Sudah lebih dari 2 jam saya duduk sambil memangku laptop dan berniat untuk menulis. Air mata saya terus menerus meleleh hingga ujung mata terasa perih. Bukan karena sedih, tapi karena banyak tertawa menyaksikan gurauan seorang comedian berdarah Mexico, Gabriel Iglesias. Dia memang lucu sekali. saya sudah tidak ingat berapa kali sudah saya menyaksikan show ini. Walau sudah mengenal gurauannya, tapi saya tidak pernah berhenti tertawa.
"Sudah hampir jam 11 malam. Saya harus menulis tapi tidak punya ide." Kata saya kepada Nina yang sedang bekerja di depan komputernya.
"Ya tulis aja, misalnya tentang koser kemarin." Kata Nina.
"Iya sih, tapi ga tau kenapa susah banget mau nulis satu kata cerita tentang konser itu. Kalau satu kata gak muncul, ga akan pernah selesai nulis ceritanya." Kata saya beralasan.
Memang saya sedang libur. Jadi agak santai bisa tidur lebih malam daripada jika saya harus bekerja. Tapi besok Kano bekerja pukul 6:30 pagi dan cuaca sekarang sedang dingin-dinginnya, jadi saya harus mengantar dia kemudian mengantar Nina ke kolam renang. Jadi tetap harus bangun pagi. Ya begitulah nasib, walau libur bangun harus tetap subuh hahahaa..
Eniwei, awal liburan diisi dengan semacam getaway. Minggu pagi Nina dan saya ke Denver, menginap semalam. Kano punya acara sendiri dengan teman-temannya, jadi hanya kami berdua yang ke Denver. Minggu malam kami menghadiri sebuah konser Pentatonix, A Christmas Spectacular. Itu judulnya. Pentatonix adalah group penyanyi acapella. Kami sangat menyukai karya-karya mereka yag unik karena walaupun acapella, karya mereka seperti tetap diiringi dengan musik karena salah seorang personel acapella itu adalah beatboxer, alias membunyikan suara alat musik tapi menggunakan mulutnya! Keren sekali!
Saya baru tahu kemarin malam bahwa Kevin, nama personel yang ahli beatboxer ini sebenarnya adalah lulusan Yale University, tidak tanggung-tanggung, kedokteran! Kemarin dia bahkan menampilkan karya tunggalnya menggunakan cello dan kemahirannya menggunakan mulut membunyikan berbagai bunyi alat musik, Bukan main! Standing ovation dilakukan berkali-kali oleh sekitar 18 ribu pengunjung! Ini koser yang luar biasa!
Saya tidak ingat kapan saya pertama kali mengenal Pentatonix ini. Dari dulu saya memang menyukai karya musik acapella, tapi yang ini memang sangat kreatif, unik dan luar biasa indah. Jadi saya tidak ragu menyatakan diri sebagai penggemar grup pemusik Pentatonix ini. Saya juga penyuka Barbershop Music. Ini juga bentuk acapella yang seringnya dilakukan oleh 4 orang penyanyi. Yang saya kenal baik penyanyi barbershop ini adalah Godfather nya Kano. Namanya Noel, sayang sekali Noel terkena kanker dan meninggal beberapa tahun yang lalu. Saya ingat pertama kali mendengar Noel menyanyi bersama groupnya justru di upacara perkawinan dia. Noel menikah dengan salah seorang sahabat saya yang berasal dari Jakarta. Mereka berjumpa di Hawaii. Kebetulan mereka berdua merupakan penyanyi yang mumpuni. Dari menyanyi berakhir dengan berkeluarga. Hingga sekarang setiap kali mendengar barbershop quartet, saya selalu terkenang ketika Noel bersama teman-temannya menyanyi lagu Our Father di perkawinan dia sendiri. Saya begitu terharu karena ini adalah acara perkawinan dua orang sahabat kental ditambah penampilan quartet barbershop ini sangat luar biasa.
Kembali ke konser. Saya merasa beruntung sekali diberi kesempatan menghadirinya. Ini adalah penampilan yang luar biasa. 1 jam pertama diisi dengan penampilan group pemusik yang merupakan pemenang acara The Voice kalau tidak salah tahun 2021, The Girl Named Tom. Kalau ada yang suka menyaksikan The Voice, setahu saya juga ditayangkan di Indonesia karena dulu saya pernah juga menyaksikannya. Nah group pemusik yang menjadi pemenang tahun lalu juga menyajikan penampilan yang sangat bagus, tapi tetap tidak bsia dibandingkan dengan Pentatonix dan didukung dengan keprofesionalan yang luar biasa. Panggung diberi latar bekakang dengan permainan cahaya dan dekorasi yang sangat indah. Lampu-lampu didisain seperti snow flakes. Sangat luar biasa. Saya juga beruntung mendapat tempat duduk tepat di tengah walau agak tinggi. Tapi ribuan orang lain malah jauh lebih tinggi lagi, seingat saya waktu dihitung da sekitar 5 atau 6 tingkat hingga ke yang paling tinggi dekat dengan langit-langit stadion. Di gedung ini pertandingan basket NBA, Denver Nugget selalu melakukan pertandingan. Ya, stadion ini bisa menampung hingga 20 ribu orang. Jadi menurut saya lumayan besar.
Konser bukan hal yang sering saya hadiri, Bisa saya hitung dengan jari tangan karena terus terang, konser semacam ini tidak murah. Yang pernah saya hadiri jika konser musik biasanya pemusik Jazz. Saya pernah menghadiri konser Earl Klugh, Eric Marienthal, Manhattan Transfer, David Benoit, beberapa pemusik Hawaiian, dan beberapa konser philharmonic yang menyajikan konser Natal. Minggu depan saya akan menghadiri konser Natal lagi di luar kota. Natal memang tidak dapat dipisahkan dengan musik. Nanti saya akan cerita pengalaman saya tentang ini. Sekarang saya masih diliputi ephoria konser kemarin hingga bercerita yang baik pun sepertinya susah karena tulisan saya nantinya malah akan merendahkan kehebatan acara kemarin. Hehehe..