AES #34 Life
joefelus
Saturday July 31 2021, 9:23 PM
AES #34 Life

Ada sebuah kisah dimana seorang ayah sangat khawatir dengan gaya hidup anaknya yang pemalas. Akhirnya sang ayah memutuskan untuk memberikan pelajaran agar anaknya dapat mengerti makna dan tujuan hidupnya, dia memberi anaknya sebuah tas dengan 4 potong pakaian dan sebuah peta harta karun. Sang anak begitu bersemangat dan pergi bertualang dengan tujuan memperoleh harta karun. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, sang anak pergi merantau. Di sepanjang perjalanan dia bertemu dengan orang-orang yang membantu memberikan makanan, minuman dan tempat berteduh. Akhirnya dia tiba di ujung perjalanan di tebing laut yang berbatu-batu. Berhari-hari dia menggali kesana kemari tanpa hasil, hingga akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pulang.

Anak itu berjalan pulang melalui jalan yang sama tapi lebih santai dan tidak terburu-buru. Dia menjumpai orang-orang yang sama yang membantu dia memberi makan miniman dan tempat untuk bermalam. 2 tahun kemudian dia tiba di rumah dan menemui ayahnya.

"Bagaimana perjalananmu?" tanya ayahnya.

"Perjalanannya sangat luar biasa, ayah. Tapi maafkan, saya tidak berhasil menemukan harta karun itu."

"Memang harta karun itu tidak pernah ada, anakku!"

"Lalu kenapa ayah mengirimku ke sana?" tanya anaknya.

"Ayah akan katakan kenapa, tapi ceritakan dulu bagaimana perjalananmu. Apakah kamu menikmatinya?"

"Tentu saja tidak, ayah. Saya tidak punya waktu karena takut orang lain menemukan harta karun itu. Tapi saya menikmati perjalanan pulang. Saya dapat banyak teman baru, saya mempelajari banyak ketrampilan untuk bertahan hidup. Saya banyak melihat keajaiban setiap hari. Banyak hal yang saya pelajari sampai-sampai lupa akan penderitaan hidup!"

"Begitulah anakku. Ayah ingin memperkenalkan kamu dengan tujuan hidup, tapi jika kamu terlalu terfokus pada tujuan hidup, kamu akan kehilangan kesempatan untuk mengalami dan menikmati hidup. Sesungguhnya hidup itu tidak memiliki tujuan sama sekali, melainkan menjalaninya dan bertumbuh dalam kehidupan setiap hari." (sumber tidak diketahui)

Dalam menjalani saat hening ketika saya dihadapkan dengan kondisi mood yang jelek. Saya sering merenung tentang hidup. Seperti bayak bacaan tentang Zen yang saya kadang-kadang ntip. Sejujurnya saya tidak tau Zen itu apa, dan saya tidak berusaha mencari tahu secara tuntas. Yang saya tangkap, Zen itu bukan agama, walau katanya ada biarawannya. Saya hanya ambil hal-hal yang membantu dalam menjalani keseharian saya dengan lebih berkualitas.

Cerita di atas menurut saya sangat berbau "Zen". Dalam Zenย  diajarkan agar kita enjoy the moment, tidak terburu-buru, grusah grusuh, karena kalau kita terburu-buru dan selalu sibuk mengejar sesuatu, maka kita tidak akan mampu menikmati apapun.

Zen juga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak perlu dicari secara ngoyo. Kebahagiaan ada di dekat kita dan sekarang. Jika kita tidak dapat menemukan kebahagiaan saat ini dan di sini, dimana lagi kita akan bisa menemukan? itu katanya. Temukanlah kebahagiaan itu saat ini, sekarang dan DI SINI! di tempat kita berada saat ini.

Zen memfokuskan pada proses, kebiasaan dan ritual. Seringkali kita memandang secara membabi buta pada hasil yang ingin kita capai sehingga tidak memiliki waktu untuk menjalani kehidupan dengan nikmat dan akhirnya lupa akan alasan mengapa kita berusaha mengejar tujuan itu. Alan Watts seorang ahli filsafat dari Inggris berkata," The meaning of life is just to be alive. It is so plain and so obvious and so simple. And yet, everybody rushes around in a great panic as if it were necessary to achieve something beyond themselves."

Jadi kadang kita bertanya pada diri sendiri," waktu kok cepet banget ya, tau-tau anak-anak sudah besar-besar. Kemana saja waktu selama ini?" Nah mungkin ini indikasi bahwa selama ini kita terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa untuk "hidup" dan menikmati kehidupan. Jadi benar juga nasihat para penulis yang yang pernah saya baca mengenai cara hidup zen, mereka kebanyakan berkata," Do not rush life! before you know, it will all be over!"

Saya ingat Oogway, kura-kura yang jadi master di Jade Palace di film Kung Fu Panda. Ketika dia berjalan atau meniup ratusan lilin satu-satu, sangaaaaat pelan! Oogway tidak ingin hasilnya cepat tapi menikmati satu persatu lilin yang ditiup. Ini mungkin gaya Zen! Atau juga seperti para orang tua di Jawa, selalu bilang, Ojo kesusu, mengko kleru! hmm...****

ย 

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
Posting bagus ini Jo, nuhun sudah menuliskannya - semoga jadi bahan perenungan buat kita semua. ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ˜‡
You May Also Like