Kalau sering baca, pernah baca esai atau minimal pernah mengenal saya, maka pasti tahu bahwa makanan adalah salah satu kegemaran saya. Nah sepertinya ini juga nyetrum ke Kano. Tujuan utama perjalanan liburan kali ini salah satunya adalah nguber makanan.
"I thought we agree that the Korean buffet we went to this afternoon was one of the best. Somehow I kinda lost the "wow" that I used to experience." Kata saya ketika kami berdua pergi menuju satu tempat untuk makan malam. Nina dan Simon tidak ikut karena mereka harus menghadiri pembukaan acara konferensi yang merupakan tujuan mereka ke Honolulu ini.
"Well, I still felt the "wow" even though It was not as great as the first time we came here. I guess our expectation is getting higher and higher through time." Kata Kano
Mungkin juga, pikir saya. Semakin kita mengalami, semakin tinggi pula tingkat ekspektasi kita. Pertama kali kami datang ke restoran Korea ini, kami begitu takjub karena kualitas daging dan bumbu yang mereka sajikan. Sekarang walaupun tetap enak tapi saya seperti kehilangan "keluarbiasaannya". Dulu mungkin kami tidak punya ekspektasi yang tinggi dan terkejut ketika mengetahui tempat ini begitu luar biasa, kini kami sudah memiliki pengetahuan yang lumayan lengkap dengan tempat ini, sehingga pandangan kami juga berubah.
Kami memang punya daftar tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Kualitas makanan laut di Hawaii memang sulit ada yang menandingi, sehingga tempat-tempat makanan laut, poke dan sushi menjadi incaran kami sejak awal disamping juga makanan Asia seperti makanan Korea, Jepang, Thailand dan Vietnam. Hawaii memang sangat kental dengan ke-Asia-annya walau merupakan salah satu dari 50 states yang ada di Amerika, di sini kami sering merasa tidak berada di Amerika sebab hampir jarang menjumpai orang kulit putih, kecuali jika berada di tempat yang paling ramai dikunjungi turis.
Kami terus ngobrol berdua sambil saya mengemudikan kendaraan. Saya begitu bersemangat dan senang karena ternyata saya masih hapal jalan-jalan di sini dan tidak membutuhkan GPS atau penunjuk jalan. Maklum saya pernah menghabiskan 10 tahun dalam hidup saya tinggal di kota ini. Makan malam yang kami tuju saat ini adalah sate Wagyu. Wagyu adalah daging sapi Jepang. Wa artinya Jepang dan Gyu artinya sapi. Kenapa begitu terkenal, karena ini merupakan daging sapi yang terhebat di dunia. Gossipnya sapi-sapi Wagyu ini sepanjang hidupnya memperoleh perawatan yang sangat spesial, ada yang berkata bahwa minumnya bir atau sake dan sebagainya yang seringkali tidak masuk akal dan dilebih-lebihkan. Ada yang bilang sapi ini juga dipijat, pokoknya mendapat perawatan bagai konglomerat hahaha . Yang saya tahu, sapi-sapi ini makan rumput biasa dan juga makanan lain yang memiliki nutrisi nomor satu. Sapi-sapi ini memang dipelihara sedemikian rupa hingga mereka stress free dan selalu bahagia. Itu kunci dari kualitas daging mereka yang sangat luar biasa. Kalau pernah lihat daging wagyu, komposisi lemak dan dagingnya begitu indah sehingga wananya tidak lagi merah tapi pink karena kualitas marble yang bukan main. Karena komposisi lemak dan dagingnya begitu luar biasa, maka dagingnya menjadi sangat amat empuk. Jangan tanya berapa harganya, sebab daging wagyu dengn kualitas supreme harganya bisa ratusan dollar per pound nya (1 pound = 453 gram).
Tempat makan yang akan kami kunjungi ini sebetulnya adalah warung kaki lima. Menu andalan mereka adalah sate Wagyu. hanya saja saya agak ragu jika daging yang mereka gunakan adalah daging wagyu berkualitas sebab harga jualnya sangat murah. Saya pernah berencana memasak daging wagyu, tapi hingga saat ini belum mnjadi kenyataan, semata-mata karena harga dagingnya yang sangat mahal. Saya hitung mungkin bisa menghabiskan sekitar 300 Dollar untuk bertiga jika ingin puas mencoba daging kualitas super ini. Mungkin suatu waktu nanti ketika situasi mengijinkan.

Kami agak kesulitan menemukan tempat parkir ketika tiba di lokasi. Untung ada seseorang yang keluar sehingga spotnya langsung saya ambil. Warung ini akan tutup kurang dari 45 menit lagi, sehingga kami harus cepat. Kemarin kami ke sini warung sudah tutup karena jualannya sudah habis, sold out. Kami tiba di sana 30 menit sebelum mereka tutup, dua orang wanita, entah keturunan Philipina atau orang pasifik, melayani kami. Saya memesan 3 porsi sate wagyu ini. 2 untuk Kano dan saya, 1 untuk dibwa pulang supaya Nina dapat merasakan.
Porsinya lumayan besar, nasi, 2 tutuk sate dan salad. Menu seperti ini merupakan suatu yang biasa ditemui. Dulu saya sering membeli steak pinggir jalan sebelum berangkat kerja. Isinya potongan steak, nasi dan juga salad. Nah ini sama seperti itu, hanya saja dagingnya berbentuk sate. Sate ini sangat khas karena setelah saya perhatikan, bukannya daging sapi yang dipotong dadu seperti halnya sate, yang ini gaging diiris tipis tipis sekali lalu ditusuk dengan sangat rapih. Sesudah dibakar, saya pegang, satu tusuk sate ini saya yakin beratnya minimal 150 hingga 200 gram. Jadi 2 tusuk beratnya sekitar setengah kilo. Di sini saya yakin bahwa ini bukan daging wagyu sungguhan. Tapi jika melihat warna daging itu, saya yakin ini daging USDA dengan kualitas baik.
Betul saja, saya ketika saya mulai menikmati, ini bukan daging wayu sungguhan. Jika pernah makan daging di restoran Yoshinoya di Indonesia, Kualitas dagingnya sedikit lebih baik dari itu, tapi bukan daging wagyu! Saya rasa ini menu yang baik, dagingnya empuk dan lembut walau saya yakin jika benar-benar daging wagyu, apalagi dipotong tipis-tipis seperti ini, maka akan jauh lebih enak dan empuk. Dagingnya sepertinya ketika dibakar diberi bumbu dasar berkecap, mirip-mirip teriyaki tapi lebih asin dan tidak terlalu manis. Lagi-lagi mengingatkan saya pada makanan Jepang Yoshinoya itu. Keharuman "dibakar" lumayan ada, walau jika memang benar-benar dibakar seperti sate, maka akan lebih enak. Ini dimasak diatas flat top. Untuk sejumlah uang yang saya keluarkan, saya tidak berkeberatan untuk kembali ke sini, tapi saya akan meminta saus pencelup yang lebih banyak dan kalau bisa salad dressingnya saya memilih yang lain.

Kano terlihat menikmati sekali makanan ini walau nasi serta saladnya tidak dia habiskan karena sebelumnya dia sudah makan 8 butir takoyaki hahaha.. Takoyaki memang snack kegemaran dia, dan dengan berada di Hawaii, tentu dia tidak akan melewatkan begitu saja, sebab oktopus di sini juga sangat segar jadi tidak serasa makan karet karena alot. Hahaha.. Sekali lagi saya merasakan kedekatan dengan Kano karena bisa pergi berdua sambil ngobrol. Malam yang menyenangkan sambil menikmati wagyu jadi-jadian hahaha...