AES 417 Ga Mau Lagi
joefelus
Thursday July 14 2022, 7:26 AM
AES 417 Ga Mau Lagi

Saya baru saja membaca esai nya Kak Andy tentang Salah Arah, Salah Kaprah. Saya setuju sepenuhnya bahkan jika mau jujur itu alasan saya mengapa memutuskan berhenti menjadi guru. Nanti akan saya gambarkan dengan lebih gamblang mengapa saya memutuskan untuk berhenti.

Guru bukan pekerjaan yang menarik jika tidak mempunyai hati dan panggilan untuk mengabdi. Itu kunci utama untuk menjadi guru yang baik. Kalau hanya sekedar menjadi guru "terpaksa" sama saja dengan percuma. Bukan apa-apa, dan jujur saja, saya sempat mendekati taraf terpaksa karena tidak bisa berhenti begitu saja. "Terpaksa" sangat erat hubungannya dengan suara hati dan tanggungjawab moral. Karena saya tidak mampu menghadapi suara hati dan tanggung jawab moral, saya memutuskan untuk berhenti.

Saya akan berusaha bercerita secara runut dan gamblang. Tanpa maksud untuk mengecilkan hati para pendidik, saya sangat respek dan mengagumi para guru, terutama kakak-kakak di Smipa yang saya tahu bekerja dengan hati. Nah saya akan mulai dari jam kerja. Jika ingin sungguh-sungguh menjadi guru yang ideal, pekerjaan guru tidak hanya di dalam kelas justru yang paling utama adalah bagaimana mendisain proses belajar dalam kelas dan itu butuh kreatifitas, pengetahuan, ketrampilan, waktu dan kesungguhan. Untuk bisa melakukan itu jam kerja menjadi sangat relatif. Nah ini butuh komitmen dan kesungguhan dalam "mengabdi"-kan diri. Saya lihat di sini kebanyakan, saya bilang kebanyakan karena ini betul adanya, bahwa guru gagal. Ya gagal di sini karena banyak para guru tidak punya waktu, tidak punya kemampuan, pegetahuan dan komitmen yang cukup. Kalau jadi guru sama dengan pekerja kantoran ya begitu itu. Maksud saya membandingkan guru dengan pekerja kantoran akan saya jabarkan berikut ini.

Pekerja kantoran hanya melakukan pekerjaan mereka di kantor. Begitu jam dinding menunjukkan jam pulang, tugas selesai. Pekerjaan ditinggalkan dan dilanjutkan besok. Selesai! Lain halnya dengan guru, ketika jam kerja, guru sibuk menjalankan tugasnya sesuai dengan disain yang telah dibangun. Selama saya menjadi guru, tidak ada hentinya menjalankan tugas di kelas, dari pukul 7 hingga jam pulang. Nah ini saya yakin dialami hampir semua guru. Lalu kapan saya dapat menjalankan tugas saya mendisain, membuat persiapan dan sebagainya? Tentunya di luar jam kerja bukan? Nah itu bedanya pekerja kantor dengan guru.

Jadi guru itu tidak mudah. Sekarang bayangkan kita mengurus anak sendiri yang jumlahnya tidak sebanyak jumlah siswa di kelas. Kadang sudah kewalahan bukan? Anak-anak di rumah sudah kita kenal baik karakternya, tapi kita masih menghadapi banyak masalah. Sekarang bandingkan dengan belasan (jaman saya jadi guru malah puluhan!) yang kita sama sekali tidak kenal karakternya. Butuh waktu untuk memahami setiap pribadi. Setiap anak memiliki karakter masing-masing, memiliki keunikan masing-masing, memiliki "cara" belajar masing-masing. Ada yang bisa belajar dengan maksimal jika sambil mempraktikan, ada yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, ada yang lebih mudah belajar jika sambil melihat dan sebagainya. Lalu bagaimana bisa mendisain proses belajar dengan mengakomodasi semua keunikan ini? Butuh waktu, kreatifitas, kemampuan, pengetahuan, ketrampilan dan kesungguhan dalam menyusunnya bukan? Kapan bisa melakukan ini? Sekali lagi sesudah selesai melakukan tugas di dalam kelas. Kapan itu? Di luar jam kerja!

Administrasi sebetulnya tujuannya untuk mendokumentasikan desain yang disusun. Sayangnya, sistem pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang, (juga karena faktor keterbatasan dalam berbagai hal seperti misalnya kompetensi, dan sebagainya) akhirnya hanya melihat "bukti", yaitu apa yang ditulis. "Yang penting ada" menjadi tujuan akhir dan tidak melihat apakah desain yang disusun itu sudah tepat atau tidak. Untuk mempermudah melakukan pengawasan, akhirnya semua diseragamkan. Pihak berwenang menerbitkan buku panduan, lupa bahwa sesungguhnya pendidikan itu tidak bisa diseragamkan karena setiap peserta didik itu punya keunikan masing-masing. Jika ada anak yang lebih bisa belajar sambil melakukan sesuatu, maka mereka tidak akan mampu belajar secara maksimal jika di kelas guru hanya mendisain proses pendidikannya dengan berceramah dan menuntut anak untuk diam mendengarkan! Itu salah satu contohnya. Jadi anak-anak yang tidak berhasil dalam pendidikan tradisional belum tentu karena kemampuannya terbatas, justru mungkin disain yang dibuat oleh guru tidak cocok dengan keunikan dia dalam belajar.

Administrasi dituntut agar seragam. Ini menjadi hal yang membuat saya memutuskan berhenti. Kenapa? Mudah dijawab, kalau gurunya saja diseragamkan, bagaimana bisa mendisain sebuah proses pendidikan yang berfokus pada anak-anak? Anak-anak tidak bisa diseragamkan. Ada konflik di sini. Itu sebuah masalah yang terus menerus ada dan belum bisa dipecahkan. Karena harus seragam dan "asal ada", maka cara yang paling mudah adalah copy and paste. Itu yang dilakukan para guru ketika mengikuti pelatihan. Lihat contoh, lalu dicontek. Ujung-ujungnya administrasi yang disiapkan hanya sebagai formalitas sebab tidak bisa digunakan di kelas. Bagaimana bisa digunakan jika disainnya adalah hasil contekan dari entah guru dari sekolah mana yang sama-sama ikut proyek pelatihan. Yang penting ada!

Berikut ini adalah sesuatu yang sensitif. Sudah bukan rahasia jika saya katakan bahwa guru tidak cukup dihargai. Karena tidak cukup, maka diluar jam kerja, para guru sibuk menutup kekurangan dengan melakukan kegiatan yang produktif, oleh sebab itu seusai jam kerja, ada yang mengajar di sekolah lain, tempat-tempat yang memberikan pelajaran tambahan dan sebagainya. Tidak di rumah sudah malam, lelah dan harus istirahat. begitu selanjutnya setiap hari. Jangankan mendisain, memperkaya pengetahuan dan ketrampilan diri saja tidak ada waktu lagi. Akhirnya kompetensi guru semakin lama semakin tertinggal. Jangan heran jika dalam pelatihan banyak menjumpai guru yang memiliki keterbatasan dalam menggunakan media berbasis teknologi.

Itu jaman saya masih jadi guru. Saya tidak tahu sekarang bagaimana, tapi saya yakin butuh waktu untuk berbenah. Dan yang saya tulis di atas memang betul-betul terjadi tapi saya tidak berusaha mengatakan semua begitu. Paling aman saya mengatakan bahwa itu kebetulan terjadi di ruang dan tempat ketika saya masih berkecimpung di dunia pendidikan. Saya tidak berani bertanggungjawab secara moral dan saya tidak mau idealisme terkikis karena berbenturan dengan kenyataan yang sulit ditembus. Kebetulan saja waktu itu saya berada di tempat dan waktu yang tidak menguntungkan. Guru adalah profesi yang mulia karena menyangkut hidup dan masa depan orang lain, oleh sebab itu saya sangat menghormati para guru. Bukan profesi yang mudah, tapi jelas profesi yang mulia.

Foto Credit: Newsweek.com

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Terima kasih Joe merespon esai saya. Supaya nyambung, esai saya ada di sini : https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/4011/aes391-salah-arah-salah-kaprah πŸ™πŸΌπŸ˜Š
finsjournal
@finsjournal   4 years ago
Waaah.... Teringat waktu itu Kak Braja memberi rekomendasi film dokumenter "Teach" apa "Teacher" (lupa) awal TP17 lalu... Ada suatu pertanyaan yang 'nyelekit' banget, "Why you take that rough job"... To teach is to question... Intinya, jadi guru itu betul banget 'harus tulus dan sepenuh hati', love your kids not only teach your kids!! Hahahaha... Semangat Pak Joe!! Yet you are a teacher for yourself,,right... hahahhaha...
joefelus
@joefelus   4 years ago
Betul sekali. Terima kasih :)
You May Also Like