Saya sedang mengemudi dalam perjalanan pulang dari toko buku. Ada beberapa buku yang ingin saya miliki, tapi kemudian saya memutuskan untuk menunda. Nina yang duduk di samping saya tiba-tiba menunjukkan sesuatu ketika kendaraan kami berhenti di persimpangan jalan.
"Tuh lihat sticker di mobil itu!" kata Nina "Sampe sebegitunya ya!" sambung Nina lagi.
Saya langsung melihat ke kendaraan putih yang besar. Sebuah truck yang dikemudikan seorang berkulit putih yang penuh dengan tattoo di lengannya. Ada beberapa sticker yang ditempel di kendaraan itu yang perkataannya tidak dapat saya ungkapkan di sini karena sangat kasar memaki presiden Amerika, presiden dia sendiri!
Saya sangat setuju dengan komentar Nina,"sampai segitunya". Dan mau tidak mau saya juga berkomentar.
Orang-orang di sini memang sangat mengagung-agungkan kebebasan. The land of the free and the home for the brave. Begitu potongan syair lagu kebangsaan Amerika. Kata-kata yang sangat indah dan penuh makna tapi menurut saya seringkali disalah artikan. Orang-orang sini bebas berekspresi tanpa rasa takut karena mereka free dan brave! Termausk memaki-maki presidennya sendiri.
Memang issue ini tidak hanya terjadi di sini, di banyak tempat termasuk di tanah air juga sering terjadi. Mengekspresikan diri menjadi begitu penting. Entah kapan dimulai, seingat saya dahulu tidak begitu banyak diumbar di permukaan. Mungkin karena yang namanya internet dan sosial media belum ada, sehingga orang mungkin lebih "takut" atau lebih hati-hati mengungkapkan pikiran dan pendapatnya secara lansgung di muka umum. Sekarang orang dengan bebas mengungkapkan pendapatnya karena merasa lebih aman dan ada anonymity di jagat maya walau sebetulnya masih saja mudah dilacak.
Saya juga setuju dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat sejauh masih dalam batas wajar dan ada rasa tanggungjawab. Hanya saja kebanyakan orang lupa karena begitu bebasnya sehingga dengan mudah justru dirinya dibelenggu dengan rasa ketidakpuasan maupun kebencian. Lalu apa artinya kebebasan yang dimiliki tapi pada akhirnya tertap terbelenggu dengan rasa benci?
Saya mungkin lebih setuju dengan melakukan tindakan nyata untuk mengubah kondisi yang saya rasa tidak memuaskan. Memulai sesuatu yang positif dari diri sendiri akan memberikan pengaruh yang positif terhadap sekitar saya daripada jika dibandingkan dengan omelan dan ungkapan kebencian dan rasa tidak puas yang sama sekali tidak memberikan dampak positif yang nyata.
Sekali lagi, buat apa saya menggembar gemborkan kebebasan tapi jika diri saya terus menerus dibelenggu dengan rasa benci dan ketidak puasan? Dimana lagi letaknya kebebasan saya? Ironis sekali bukan? Contohnya ya orang yang di mobil tadi yang penuh dengan sticker dan gambar senjata memaki-maki presidennya karena merasa benci karena mungkin calonnya kalah, atau karena kepentingan dan kesenangan dia yang lain terancam. Rasa benci yang disalurkan dengan cara begitu hanya membuang-buang energi dan waktu lalu akhirnya kebebasan dia hilang karena terus menerus terbelenggu dengan perasaan benci yang dia pupuk sendiri.