Kemarin, tanggal 20 Mei sebetulnya tepat 4 tahun saya menulis di Ririungan. Tidak terasa, sebetulnya sudah kurang lebih1460 hari saya menulis setiap hari. Sayangnya dari 4 tahun itu masih banyak yang bolong-bolong, sehingga saya hanya bisa mencapai 1410 tulisan, jika ditambah dengan yang sedang saya tulis ini, maka ada 1411 buah tulisan. Memang kalau melihat angkanya terlihat fantastis, saya sendiri kadang berpikir dan menggeleng-gelengkan kepala, kok bisa ya menulis sebanyak itu. Coba bayangkan jika kita semua diberi tugas untuk menulis sebanyak, katakan saja, 100 tulisan, apa tidak malas? Dulu ketika pelajaran bahasa Indonesia ketika guru memberi tugas membuat karangan sebanyak 5 halaman saja sudah ngomel-ngomel. Betul khan?
Jika menjawab "iya" ketika ditanya apakah kita tidak senang ketika diberi tugas membuat karangan, saya merupakan salah satunya. Entah mengapa sejak SMP saya benci dengan pelajaran bahasa Indonesia, walau kemudian kecintaan akan bahasa tetap besar, buktinya di bangku kuliah saya mengambil jurusan Bahasa Inggris, sesudah itu saya juga berusaha belajar bahasa Jepang dan bahasa Spanyol. Lumayan ada beberapa semester walau kemudian karena hampir tidak pernah digunakan, kemampuan saya luluh lantah hilang entah kemana.
Bahasa itu penting, tanpa bahasa kita sulit dapat berkomunikasi dengan baik. Bahkan gerakan tubuh saja sudah dapat dianggap bahasa. Ada namanya bahasa tubuh, ada sign language untuk orang tunawicara (masih ini kah istilahnya?) Bahkan di tempat kerja saya dulu, kami merekrut kelompok disabilitas salah satunya yang tidak dapat berbicara, jadi kami harus bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Sekarang sudah menjadi hal yang umum di berbagai kegiatan publik menggunakan penterjemah dengan menggunakan bahasa isyarat. Dalam wisuda pun waktu saya di CSU di Fort Collins di dekat panggung ada beberapa orang secara bergantian melakukan bahasa isyarat agar tamu maupun mahasiswa tunawicara dan tunarungu yang diwisuda dapat ikut memahami orasi maupun jalannya upacara.
Itu obrolan tentang bahasa. Ya, tanpa bahasa saya tidak akan bisa menulis juga, bukan? Tapi ada pertanyaan penting lainnya yaitu kok bisa menulis hingga sebanyak itu? Saya juga tidak tahu kenapa, yang jelas di awal saya merasa tertantang dan berusaha menjawab tantangan itu, lalu kemudian berubah menjadi kebiasaan, menjadi rutinitas setiap hari dan akhirnya jika hari saya tanpa menulis menjadi sesuatu yang janggal, seperti misalnya laman Ririungan ini sekarang sedang ada yang janggal yaitu gambar-gambar masih belum bisa ditampilkan, @kak-andy sendiri bilang bahwa Ririungan tanpa gambar seperti sayur tanpa garam, hambar alias cemplang atau cawerang. Nah itu penjelasan saya tentang hari yang hambar jika tidak menulis. Sama seperti tidak mandi atau tidak sikat gigi, ada sesuatu yang kurang dan sesuatu yang "tidak enak" jika tidak dilakukan.
Saya juga merasakan banyak manfaat melakukan kegiatan menulis ini. Disamping menjadi peka akan banyak hal, maksudnya begini: Karena punya "tugas" menulis, maka saya berusaha mencari tema setiap hari. Nah di awal memang tidak mudah karena banyak berpikir dan memilih. Pikiran dan pilihan itu tentunya berkisar pada hal-hal yang terjadi di sekeliling saya, pengalaman hidup, pendapat, interest, dan sebagainya. Lama-kelamaan kebiasaan itu melekat dan saya menjadi lebih observant! Saya lebih bisa melihat hal-hal yang sederhana, lebih memperhatikan dengan lebih detil, hingga menjadi lebih peka terhadap banyak hal. Pertanyaannya: Kok bisa? Memang bisa, yaitu karena saya menjadi lebih jago dalam memfokuskan diri pada hal-hal yang biasanya saya abaikan. Kalau dulu banyak hal diabaikan begitu saja, sekarang bahkan seekor kupu-kupu yang terbangnya aneh karena misalnya sayapnya cidera bisa jadi bahan obrolan dalam tulisan saya. Itu satu contoh kecil, bayangkan pengalaman-pengalaman lainnya. Jadi terbayang bukan? Kalau tidak begitu, mana bisa tulisan-tulisan itu menjadi berjumlah sekian banyak.
Banyak lagi sih manfaatnya dan sudah saya sering angkat dalam banyak tulisan saya tentang manfaat menulis. Kalau saya ungkapkan lagi di sini nanti malah jadi usang karena bukan hal baru lagi. Yang pasti, saat ini saya tidak lagi berpikir terlalu rumit dalam proses menulis, dulu masih sering merasa kurang percaya diri, malu, atau bahkan ragu-ragu apakah hasilnya nanti bagus, layak atau tidak. Sekarang tidak lagi begitu, bahkan saya tidak memikirkan apakah nanti akan dibaca orang lain atau tidak. Bukan itu tujuan saya dan juga saya tidak butuh validasi orang lain tentang menulis. Yang saya butuhkan adalah kesempatan untuk dapat mengekspresikan diri secara apa adanya. Dan itu bagi saya sudah cukup dan sangat menyenangkan.
Foto credit: rmol.id