. I want to listen not just to hear!
Foto: thetechyhub.com
betul banget ini pak Jo.. udah mah masalahnya beda karena beda jaman, 'listen' aja belum tentu paham, apalagi sekadar 'hear'