AES 972 Free Fall
joefelus
Sunday January 21 2024, 1:28 PM
AES 972 Free Fall

Jalanan sangat sepi dan berkabut. Suhu sekitar 2 digit dibawah titik beku. Dingin! Langit berawan dan kusam, sangat umum di musim dingin.

"Mudah-mudahan siang Nanti cerah ya. Sayang kalau cuacanya begini ketika berkegiatan dengan Kano. Tidak seru kalau tidak bisa melihat ke bawah dengan jelas." Kata saya.

"Kalau menurut ramalan cuaca, sebetulnya hanya sedikit berawan dan suhu sekitar -2 derajat. Jauh lebih baik dari suhu belakangan ini." Kata saya lagi.

Hari ini memang hari spesial. Kano dan saya akan melakukan kegiatan yang sedikit (atau sangat) gila. Kami berdua tidak memberitahu siapa-siapa, hanya mengatakan bahwa kami akan melakukan sesuatu yang keren.

Saya pernah menulis sesuatu tentang "mencoba" sekitar bulan Oktober kemarin? Saya memiliki banyak ketakutan dalam hidup dan selama ini selalu berusaha menanggulanginya dengan mencoba dan menantang diri. Saya memiliki ketakutan jika keluar dari zona nyaman yang mengekspos diri saya terhadap sebuah ketidakberdayaan. Saya punya banyak rahasia yang tidak diketahui orang lain, seperti misalnya butuh waktu sangat lama hingga saya berani mengendarai sepeda motor! Hahaha.. Ketika berada di luar zona nyaman, ada keengganan atau lebih tepat ketakutan yang menghalangi saya untuk mencoba. Tapi dengan berjalannya waktu dan berkembangnya kedewasaan serta kematangan, saya juga belajar bahwa mencoba adalah kata kunci yang dapat mengubah segala sesuatu. Anak kampung yang hidup dalam kondisi serba keterbatasan, biasanya memiliki hambatan untuk mengaktualisasi diri, minder, takut tampil di depan umum, dan sebagainya. Nah itu saya di masa lalu. Tapi dengan mencoba, segala sesuatu kemudian berubah.

Kita juga cenderung terlalu memandang rendah pada diri sendiri! Itu hal lain yang saya pelajari. Potensi tidak akan pernah dapat berkembang jika dipendam dalam-dalam. Keindahan tidak akan dapat terpancar dan dinikmati orang lain jika ditutupi dengan kain terpal hitam atau disimpan dalam kotak dan ditaruh disudut jauh dari pandangan orang lain, bukan? Untuk bisa berkembang kita harus berani keluar dan membuka diri.

Eniwei, hari ini saya akan mencoba menantang diri menghadapi rasa takut. Saya pernah cerita bahwa salah satu ketakutan yang saya miliki adalah soal ketinggian, dan saya punya keinginan yang ada di dalam bucket list yaitu skydiving, terjun bebas dengan menggunakan parasut. Nah beberapa bulan yang lalu saya pernah tanya pada Kano apakah dia tertarik untuk terjun payung. Tanpa rasa ragu dia mengiyakan. Awal bulan saya langsung booking spot untuk terjun, yaitu hari ini.

Butuh sekitar 50 menit untuk menuju lokasi yang berada di luar kota, sekitar 44 miles, atau 70km dari Fort Collins. Ada beberapa pesawat kecil di sana, saya sangat awam soal pesawat terbang, kemungkinan sejenis Cessna, sejenis pesawat dengan single engine.

"Are you jumping today?" tanya seseorang yang bertugas di sana.

"We are." Jawab saya.

Saya perhatikan ada beberapa penerjun yang sibuk melipat parasut. Kami langsung diajak ke kantor dan mengisi formulir, lalu mulai bersiap-sap dengan memakai harness sambil diajari apa saja yang harus dilakukan. Kano dan saya akan terjun dengan tandem, artinya kami masing-masing akan "menempel" pada seorang instruktur.


Bayangkan saja, saya seorang yang sangat takut akan ketinggian, tiba-tiba nekad daftar untuk terjun. Kami akan naik pesawat kecil hingga diketinggian 9000 kaki di atas permukaan tanah, jadi jika dihitung dari permukaan laut, maka sekitar 14000 kaki tingginya, karena kota La Salle tempat kami terjun berada hampir 5000 kaki di atas permukaan laut. 14000 kaki itu setara dengan 4200-an meter. Terus terang sejak bangun pagi saya seperti orang kebingungan. Tidak ada perasaan takut, tidak cemas, dan tidak ada perasaan negatif sama sekali. Yang saya rasakan adalah excitement dan perasaan lain yang tidak bisa dijelaskan dan tidak saya mengerti. Sudah tidak terhitung berapa kali saya naik pesawat terbang, tapi belum pernah naik pesawat sekecil ini. Yang saya sadari, sesudah harness dipasang, tidak ada lagi kata mundur. Apalagi sudah duduk di dalam pesawat yang sempit ini, satu-satunya jalan keluar adalah melompat. Dengan kata lain, sudah terlanjur, tidak bisa tidak, mau tidak mau saya harus. Apalagi Kano masuk pesawat terlebih dahulu, duduk di lantai menghadap ekor pesawat, lalu Cody, instruktur Kano, kemudian saya dan Blair, instruktur saya duduk dibelakang. Kami berdua persis di dekat pintu. Jadi saya harus lompat terlebih dahulu. Nanti begitu pintu dibuka, kaki instruktur saya keluar sebelah, lalu dua kaki saya, disusul kaki instruktur saya yang sebelah lagi dan lompat. Itu skenarionya. Kemudian baru Kano dan Cody. Jadi saya tidak punya pilihan kecuali nekad! hahahaha


Ini sebuah kegiatan yang membuat saya kehilangan kata-kata. Ada yang bilang ini adalah adrenaline rush, tapi sesungguhnya saya sama sekali tidak dapat menggambarkan apa yang saya rasakan ketika melompat dari pesawat yang katanya dengan kecepatan 120 mph (192 km/jam) jatuh ke bawah. Sepersekian detik saya merasa semangat saya hilang entah kemana, tapi sepersekian detik kemudian saya sadar bahwa saat itu sedang jatuh. Udara winter yang sangat dingin menerpa wajah dan bagian dada saya seperti ada yang menekan dari bawah. Tidak ada rasa takut sama sekali dan orientasi saya pada jarak dimana saat itu saya berada dengan tanah pun sama sekali tidak jelas. Sepertinya ketika kita sedang tidur dan bermimpi jatuh lebih menakutkan daripada saat sungguh-sungguh terjun. Ketika otak saya mulai berusaha mencerna tiba-tiba tubuh tersentak tertarik ke atas, itu adalah saat payung mengembang dan kecepatan jatuh pun seketika menghilang. Saya seketika merasa lega. Tapi ternyata itu belum apa-apa. Yang saya pikir kengerian itu sudah berakhir ternyata salah besar. Instruktur saya bertanya,"How was it?" Saya jawab dengan semangat,"It was awesoooooomeee!" dan mulailah dia menggerakkan payung.. berputar putar lebih mengerikan daripada roller coaster sebab ada kalanya saya berada di atas dan payung dibawah.. saya hanya bisa berteriak "Oh ..Noooo" dan itu terjadi berulang-ulang.

"You know that we could hear you screaming?" Kata Nina ketika semuanya sudah usai.

"Huh?" kata saya bingung.

Ternyata memang suara di atas itu bisa terdengar dari bawah. Saya sama sekali tidak tahu itu. Seandainya saya tahu, tentunya akan sedikit lebih jaim. Malu dong saya teriak-teriak ketakutan dan puluhan orang yang dibawah ikut mendengar dan menikmati pertunjukkan orang yang ketakutan di atas. Hahahaha..


Entah berapa lama kami melayang-layang di udara. Jarak antara saya dan permukaan tanah masih tidak terlalu jelas karena kami terbang diatas padang yang sangat luas, entah berapa ribu hektar luasnya. Mungkin jika di bawah banyak pohon atau rumah, saya akan punya orientasi yang lebih jelas. Yang saya perhatikan adalah permukaan tanah yang menguning dan sebagian besar tertutup salju. Ketika berada di pesawat saya bisa melihat pegunungan Rocky Mountain yang indah panjang menjulang beribu-ribu kilometer, katanya panjangnya hampir mencapai 5000 Km. Mungkin karena ini kali pertama saya terjun, sehingga saya lebih tercekam dengan perasaan bingung daripada menikmati pemandangan.


Mungkin ini menjadi salah satu petualangan tergila seumur hidup saya. Satu kegiatan yang ada dalam bucket list saya sudah bisa dicoret. Saya sebetulnya tidak benar-benar mempunyai bucket list, Tidak pernah menulis daftar apa saja yang saya ingin lakukan dalam hidup ini. Skydiving lebih menjadi ide spontan ketika bulan Oktober kemarin saya merenung dan menulis tentang usaha saya untuk "mencoba" dalam upaya menanggulangi rasa takut. Ide spontan ini mendapat sambutan Kano sehingga akhirnya terwujud. Ini memang hari yang luar biasa, hingga saat ini saya masih merasa surreal masih belum percaya bahwa saya pernah melakukan kegiatan segila ini. Tapi memang keren sih dan sepertinya menjadi salah satu yang pernah saya lakukan dan tidak akan dapat dilupakan.


Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Whoa. This is really amazing! πŸ‘πŸ»πŸ˜ƒπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ. Very cool! Congrats Joe!
joefelus
@joefelus   2 years ago
Terima kasih kak Andy :)
You May Also Like